Kita Kenal di Mana ya?

“Di mana saya kenal orang ini ya?”

Itu adalah pertanyaan yang muncul di pikiran saya ketika ditanyai oleh Mas Patjar yang menemukan bahwa saya berteman dengan seseorang di Facebook. Kebetulan Mas Patjar ngefans dengan si orang ini karena si orang ini sekarang sudah jadi selebriti di kalangan perkulineran dan pertatoan di Indonesia. Jadi agak berasa banggalah saya bahwa si orang ini adalah teman saya di Facebook. Tapi terus terang, saya cuma familiar dengan namanya, tanpa pernah bertemu langsung dengan orangnya. Usut punya usut, sejarah pertemanan kami di Facebook menyatakan bahwa kami berteman sejak 2008. Kami juga berbagi teman-teman yang sama yang rata-rata adalah aktifis di bidang sosial dan kebudayaan. Nah, biasanya kalau saya harus mengingat-ingat siapa dia, kasusnya adalah dia duluan yang menambahkan saya di Facebook. Jadi agak-agak GR juga saya sekarang karena orang sekaliber dia menambahkan saya di Facebook beberapa tahun yang silam ketika dia masih belum menjadi selebriti.

Bicara soal pertemanan di Facebook, saya memang punya beberapa ribu teman di Facebook, tapi saya boleh bilang bahwa pola saya bermedia sosial tentu saja tidak semata-mata mengejar kuantitas banyaknya teman di Facebook. Tentu saja ada orang-orang yang bangga bahwa di Facebook mereka punya beribu-ribu teman yang mengisyaratkan bahwa mereka begitu populer di dunia maya, hingga ada orang-orang yang main menyetujui permintaan pertemanan dari orang-orang yang bahkan mereka tidak kenal demi mengejar popularitas di dunia maya. Media sosial memang menjadi alat yang mudah untuk menambah popularitas diri. Misalnya saja, ada beberapa pengguna Twitter yang bangga ketika akunnya diikuti oleh beberapa ribu orang. Siapa sih yang lubang hidungnya tidak mengembang mengempis bangga ketika dikomentari “ciyeeee, ciyeeee, kamu sekarang seleb ya! Followermu udah satu juta!” (OK, ini saya lebay!)

Semua orang butuh berhubungan sosial dengan orang lain, karena selain setiap manusia adalah makhluk sosial yang punya kebutuhan untuk bersosialisasi, hubungan-hubungan macam ini dipercaya membawa manfaat-manfaat tertentu. Menurut teori Social Capital yang dicetuskan oleh Bourdieu (1986, dalam Paxton, 2002), setiap orang/kelompok dapat mengambil manfaat dari hubungan-hubungan yang mereka jalin, dalam bentuk informasi yang berguna, hubungan-hubungan pribadi, atau dalam hal kapasitas untuk mengelola kelompok. Hubungan-hubungan ini dianggap sebagai modal sosial (atau bahasa Inggrisnya, social capital), yang menurut beberapa studi dipercaya meningkatkan kapasitas pribadi seseorang (lihat misalnya studi-studi yang dilakukan Kor dan Mesko, 2013; Tomai dan sejawat, 2010; Cao, Lu, Dong, Tang, dan Li, 2013; dan Tamam, 2013).

Di masa lalu, ketika belum ada media sosial, ada dua jenis modal sosial yang dicetuskan teori ini: bonding dan bridging social capital. Bonding social capital adalah modal sosial yang didapatkan dari hubungan-hubungan yang secara emosional lebih pribadi (misalnya antar anggota keluarga dan teman), sementara bridging social capital lebih mengarah pada hubungan yang nir-emosi dan dijalin karena ada kebutuhan untuk terhubung dalam urusan-urusan yang tidak pribadi (misalnya antar teman sekantor, sekomunitas, atau dengan nara sumber tertentu — selebritis termasuk di dalamnya). Di masa sebelum adanya media sosial, pengelompokkan hubungan sosial relatif lebih mudah dilakukan karena tingkat sering bertemu secara tatap muka akan mempengaruhi manfaat modal sosial mana yang akan diraih. Semakin sering bertatap muka dan beinteraksi, sebuah hubungan akan menjadi lebih pribadi dan emosional, sehingga bonding (atau kelekatan) akan semakin erat. Sedangkan hubungan yang bersifat bridging atau menjembatani, didapatkan dari interaksi yang bersifat transaksional tanpa emosi, yang bisa didapat tanpa harus sering-sering bertatap muka atau lewat media tertulis, misalnya surat-menyurat, telepon, dsb.

Di masa kini, di mana komunikasi tidak melulu dilakukan secara tatap muka dan komunikasi tertulis bisa dilakukan dengan lebih mudah dan cepat melalui penggunaan tehnologi, batas antara bonding dan bridging social capital semakin mengabur. Seorang teman yang jarang bertatap muka dan di masa lalu semasa SMA bukan merupakan orang yang secara emosional dekat dengan kita, bisa menjadi sangat akrab di masa kini, karena sering saling bertukar komentar di dinding Facebook. Di masa di mana media massa dan sosial mudah diakses, kita bisa secara mudah pula mendapatkan akses pada kehidupan pribadi seorang selebriti karena hampir setiap saat si selebriti mengungkapkan perasaan/pandangan pribadinya lewat cuitan Twitter, mengunggah foto di Instagram, menginformasikan di mana ia berada di FourSquare, dan kita pun bisa dengan serta merta mengomentari dan, kalau si selebriti berkenan, kita bisa seakan-akan bercakap-cakap secara ikrib bingit, eh, akrab banget, dengan beliau. Kaburlah batas antara yang pribadi dengan yang tidak pribadi, antara hubungan yang emosional dengan yang transaksional.

Tidak dipungkiri memang bahwa sebuah hubungan yang awalnya tidak pribadi dan transaksional yang melulu demi kepentingan-kepentingan “profesional” kemudian berkembang menjadi lebih pribadi dan emosional. Saya rasa itu adalah hal yang wajar dalam berkembangnya sebuah hubungan dan sah terjadi karena orang-orang tertentu kemudian dirasa cocok kepribadiannya dengan diri kita. Dalam kehidupan dunia nyata pun ada beberapa teman kantor atau (mantan) mahasiswa yang kemudian berkembang menjadi sahabat-sahabat saya yang dekat secara emosional. Hal ini kemudian berpengaruh pada perilaku saya dalam menerima pertemanan di Facebook. Meskipun teman saya di Facebook beberapa ribu banyaknya, sekitar 80% dari jumlah itu itu adalah orang-orang yang saya kenal secara pribadi, atau pernah bertatap muka dalam berbagai kegiatan, atau minimal pernah berdiskusi dan bertukar pikiran secara pribadi dengan saya  melalui jalur komunikasi dunia maya. Dalam kasus-kasus ini, saya berteman dengan mereka karena alasan-alasan untuk mendapatkan bonding social capital. 20% sisanya barulah saya berteman karena saya punya kepentingan-kepentingan bridging social capital: untuk bertukar atau mendapatkan informasi, atau karena berteman dengan teman-teman saya di bidang tertentu sehingga saya harap si temannya teman ini bisa menambah jaringan saya, yang pada akhirnya memberikan keuntungan-keuntungan tertentu.

Jadi maaf saja, kalau saya agak pilih-pilih ketika dihadapkan pada permintaan pertemanan di Facebook atau LinkedIn (yang jumlahnya sudah ratusan itu), atau kalau diminta mengikuti balik (atau istilah kerennya: follback) di Twitter. Kalau saya tidak kenal namanya, tidak pernah berkomunikasi, bukan teman dari teman-teman yang sudah saya kenal, apalagi memakai nama yang alay tidak jelas, saya tidak akan mengabulkan permintaan pertemanannya.

Eh, tapi ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya saya kenal kamu ya? (Dan pertanyaan saya di awal tulisan ini belum terjawab juga… #duh)

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s