Menjadi Orang Tua itu Rumit (Juga Menjadi Guru)

Saya dan si Sulung

Saya dan si Sulung

Kira-kira seminggu yang lalu saya mendapat surat dari sekolah anak sulung saya. Isinya mengundang saya hari ini untuk menghadiri acara pembagian hasil ulangan tengah semester dan tes pengendali mutu. Terus terang tiap kali mendapat surat dari sekolah, saya selalu deg-degan. Bukan. Bukan karena hasil belajar anak saya yang suka-suka terpuruk di daerah bawah, tapi karena was-was menanti apa keluhan guru-gurunya yang akan dicurhatkan dengan separuh menuduh separuh menyuruh saya. Separuh menuduh mengapa saya tidak bisa mengultimatum dia supaya mau mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas di sekolah. Separuh menyuruh saya untuk bertindak lebih ketat mendorong-dorong dia belajar lebih rajin lagi.

Ini soalan yang berat rumit buat saya. Kalau ibunya bisa sekolah sampai ke negara sana-sana dengan pencapaian akademik yang bisa mengharumkan nama bangsa (halah!), mengapa anaknya tidak ketularan kecemerlangan ibunya? Belum lagi kalau prestasi belajarnya dihubung-hubungkan dengan profesi ibunya yang notabene adalah seorang guru. Lah ibunya saja guru, kok tidak bisa mendidik anaknya sehingga si anak menjadi juara kelas di semua bidang pelajaran?

Apologi saya sejak dia bersekolah di TK, SD, sampai SMP sama saja: anak saya itu berbeda cara belajarnya. Dibutuhkan pengertian dan kesabaran tingkat dewa untuk memahami bahwa cara-cara pengajaran di sekolah-sekolah Indonesia yang serba menguntungkan anak-anak yang gaya belajarnya auditori (alias mendengarkan) dan kinestetik (alias mengerjakan), tidak begitu mudah diikuti oleh anak saya yang visual (alias melihat). Belum lagi dia itu hanya akan memperhatikan hal-hal yang disukainya. Kalau tidak disukai, boro-boro dia mau memperhatikan. Yang ada adalah pikirannya melayang-layang melamun entah memikirkan game yang ia sukai, atau segala sesuatu tentang alam semesta (Ibuk, Ibuk tahu nggak? Paus itu kalau tidur matanya cuma merem sebelah!)

Kita semua yang berstatus orang tua tahu, betapa tidak mudahnya menjadi orang tua. Tidak ada sekolah yang mengajarkan ketrampilan menjadi orang tua. Memang ada buku-buku tentang menjadi orang tua yang bisa dibaca. Memang bisa bertanya kepada yang sudah jadi orang tua lebih lama. Tapi kita toh juga menyadari bahwa setiap anak itu berbeda-beda. Bahkan ketika kita punya beberapa anak yang lahir dari orang tua yang sama dan hidup di lingkungan keluarga yang sama, tidak ada satu pun dari anak-anak kita yang sama. Si Sulung saya adalah anak yang penyayang, penuh rasa belas kasih, suka membaca segala informasi di wikipedia; sedangkan adiknya adalah anak yang suka segala kegiatan fisik dan sudah tampak sifat pemberontaknya di usia masih balita.

Makanya kita suka tidak terima ketika guru anak kita di sekolah menuduh anak kita tak mampu secara akademik. Makanya kita suka sebel kalau ada orang yang mengkritisi anak kita dengan sok tahu. Siapa yang lebih tahu soal si anak? Ibunya yang mengandung dia sembilan bulan sepuluh hari, mengalami segala naik turun perkembangannya, dan bahkan tidur bareng dengan si anak sampai ia lulus SD? Atau guru-gurunya yang cuma bersinggungan dengan si anak selama beberapa jam per minggu?

Tapi karena orang tua terlalu dekat dengan si anak dan terlalu sayang pada si anak, mungkin ada hal-hal yang terlewat dari perhatian si orang tua. Orang Jawa bilang “anak kuwi kencana wingka”. Kencana berarti emas, wingka berarti pecahan genting. Walaupun si anak itu tampilan sebenarnya adalah seperti pecahan genting yang sudah pecah dan bahkan tidak utuh lagi, bagi orang tua si anak tetaplah terlihat seperti emas. Harus disadari bahwa kadang-kadang orang lain bisa lebih obyektif menilai si anak. Sebagai seorang guru, saya kadang-kadang menemukan orang tua yang tidak menyadari bahwa dalam bidang-bidang tertentu si anak tidaklah sempurna, bahkan bermasalah. Yang lebih sebel lagi adalah bahwa kadang-kadang orang tua tidak mau tahu dengan kelemahan-kelemahan si anak, dan lalu menyalahkan si guru. Repot kan kalau antara orang tua dan guru berantem tentang siapa yang lebih paham si anak?

Filosofi saya dalam soal mendidik sederhana saja: tiap orang punya potensi tapi tidak ada seorang pun yang sempurna. Dalam soal anak saya dan murid-murid saya, saya selalu berusaha mencari hal-hal di mana mereka bisa bersinar dan berprestasi, tetapi saya pun mafhum akan keterbatasan-keterbatasan mereka. Bagaimana mungkin saya memaksa anak saya mendapat nilai sempurna dalam semua mata pelajaran, ketika saya paham bahwa ia sangat tidak berbakat dalam mata pelajaran matematika. Atau karena ia jarang berbicara dalam bahasa Jawa di rumah, ia akan sangat susah payah menggunakan bahasa Jawa tingkat krama dengan fasih. Saya saja dulu cuma dapat rata-rata nilai 6 dalam mata pelajaran matematika! (oh, dan saya baik-baik saja sekarang meskipun tidak paham buat apa itu pelajaran soal Integral dan Kalkulus buat kehidupan sehari-hari 🙂 )

Sekarang tantangan saya soal anak saya cuma satu: membantu dia mencari potensi dirinya dan mengarahkan dia untuk belajar di bidang-bidang yang sesuai dengan potensinya. Sampai kelas 6 SD, ia yakin pasti ingin jadi supir bis. Enam bulan yang lalu, ia ingin jadi desainer roket pesawat antariksa. Dua minggu yang lalu ia ingin berkarir di bidang bahasa Inggris, seperti saya. Sepulang dari mengambil rapot tadi ia masih bingung mau melanjutkan ke SMA mana (oh iya, dia baru kelas dua SMP tapi sudah bingung soal SMA). Sebulan dua bulan, setahun dua tahun lagi, entah kapan ia akan bisa menemukan bidang yang diinginkannya. Semoga saja akan segera ketemu (amin!)

Singkatnya, dalam soal menjadi orang tua, tidak ada satu pendapat pun yang sahih yang patut diikuti mentah-mentah, karena tiap anak  berbeda-beda. Orang tua punya pendapat. Guru, tetangga, teman, kolega, sampai kakek neneknya juga punya pendapat masing-masing. Kalau saya, saya akan pakai logika yang dibarengi dengan intuisi dan perasaan juga, tetapi dengan selalu mengedepankan kasih sayang. Jangan lupa juga bahwa menjadi orang tua itu semacam menjadi peneliti di laboratorium: perlu proses trial and error hingga diketemukan breakthrough dan eureka moment.

Buat anak kok coba-coba? Iya. Iya banget. Karena memang prosesnya begitu. Iya, kan, Bapak Ibu? (Yang setuju boleh komentar lho 🙂 )

Advertisements

5 comments

  1. That’s why i love teaching. Anak-anak saya adalah anak by birth, mahasiswa adalah anak-anak saya by heart. Saya menghargai potensi mereka, yang tentu berbeda satu sama lain. They’re unique. It’s not fair to compare them to anyone.

    Like

  2. Anda berdua benar, soal anak tdk sprti prestasi ortunya itu bnyak faktor. yg penting sabar memberi motivasi dan jangan lupa berdoa utk mereka. mungkin itu ya mbak..salam persahabatan dr saya di Dompu-NTB

    Like

    1. Salam kenal, Pak Syamsuddin!

      Memang terkadang terasa sulit ketika ada tekanan dari orang lain ketika anak saya tidak secemerlang saya. Pun tekanan dari prestasi teman-temannya. Tapi saya setuju dengan Bapak bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi itu. Terima kasih dukungannya, Pak!

      Liked by 1 person

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s