Resolusi Tahun Baru

Resolusi Anak Lanang Tercermin di Lukisannya Ini

Resolusi anak lanang tercermin di lukisannya ini. Idealis sekali bukan?

Bulan Desember tiba. Perayaan terbesar di bulan ini tentu saja adalah perayaan natal, dan lalu akan disusul oleh perayaan tahun baru. Satu tahun berlalu sudah. Tahun yang baru dimulai.

Saya tak ingin menulis tentang perayaan natal dan ‘keributan perdebatan’ yang selalu sama menjelang perayaan natal: boleh atau tidaknya umat Islam mengucapkan selamat natal kepada kaum kristiani. Sudah cukup saya menuliskannya di blog saya beberapa tahun yang lalu (ini tentang ucapan selamat Paskah sih, tapi intinya sama saja). Buat saya pilihannya teramat jelas: saya akan mengucapkan selamat natal kepada keluarga dan teman-teman yang menganut agama kristen dan katholik. Alasannya sederhana: perbedaan itu adalah keniscayaan dari Tuhan dan tidak ada yang lebih membuat saya bahagia daripada turut berbahagia bersama keluarga dan teman-teman saya, termasuk ketika mereka berbahagia merayakan hari raya agama mereka.

Alih-alih menulis tentang natal, saya akan menulis tentang resolusi tahun baru. Ah, ya, ini juga tema yang ‘pasaran’ menjelang tahun baru. Setiap orang biasanya punya hal-hal yang ingin ia perbaiki di tahun yang baru. Tak ada salahnya kan memulai tahun yang baru dengan keinginan positif untuk memperbaiki kualitas hidup?

Saya tentu saja punya beberapa resolusi tahun baru. Sebagai ibu tunggal, saya tidak punya resolusi khusus soal menjadi orang tua karena saya rasa pola hubungan dan interaksi saya dengan anak lanang baik-baik saja. Mungkin saya akan memperbaiki kuantitas pertemuan kami, karena akhir-akhir ini saya merasa bahwa waktu saya lebih banyak saya habiskan dengan mas patjar atau urusan-urusan kantor. Tak ada resolusi yang khusus pula untuk mas patjar, karena saya merasa hubungan kami tenang-tenang saja. Walaupun ada pertanyaan dan ‘tuntutan’ publik untuk kami melangkah ke tahap yang lebih serius, secara umum kami tak merasa bahwa selembar kertas akta pernikahan adalah hal yang mendesak. Buat kami lebih penting untuk memantapkan kesamaan visi dan misi dari hubungan kami sehingga kami lebih saling memahami dan nyaman satu sama lain, daripada memformalkan hubungan kami secara hukum.

Dalam soal-soal yang lebih publik, saya merasa betul-betul kacau di pekerjaan semester terakhir ini. Begitu banyak tanggung jawab yang terbengkalai dan tidak saya kerjakan dengan serius, karena saya lebih nyaman menggumuli kegiatan-kegiatan berbagai komunitas. Iya, iya, saya juga terlalu nyaman menghabiskan waktu dengan mas patjar dan anak lanang. Namanya juga pasangan baru #uhuk. Untuk itu, resolusi tahun barus saya adalah menata lagi pengelolaan waktu saya sehingga semua urusan pekerjaan, komunitas, dan pribadi bisa terselesaikan dengan lancar dan baik.

Mulai tahun baru nanti, saya dan Jalu akan tinggal di kediaman kami yang baru. Ini babak baru dalam kehidupan kami di Salatiga. Sebelumnya kami selalu tinggal bersama orang tua saya atau dulu tentu saja dengan mantan. Saya harapkan kami akan punya kehidupan yang menyenangkan di tempat yang baru. Selain itu, saya memantapkan diri untuk mencoba lagi peruntungan saya dalam mendapatkan beasiswa untuk sekolah dan belajar lagi di luar negeri. Semoga harapan-harapan kami tahun depan dapat terwujud. Amin!

Itu resolusi-resolusi saya di tahun yang baru nanti. Apa resolusi tahun baru Anda?

Advertisements

2 comments

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s