Cock-a-hoop vs. Humble Brag

Cock-a-hoop.

Saya menemukan kata ini secara tidak sengaja ketika berjalan-jalan di laman Merriem-Webster, penyedia layanan kamus Inggris monolingual favorit saya. Secara sederhana, kata ini bisa diterjemahkan sebagai kesombongan atau penampakan kegembiraan yang berlebihan atas suatu pencapaian.

Membaca definisi kata ini, saya langsung teringat perilaku yang semakin kerap saya dapati di asupan berita (newsfeed) di Facebook maupun linimasa (timeline) di Twitter. Ada yang berbagi berita pencapaiannya secara halus (biasanya disebut humble brag), ada pula yang secara meluap-luap berbagi, lengkap dengan tanda seru berkali-kali dan foto-foto pendukung. Media sosial tampaknya menjadi habitat cock-a-hoop yang paling subur karena mampu menjadi penyampai berita kapan saja, di mana saja; dalam bentuk audio, teks, maupun video. Semakin subur pulalah habitat ini karena tersedia mekanisme interaksi, sehingga jiwa-jiwa yang butuh pengakuan akan segera mendapatkan pengakuan dan puja-puji dalam bentuk jempol maupun komentar.

Sulit memang membedakan di media sosial mana yang berbagi kebahagiaan dan mana yang berupa kesombongan.

Saya pun tidak bisa seratus persen menyatakan bahwa saya tidak pernah menyombongkan diri di media sosial. Anda bisa saja memeriksa akun-akun media sosial saya dan menemukan bentuk-bentuk kesombongan diri yang beraneka rupa (ha!). Namun saya mencoba untuk tidak mempublikasikan pencapaian-pencapaian saya secara terbuka. Saya memilih untuk menuliskannya secara halus (misalnya cerita saya lebih fokus pada acara konferensi lima tahunan tingkat dunia itu daripada fakta bahwa saya terpilih untuk presentasi di konferensi itu, errrr kedengaran sombong juga ini yak?), membiarkan orang lain yang mempublikasikannya untuk saya (misalnya video acara pembacaan puisi di panggung teater terbesar negeri ini itu dipublikasikan oleh sahabat saya yang kebetulan ikut menonton — eh, ini sombong juga ya hihihi), atau memasukkan foto-foto perjalanan ke luar negeri di sebuah album tanpa subyek yang menyebut nama negaranya sama sekali dan foto-foto yang ada penanda tempatnya (macam papan nama tempat gitu) diselipkan di tengah-tengah album dan foto sampul album memakai foto yang kelihatannya diambil bisa di mana saja bahkan di Indonesia. Semoga saja yang membaca dan melihat tidak menganggap tulisan atau publikasi saya itu sebuah cock-a-hoop ya?

Saya kira kuncinya adalah selalu bertindak hati-hati agar tidak menyinggung orang lain dan publikasi pencapaian dalam takaran yang tepat karena media sosial menawarkan lebih banyak cara untuk berbagi, sehingga ada lebih banyak kesempatan untuk menampakkan kesombongan yang berlebihan atas suatu pencapaian.

Jadi publikasimu di media sosial termasuk cock-a-hoop atau humble brag?

Advertisements

4 comments

    1. pencitraan atau representasi diri di medsos sih hak semua orang, tapi caranya jangan lebay ke tingkat cock-a-hoop yang aduhai bikin muntah-muntah dong yak 🙂

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s