“I Stand on the Right Side”… Really?

AVA dukungan Intan Jeanie

AVA dukungan Intan Jeanie

Beberapa hari ini beberapa orang di media sosial ramai-ramai mengganti AVA-nya dengan gambar yang mendukung salah satu pasangan calon presiden-wakil presiden. Tidak ada masalah sih dengan hal ini, wong masa kampanye sudah resmi dimulai beberapa hari yang lalu dan orang tentu bebas mau mendukung capres yang mana. Patut dicatat pula, saya tidak bermaksud berkampanye untuk salah satu capres. Buat saya, kampanye untuk pemilihan presiden tahun ini sudah sampai pada tahap yang berlebihan, bahkan mengganggu, saking riuh rendahnya, sehingga saya memutuskan untuk tidak membahas pemilihan presiden di akun media sosial saya.

Tapi, terlepas dari riuh rendahnya kampanye, yang membuat saya terganggu tiap kali melihat gambar dukungan itu adalah penggunaan bahasa Inggrisnya. Contohnya seperti gambar di samping ini. Bukannya mau sok tahu soal bahasa Inggris, tapi bolehlah saya membagi sedikit dari apa yang saya pelajari secara disiplin ilmu selama beberapa abad dasawarsa terakhir ini.

Jadi ada masalah apa dengan penggunaan kalimat “I stand on the right side” di gambar tersebut?

Kalau dilihat sekilas, tidak ada yang salah dengan penggunaan kalimat tersebut. Secara lugas, kalimat tersebut bisa diterjemahkan menjadi “Saya berdiri di pihak yang benar.” Dengan pencitraan sang capres yang dianggap punya rekam jejak yang “benar” dan bersih dari kasus hukum dan politis serta prestasi di bidang pemerintahan yang relatif mengesankan, maka capres tersebut dianggap berada di pihak yang benar. Sehingga ketika orang mendukung capres itu, orang berasumsi bahwa dia berada di pihak yang benar.

Tapi tunggu dulu. Ini kan persoalan penggunaan bahasa Inggris dalam slogan kampanye tersebut. Jadi, saya melakukan survei kecil-kecilan di akun Facebook saya. Intinya saya menanyakan apakah kalimat itu sudah tepat secara tata bahasa Inggris, terutama dari segi sintaksis (aturan berbahasa) dan semantik (makna kata). Hasilnya? Beberapa teman menanggapinya dengan serius dan melakukan analisis yang menarik mengenai hal itu. Sebagai informasi, para penanggap terdiri dari penutur asli maupun penutur asing bahasa Inggris. Tiga penanggap yang penutur asli adalah pemegang gelar Ph.D. di bidang bahasa Inggris. Satu penutur asing bergelar Ph.D. juga tapi di bidang sosiologi dan saat ini bermukim di Singapura yang bahasa resminya adalah bahasa Inggris. Jadi boleh dibilang, hasil analisis mereka cukup sahih untuk dirujuk.

Ada dua persoalan yang bisa dibahas dari kalimat “I stand on the right side.” Yang pertama dari segi sintaksis atau aturan berbahasa, terutama dari penggunaan preposisi ON. Pada dasarnya kata ON bukanlah satu-satunya pilihan preposisi yang bisa dipakai. Kata FOR, WITH, dan BY bisa pula dipakai. Tapi tentu saja ada perbedaan arti ketika preposisi yang berbeda yang dipakai.

Kata ON dan BY bersifat spasial atau berhubungan dengan tempat. Jadi kalimat “I stand ON the right side” memang bisa diartikan sebagai “Saya berdiri DI sisi kanan atau sisi yang benar” sedangkan kalimat “I stand BY the right side” berarti “Saya berada DI SEBELAH sisi yang kanan atau yang benar”. Hal ini diamini oleh Amy-Michelle Durston, Rita Padawangi, dan Lauren Zentz. Tapi menurut Lauren (yang dosen bahasa di Amrik sono), dia lebih setuju dengan pemakaian kata STAND WITH yang artinya berdiri bersama, karena konteksnya adalah dukungan kepada capres dan bukan semata-mata tempat di mana si pendukung berdiri. Okelah, berarti memang penggunaan kata ON itu adalah salah variasi penggunaan saja. Boleh saja kemudian orang memakai kata BY atau WITH. Namun sekali lagi, menurut Lauren, WITH menjadi pilihan yang lebih tepat dibandingkan ON.

Yang lebih memusingkan lagi adalah dari segi makna kata. Bahasa Inggris mengenal konsep dua kata yang berbeda yang jika digabungkan maka artinya akan menjadi sama sekali berbeda. Kata STAND berarti BERDIRI, kata ON berarti PADA atau DI. Karena ini adalah soal dukungan kepada capres, kata yang lebih tepat untuk dipakai adalah kata STAND FOR yang ketika dilihat sebagai gabungan kata akan berarti MENDUKUNG. Ini diamini oleh Timothy Daun, Claire Bradin-Siskin, dan Christian Situmorang. Dengan begitu, tepat kan kalau kata STAND FOR itu dipakai sebagai slogan untuk mendukung salah satu capres?

Sudah bereskah urusan penggunaan bahasa Inggris dalam kalimat ini? Oh, tentu saja belum selesai. Ketika bicara soal makna kata, mari kita cermati semua kata yang dipakai dalam kalimat “I stand on the right side”. Soal makna STAND tadi sudah kita bahas di atas. Yang paling mengganggu justru penggunaan kata RIGHT. Right bisa diartikan sebagai KANAN atau BENAR. Ketika konteks penggunaan kalimat ini adalah ranah politik, kata KANAN itu asosiasinya adalah aliran politis tertentu. Komentar teman saya Angela Romano (yang Ph.D. adalah bidang bahasa di Australia sono) sangat mengejutkan saya. Dia bilang, ““I stand ON the right side” can also mean that you’re right wing or even fascist.” Nah lho!

Komentar Angela ini tentu sesuai dengan informasi dari Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Right-wing_politics) yang diambil dari beberapa referensi akademis bahwa aliran politik kanan adalah posisi atau aktifitas politik yang memandang bahwa beberapa bentuk hierarki sosial atau ketidak setaraan sosial adalah sesuatu yang tak terelakkan, normal atau yang lebih diinginkan (Bobbio, Noberto, & Cameron, 1997; Goldthorpe, n.d. ) sehingga secara tradisional istilah aliran kanan itu dipakai untuk melabeli kaum tradisional konservatif dan kaum reaksioner, kaum konservatif baru, kaum nasionalis, kaum yang menjunjung tinggi keunggulan ras tertentu (McLean & McMillan, 2009), kaum demokrat Kristen, kaum fundamentalis agama, dan kaum liberal klasik (Knapp & Wright, 2006). Sehingga kalau Anda memilih aliran kanan, Anda biasanya adalah orang-orang yang macam itulah. Permasalahannya adalah, ketika Anda menggunakan gambar dengan tulisan “I stand on the right side”, apakah aliran politik Anda memang kanan yang semacam digambarkan oleh informasi dari Wikipedia itu? Terlebih jauh lagi, apakah capres yang Anda dukung itu aliran politiknya adalah aliran kanan?

Saya secara pribadi tidak melihat bahwa pencitraan capres yang diusung pemakai gambar itu adalah capres yang mendukung kaum konservatif, kaum yang rasis, kaum fundamentalis agama, maupun kaum liberal, apalagi sampai mencitrakan menjadi seorang fasis! Walah, jadi gimana dong dengan penggunaan kata RIGHT di gambar dukungan untuk capres itu? Cocok kalau teman saya Whisnu Yonar kemudian berkomentar “RIGHT side is definitely ambiguous”, alias sisi kanan itu memang ambigu.

Secara pribadi saya nggak mempermasalahkan pemakaian bahasa Inggris dalam slogan kampanye. Tapi saya sepakat dengan teman saya Angela Romano bahwa slogan kampanye itu sebaiknya jelas, tidak ambigu, dan tidak multitafsir. Menurut Angela, “Indonesian politics is already very confusing for most ordinary people. The poorly written slogans are just a symptom of that.” Politik Indonesia itu sudah sangat membingungkan bagi orang awam dan slogan kampanye yang diciptakan dengan serampangan itu salah satu gejalanya.

Buat saya, slogan kampanye itu sebaiknya memberikan pencerahan kepada publik dalam soal ideologi, program, visi, misi, aksi si capres, dan bukan sekedar mengedepankan sosok si capres. Ini saya yang saya dapat dari menjadi penerjemah di lokakarya jurnalistik Dewan Pers di Semarang bersama David Quin (Thomson Foundation), Nezar Patria, dan Ninok Leksono beberapa hari yang lalu. Selain itu, untuk membuat kampanye yang diharapkan membawa dampak viral atau penyebaran yang luas, pencipta kampanye perlu memikirkan dengan serius pemakaian bahasa, sehingga tidak terjadi kesalahan yang berjamaah. Ini hasil diskusi saya dengan Utami Utar yang dosen bahasa di Universitas Pakuan, Bogor.

Pada akhirnya, silakan saja Anda memakai bahasa Inggris untuk mendukung salah satu capres, tapi tolong dipikirkan juga artinya. Jangan cuma sekedar ikut-ikutan tren, tapi Anda sama sekali nggak paham aturan penggunaan bahasa dan makna katanya ya!

PS: Thank you for Amy-Michelle Durston, Susi Erawati, Lauren Zentz, Setyorini Kustriawan, Claire Bradin-Siskin, Whisnu Yonar, Wahyu Sulistyaningtyas, Wit, Timothy Daun, Christian Situmorang, Angela Romano, Rita Padawangi, Agus Afif Riyadi, Deden, Intan Jeanie, Linda, Utami Utar, Angga Widitama, Rossy Harta, and some other friends who have contributed in the discussion of this matter via Facebook and Twitter. Full references for the term “right wing politics” can be viewed in the Wikipedia link provided.

Advertisements

489 comments

    1. Lahhhh, kok njur dadi idola? Gak maulah saya jadi idola krn terus jadinya kok diikuti orang secara plek tanpa dikritisi po bengkongnya. Padahal saya maunya dikritisi juga lho. Matur nuwun sudah mau membaca tulisan saya 🙂

      Like

  1. Wah…terimakasih tambahan pengetahuannya.
    Tapi rasanya kekhawatiran anda berlebihan.
    1 kata ini memang dimaksudkan untuk bermakna ganda (ambigu). Yaitu utk menggambarkan ‘tempat’ (angka 2 berada di sisi kanan) yg syukurnya jg bermakna ganda ,yaitu ‘benar’ sehingga permainan kata inilah yg digunakan.
    & mengenai sayap kanan = fasis (kalau kiri, komunis,yak?) saya rasa tdk semua org berpikiran sampai kesana (krn utk memaknakan spt itu dibutuhkan pengetahuan sebelumnya juga, yg belum tentu dimiliki setiap org)
    Selain kalimat ini, tokh mereka jg tau isi ‘jualan’ msg2 capres, jadi ya.. Saya rasa tdk perlu dikhawatirkan.
    Tapi tulisannya menarik ^_^

    Like

    1. Terima kasih sudah mau membaca dengan cermat 🙂

      Saya nggak khawatir kok soal pemilih. Toh, David Quin, jurnalis dari Thomson Foundation, menyatakan bahwa sebagian besar pemilih biasanya sudah menentukan pilihannya jauh hari sebelum masa kampanye. Yang saya soroti hanya yang penggunaan slogan yang tanpa kesadaran tata bahasa dan maknanya terutama dalam kasus ini adalah karena yang digunakan bahasa Inggris. Saya ingin pengguna slogan itu untuk berpikir sebelum menggunakan slogan itu sehingga kalau ada pertanyaan tentang hal-hal semacam tata bahasa dan makna bisa menjelaskan dengan jelas kenapa memakai slogan itu. Jadi kalau Anda sudah bisa menganalisa/ menjelaskan kenapa slogan itu harus begitu kalimatnya, ya berarti sudah berpikir 🙂

      Like

      1. Slogan ini sebenarnya sederhana, hanya diperumit oleh orang yang memang pola pikirinya rumit. Memang di buat Ambigu. namun, sependek pemahaman saya, pengartiannya cuma ada 2.

        1. Saya berdiri di sebelah kanan. (Capres No. 1 ada di kiri, Capres No. 2 ada di sebelah kanan, rujukannya nanti adalah Surat Suara yang akan di coblos oleh Rakyat Indonesia). 2. Saya berada dipihak yang benar.)

        Menurut saya, Konteksnya harusnya dilihat dari posisi gambar di Kertas Suara. Ini lah yang kemudian penggunaan term “on” yang digunakan, ketimbang “by”, “with”, or ‘any other words’.

        Pemaknaan kedua, (sisi yang benar), lebih merupakan sodoran idealisme masing masing pendukung.

        Entah Amy-Michelle Durston, Rita Padawangi, dan Lauren Zentz, atau penulis sudah melihat (atau setidaknya membayangkan) kertas suaranya, atau belum, atau keruhnya situasi antar pendukung kedua cawapres di Indo sini, namun penanaman ide mengenai “politik ke Kanan-an” menurut saya terlalu lugu, atau bahkan terlalu tinggi untuk sekedar diterima oleh logika sederhana, atau mungkin tolol seperti pemikiran saya ini.

        Satu lagi, Sebelum anda memutuskan untuk mengambil literatur tentang Right wings of politics, Anda yakin orang seperti Capres No. 2, itu fasis?

        Tulisan anda:
        “Menurut Angela, “Indonesian politics is already very confusing for most ordinary people. The poorly written slogans are just a symptom of that..”

        Menurut saya, Angela setidaknya harus belajar banyak mengenai Syntax ala Indonesia dan dari sudut pandang ke Indonesiaan, dan setidaknya berhenti menghakimi slogan yang sangat populer dengan ukuran “Poorly Written”.

        Tulisannya sangat menarik, namun sepertinya pembaca digiring untuk memahami kekhawatiran berlebihan mengenai pemaknaan “kanan”. Buat saya, justru tidak menunjukkan apapun selain kecurigaan yang di balut dengan sedikit nuansa akademis dan referensi Lingkungan.

        C+.

        Like

      2. Terimakasih ulasannya 🙂 *btw ini C+ keempat yang saya dapat selama kuliah hehehehe*

        Bisa jadi memang pikiran saya rumit, tapi kerap kali faktor bahasa itu diabaikan karena isi lebih ditekankan. Padahal ketika mengkomunikasikan isi, bahasa memegang peranan untuk membuat isi itu bisa dipahami dengan jelas dan tepat atau tidak. Salah penggunaan kata, bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda. Konteks memang kemudian membantu penafsiran, tetapi konteks juga kadang-kadang menjerumuskan ke penafsiran yang tidak sesuai apa yang dimaksud oleh yang menyampaikan isi.

        Saya mungkin memakai contoh makna kata KANAN yang berada pada spektrum yang sangat ekstrim, tapi ketika Anda menulis “Satu lagi, Sebelum anda memutuskan untuk mengambil literatur tentang Right wings of politics, Anda yakin orang seperti Capres No. 2, itu fasis?” sudahkah Anda membaca tulisan saya di bagian itu? Ketika saya mengutip literatur tentang aliran kanan, saya menjelaskan apa yang dimaksud oleh Angela Romano yang menyatakan dalam pandangannya sebagai penutur asing tentang RIGHT side itu sebagai beraliran kanan. Saya bahkan kaget dengan komentarnya bahwa kata RIGHT itu mengandung makna beraliran kanan. Dan saya kemudian mempertanyakan apakah capres yang didukung AVA itu alirannya memang kanan karena menurut saya (dan saya kutip tulisan di blog saya), “Saya secara pribadi tidak melihat bahwa pencitraan capres yang diusung pemakai gambar itu adalah capres yang mendukung kaum konservatif, kaum yang rasis, kaum fundamentalis agama, maupun kaum liberal, apalagi sampai mencitrakan menjadi seorang fasis!”

        Saya tidak curiga dengan slogan kampanye itu kok. Poin saya adalah ada baiknya orang memikirkan dengan kritis dulu penggunaan bahasa Inggris dalam slogan kampanye itu, supaya ketika mereka memakai slogan itu dan menyebarkannya, mereka sadar sepenuhnya pilihan tata bahasa dan makna kata. Sehingga saya menghargai upaya beberapa teman yang mengubah slogan atau menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia/daerah karena menyadari bahwa pilihan tata bahasa dan makna kata dalam slogan itu tidak sreg dengan pikiran mereka.

        Like

      3. Salam kenal mbak Neny,

        Tulisan panjang diatas mirip dengan paparan Cak Lontong dalam program acara tivi ILK, Indonesia Lawak Klub. Beliau adalah komedian favorit saya. Sama seperti blog ini, insyallah bakal jadi favorit.

        Biasanya pembawa acara (Deni chandra) yang dibuat kesal menanggapi, “iya, cak tidak ada yang salah dengan paparanmu. tapi kamu itu mengeluarkan energi yang berlebihan untuk hal sederhana dan sebenarnya mudah difahami”

        He he he… woles, mbak (semoga kata woles tidak dikritisi juga)

        Like

      4. Menurut hemat saya…
        Anda bukan berada di posisi kritis, tapi sudah berada dalam posisi lebay..
        coba analisa komentar saya.. apa arti “menurut hemat saya”? apa arti kalimat “sudah berada dalam posisi…”??
        apa arti kalimat “coba analisa komentar saya”..

        yang perlu digaris bawahi, semuanya adalah komunikatif.. tentang penyampaian pesan.. masalah slogan ini bukan komunikata-pesan yang disampaikan belum tentu sama dengan pesan yang akan diterima.

        Regards,

        Like

    2. Saya setuju dengan pendapat ini, kekhawatiran yang berlebihan, sekalipun secara grammar salah, tapi hal ini tetap diterima oleh si penutur asing itu sendiri. saya masih ingat iklan Mc Donald ” I’m loving this” atau bagian lydirc lagu Scoripin “I’m stil loving you” dimana adapendapat yang menganggap ini secara gramatikalsalah. Tapi tetapi diakui dan dianggap benar. Demikian halnya dalam bahsa Indonesia…salah satu iklan mengatakan “Kerasa bedanya” padahal ini jelas salah seharusnya “Terasa bedanya”.

      Like

    3. Tujuan slogan ini untuk menangkis kampanye hitam (black campaign). Kata “right” yang artinya “benar” di sini tidak ditujukkan untuk prestasi2 Jokowi seperti dinyatakan dalam tulisan ini. Jadi memang slogan ini bermaksud ganda (right = kanan karena letak gambar mereka pada saat pemilihan nanti di sisi kanan dan right = benar karena pendukung capres ini melihat kampanye hitam itu tidak benar isinya). Jadi slogan ini selain cerdas pemilhan dan penggunaan simbol2nya, slogan ini juga grammatically correct.
      Semoga penjelasan saya dapat membantu belajar lebih jauh lagi.
      Ini link tujuan dari slogan tersebut:
      http://sidomi.com/297544/i-stand-on-the-right-side-tren-di-media-sosial-aksi-tangkis-kampanye-hitam/

      Like

    1. (((KHILAF))) hahahahaha

      Kekhilafan saya adalah memosting tulisan ini di tengah riuh rendahnya kampanye sehingga bikin hits blog ini sampai melonjak berkali-kali lipat. Tapi menarik juga ketika melihat orang bereaksi rupa-rupa dan beropini segala macam tentang tulisan ini. Berarti pembaca saya sudah mulai kritis berpikir.

      Terima kasih sudah mampir dan membaca! 🙂

      Like

      1. salam kenal Mbak, saya dulu kuliah di periklanan, saya suka banget dengan bahasan tentang slogan dan logo. slogan yg dibahas ini saya kira udah pas banget ternyata masih belum pas grammarnya. dengan mengesampingkan pilihan pada capres tulisan ini saya kasih nilai A deh

        Like

      2. Penjabaran yang mencerahkan. Yang bila dibaca secara seksama maka ini kupasan yang netral tidak memihak kemana pun.
        Ini hanya kupasan secara ilmiah berdasarkan literatur. Mencerahkan.
        Bila ada yang tersinggung… mungkin karena beliau adalah pendukung utama.. sehingga tidak menempatkan diri pada ulasan ilmiah.

        Like

      3. yg bikin hits itu bukan informasinya mba, tp cara ber-opini anda yg seolah – olah melibatkan pakar semantik sehingga mengesankan anda adalah ahli bahasa yg berada di pihak netral. Coba kalo anda mengaku pendukung capres no.1, tulisan anda soal no.2 pasti ga ada yg ungkit2. Karena pembaca pasti tau ini bagian dari kampanye hitam. Tulisan2 spt ini apa bedanya sm tulisan2 yg beranalisa kalo jokowi anti Islam, atau Herbertus Joko Widodo bkn Hj.Jokowi Wdodo. Tp sy akui strategi caper anda cukup berhasil.

        Like

      1. Hahaha, makasih! Etapi kenapa sih kok ada yang mengira (secara halus) bahwa saya bakal milih capres nomor 1? 🙂

        Like

    1. Terima kasih, Mas Didik! Silakan dikritisi lho kalau ada bagian-bagian yang Anda tidak berterima, supaya tulisan saya semakin bernas.

      Like

  2. Jangan terlalu seriuslah, mbak.. ^^ Kanan di tulisan itu juga kan berarti pas qt nyoblos itu gambar Jokowi-JK letaknya di sebelah kanan di kertas pencoblosan.. Klo dikaitkan dg fasisme, saya rasa itu kejauhan..

    Like

    1. Hahahaha, saya cuma berusaha kritis saja kok (oh, dan kritis itu bukan berarti memihak pihak capres satunya loh), dan membuat orang berpikir tentang pilihan mereka dari segi kebahasaan. Jangan sampai melakukan pilihan melakukan sesuatu tanpa menilik dulu apa-apa yang dipilih. Fasisme kejauhan ya? Saya emang orangnya suka mikir jauh-jauh, misalnya soal kematian *promo posting blog saya yang lain ahahahah*

      Like

      1. hahahaha, gpp dong.. berpikir jauh ke depan itu bagus kok.. Membuat org mawas diri dan sering introspeksi. Hanya saja untuk tulisan yg ini, klo dipikir lebih jauh, saat ini banyak sekali berseliweran berita fitnah soal Jokowi. Karena “kebetulan” mbak bahasnya ttg slogan kampanye capres yg ini, walaupun mbak bilangnya ga berpihak pada capres satunya ya, tetap saja bisa dimanfaatkan pihak tetangga untuk mengarang fitnah baru soal paham fasisme atw sayap kanan ini… Dari segi idealisme kebahasaan mungkin netral.. tetapi materinya tetap saja rentan mengingat kondisi politik sekarang yang sedang galau… Itu aja sih mbak.. klo menurut saya.. Salam kenal.. 🙂

        Like

      2. Saya memang menyadari bahwa tulisan ini akan rentan dipakai pihak capres yang satunya, tapi saya optimis masyarakat akan bisa menilai masing-masing capres *apalagi kalau lebih sering membaca tulisan secara kritis 🙂 *

        Like

      3. Klo sadar bahwa artikel ini rentan fitnah itu artinya mbak memang berniat memancing di air keruh dong ya? 🙂 Really mbak? Itu ga mendidik dong, itu hanya bikin suasana tambah kisruh.. unbelievable..

        Like

      4. Hahahaha, memang berpikir kritis itu jadi mengundang banyak ketakutan ya? Kalau orang membaca dengan cermat dan memakai kepala yang dingin, mereka bisa melihat kok saya tidak ada niatan memancing di air keruh 🙂

        Like

  3. Wah hebat tulisannya… Pertama kali ketemu blog ini nih, izin komentar ya… Menurut saya sendiri ga ada yang salah dengan “I stand on the right side”.

    Tentang masalah ambiguitas makna “kanan”, saya rasa itu bukan masalah sama sekali. Bahasa manusia memang secara inheren ambigu, tapi di situlah hebatnya kita sebagai manusia karena kita bisa tahu makna yang dimaksud. Dalam hal ini, karena yang menggunakan “I stand on the right side” adalah pendukunganya Jokowi, pasti yang dimaksud adalah “benar” dan bukan “right-wing”.

    Sebagai contoh, di bahasa Jepang banyak sekali kata yang terdengar sama (baik dari segi intonasi juga) misalnya “kiku” yang berarti “mendengar” maupun “bertanya”. Tidak pernah jadi masalah karena dari konteksnya selalu jelas.

    Dan btw, mengenai grammar untuk slogan, kadang tidak harus selalu menggunakan preposisi atau infleksi yang umum karena yang penting catchy. Sebagai contoh banyak analisis dan kritikan grammar yang pernah ditulis mengenai “I’m loving it”. Yang normal itu sebenarnya “I love it”. Tapi toh lebih berimpact “I’m loving it” sebagai slogan.

    Mengenai “stand on the right side”, ada produk ini yang keluaran amerika: http://shop.hrc.org/right-side-of-history-t-shirt.html

    Oh ya, di atas saya menulis bahwa menurut saya tidak ada yang salah dengan “I stand on the right side”. Pada akhirnya, tes paling ampuh untuk menentukan suatu kalimat itu grammarnya salah adalah kalau pembicara fasihnya mengernyitkan dahi melihatnya (merasa ada yang aneh). Contohnya kalimat “Saya tidak mahasiswa”. Saya nggak tahu saya bisa dikategorikan selevel native apa enggak, tapi waktu kecil saya tinggal di Australia, dan saya nggak merasa ada yang aneh dengan “I stand on the right side”.

    PS: Di artikel banyak ditulis kualifikasi tiap narasumbernya, jadi agak minder komentarnya. Saya rasa kualifikasi tidak penting dalam debat ilmiah karena suatu argumen yang memiliki kebenaran bisa ditulis oleh siapa saja. Tapi setelah dipikir-pikir mungkin berguna juga bagi pembaca yang ingin tahu sumber pemikiran tersebut dipengaruhi oleh bidang ilmu apa saja. Jadi kalau perlu tahu background saya: S2 Ilmu Komputer di bidang Computational Linguistics/Natural Language Processing di Nagoya University Jepang, lebih setuju descriptive grammar daripada prescriptive grammar, dan pernah belajar di antaranya bahasa Jepang dan Korea.

    Have a nice day 🙂

    Like

    1. Waaaaaa, analisis yang menarik! Terima kasih sudah berbagi pendapat soal slogan ini. Iya, gak ada yang salah dengan slogan atau pilihan kata. Poin saya adalah asal yang memakai itu menyadari perbedaan penggunaan kata dan efeknya pada arti. Kalau udah menyadari dan memilih slogan itu ya nggak apa-apa juga, yang penting nggak asal ngikut tren secara buta. Critical literacy itu dibutuhkan untuk menyikapi teks sehingga tidak asal saja menyikapi teks itu.

      Hahaha, gak usah minder lah dengan kualifikasi. Saya mencantumkan di situ supaya ada kekuatan referensinya sehingga tidak dianggap saya asal saja menuliskan poin-poinnya. Dan ya, kualifikasi Anda itu asyik banget! Pernah pengin ke bidang itu tapi otak nggak nyampe hehehehe.

      Thanks banget ya komentarnya! Mencerahkan! 🙂

      Like

  4. Waduh mbak.. Byk amat analisisnya.. Percaya deh.. Yg make slogan itu, sama sama yg paham arti slogannya, beradA di frekuensi yg sama. Bahkan yg tdk samapun, akan mengerti maksud tujuannya. Makasih atas pencerahannya, tp spt kita semua tahu. Bhs inggris org indonesia pd umumnya, msh sgt terbatas. Oleh sbb itu, dalam menyikapi hal ini, ada baiknya melihatnya dgn menggunakan kacamata teori komunikasi.. ‘Selama apa yg disampaikan dpt dimengerti, makA sdh terjadi sebuah decoding message, alias komunikasi, krn pesan tlh sampai dan diterima sesuai dgn yg dimaksudkan oleh si pengirim pesan’..
    Wallahu a’lam bis shawab.
    Mhn maaf jika tdk berkenan.

    Like

    1. Iya, saya bawel banget ya nganalisisnya 🙂 Kenapa saya nggak nganalisis dari kacamata teori komunikasi? Ya karena bidang ilmu saya bukan itu, sehingga kalau pake kacamata itu entar bisa terkesan saya sok tau.

      Poin saya sebenarnya adalah marilah bersikap kritis dan berpikir dulu ketika akan memakai slogan. Kalau orangnya sudah tahu dan sadar kenapa memilih itu ya nggak apa-apa juga. Tapi karena ini konteksnya bahasa Inggris dan seperti Anda bilang bahasa Inggris orang Indonesia pada umumnya masih sangat terbatas, bolehlah saya berbagi ilmu yang sedikit tentang bahasa Inggris supaya bisa direnungkan oleh para pemakai AVA itu. Kalau tetap mau memilih memakai slogan itu setelah membaca tulisan saya, saya juga nggak ngelarang. Kecenderungannya adalah karena dirasa memakai bahasa Inggris dalam slogan itu kesannya keren, jadi tidak memikirkan nuansa perbedaan makna dan tata bahasa.

      Dan saya sama sekali nggak keberatan dikomentari 🙂 Buat saya, malah bagus dikomentari karena berarti orang jadi berpikir mengenai hal ini. Daripada tidak mikir kritis sama sekali hayo? Sekaligus juga kalau ada bagian tulisan saya yang bisa dikritisi, supaya tulisan saya lebih bernas.

      Terimakasih!

      Like

    1. Terima kasih komentarnya yang unik 🙂

      Seingat saya, selama beberapa tahun mengajar bahasa Indonesia ke penutur asing saya jarang memaklumi ketika bule belepotan berbahasa Indonesia tuh. Dan karena posisi saya sebagai pengajar, saya wajib membetulkan kesalahan mereka, supaya tidak berkelanjutan. Jadi grammar police itu naluriah sebagai guru bahasa, baik guru bahasa Inggris atau pun guru bahasa Indonesia.

      Tapi komentar Anda ini wajar, karena Anda mungkin tidak mengenal siapa saya dan latar belakang saya apa. Semoga saya tidak dianggap sok tahu grammar dalam posting saya. Kalau mau tahu tentang saya dan latar belakang saya sehingga bisa menimbang apakah saya layak jadi grammar police atau tidak, silakan google nama lengkap saya. Saya toh tidak pernah menyembunyikan identitas saya di dunia maya. Oh, kalau mau lebih komplit, silakan buka profil yang di LinkedIn ya? 🙂

      Like

    1. Sebelah mana dulu? Kalau mau pakai aturan angka yang bertambah, 2 ada di sebelah kanan angka 1. Kalau menurun, ya sebaliknya 🙂

      Like

  5. Tulisan menarik tapi meang-ambigukan para ambigu-ers karna pada dasarnya Stand pada nomer 2 yang dikanan.
    Saya rasa banyak orang Indonesia tidak atau masih belum paham apa itu sayap kanan dan kiri dalam pandangan politik.
    Gak sampai kesitulah maksudnya.
    Jadi jangan sampai di “ambigu” kan kalau maksud dan tujuannya kesana.
    sah sah aja kok.
    trims ya.

    Like

    1. Terima kasih! Haduh, makin ambigu lagi kalau dibilang itu gambar AVA kan ada dua kotak. Kalau stand di nomer dua yang di kanan, kenapa bukan fotonya di kanan ya? *pikiran kritis melintas lagi hahahahaha trus entar dikomentari panjang lebar lagi*

      Iya, mungkin pikiran orang Indonesia belum sampai ke aliran politik kanan atau kiri. Tapi tidak ada salahnya memberikan alternatif makna yang ekstrim itu supaya orang mulai memikirkan juga pilihannya dalam memakai slogan kampanye tertentu.

      Intinya, mari berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu. Kalau sudah dipikir dan masih tetap mau pakai slogan itu, ya silakan saja 🙂

      Like

  6. Reblogged this on Mari bercerita and commented:
    Wha.. ini yang katanya 9gag, jangan macam-macam sama grammar nazi. Whahahaa… Saya juga suka gitu kadang-kadang. Bukan untuk menyalah-nyalahi, tapi itu bagus untuk diri saya sendiri. Lumayan, tambah ilmu, atau mengingat-ingat lagi. Bahkan biasanya jika ada tulisan menggunakan bahasa inggris yang agak “mencurigakan” di sosmed atau di manapun, saya langsung cari tahu sendiri persoalan tata bahasanya, lalu dibiarin sudah, tanpa komentar atau apapun. 😀
    Tapi, di luar itu, saya senang dengan kutipan berikut:
    “Indonesian politics is already very confusing for most ordinary people. The poorly written slogans are just a symptom of that.”
    Entahpun segala yang ambigu itu disengaja atau tidak, rasanya kasihan kita-kita yang awam ini. Tidak peduli, salah, peduli pun, tidak jelas apa yang dipedulikan.

    Like

    1. Lucu banget baca komentarnya, Mas! Waduh, skeptis amat soal yang awam ini tidak jelas apa yang diperdulikan? Saya setuju dengan Anda bahwa berpikir dulu sebelum menyikapi sebuah teks itu perlu. Kadang-kadang ada yang main share, main komentar, tanpa membaca sampai tuntas dan mencari tahu lebih jauh ini teks ditulis siapa, maunya apa, kenapa dia menulis begitu. Kalau reaksi pembaca macam-macam, saya malah senang. Itu artinya mereka membaca sampai tuntas tulisan saya lalu memikirkan tulisan saya dengan kritis.

      Terima kasih sudah mau berbagi pendapat dan membagi tulisan saya 🙂

      Like

  7. Kayaknya itu permainan kata yang terjemahannya “aku memilih yang disebelah kanan” kan nyoblos nomer 2 di sebelah kanan

    Like

      1. atau bisa jadi sebenarnya dari si pembuat tagline memang makna politiknya adalah politik kanan.. mesti mantau terus dan waspada juga..dan liat juga dong sejarah partainya. Makasih ya mbak tulisannya 🙂

        Like

    1. Kadang ada hal-hal yang kudu diseriusi. Tapi menarik juga mendapati beragamnya komentar soal posting saya. Seru banget! Terima kasih sudah membaca dan mengomentari tulisan saya 🙂

      Like

    1. Hahaha, nyasar ya? Kalau dari segi bahasa Inggris sih memang kata kanan itu bisa nyasarnya sampai ke sana sih. Tapi mungkin ada yang tidak menyadari bahwa kalau diikuti, nyasar politiknya bisa sampai ke sana 🙂

      Liked by 1 person

  8. It’s obvious that u waste a lot of ur time writing this long notes on something that u don’t really understand 🙂 sorry, but linguistic in politics is not ur cup of tea mate.

    Like

    1. It’s OK. No offense’s taken. Thanks for your comment. I don’t see it as a waste of time when I saw that there are many comments on my post. At least, it makes people think critically, instead of just doing what is considered to be cool or trendy at the moment. I may consider learning more about linguistics in politics, just to show you that although it’s not my cup of tea at the present, it’s very possible to learn it and to improve myself. Thanks again!

      Like

  9. Tulisan menarik mbak…mencerahkan hehehe
    Inilah kadang2 dalam pemikiran kita sebagian, selalu memaknai sesuatu secara parsial. akhirnya seperti itulah bahwa dalam politik citra negeri ini, mengangkat nama pamor lebih penting ketimbang memberi pelajaran politik yang santun kepada masyarakat.
    Saya suka ketika dikaitkan dengan wacana fasis, namun belum masuk ke wacana politik kita saat ini yang sedikit “pesakitan” didalam aktor-aktornya.

    Like

    1. Terimakasih komentarnya!

      Saya setuju bahwa wacana fasisme itu belum masuk ke wacana politik kita saat ini. Tapi tidak ada salahnya memperkenalkan wacana ini ke publik. Dan saya senang akhirnya publik pembaca saya ngeh juga dengan wacana ini. Buktinya ada banyak yang secara emosional mengomentari tulisan saya dan menuduh saya menuduh capres tertentu fasis. Padahal kalau mau membaca dengan cermat tulisan saya (dan pakai kepala yang dingin) saya pun tak menuduh capres tertentu fasis lho 🙂

      Like

    1. Hahahaha, terima kasih! Setuju bahwa gambar P coret itu jelas banget 🙂 *etapi P-nya apa dulu artinya? #halah #mbulet *

      Like

  10. Nice analysis 🙂
    Tapi aku juga berpikir kalau ini agak overthinking. Normalnya mereka yang make gambar dan slogan tersebut, atau masyarakat Indonesia yang sedang mengikuti masa kampanye ini pada umumnya memahami kalimat tersebut seperti arti generalnya dan nggak sampai ke arti simbolis spesifik tertentu semacam fasis, rasis, fundamental agama, liberal, dst. karena background knowledge yang mereka punya, dan seperti yang Anda tulis juga di atas berdasarkan penglihatan Anda, yaitu kalau capres nomor 2 ini tidak terlihat mendukung konservative, fasis, rasis, dst.

    Jadi menurut saya ambiguitas ini masih bisa diterima dengan alasan background knowledge terkait pihak capres yang dimaksud.
    Justru akan semakin muncul ke permukaan ambiguitasnya ketika masalah ini dibahas dan dipermasalahkan terlalu jauh, mengingatkanku sama cerita-cerita teori konspirasi atau cocokisasi yang sebenarnya biasa saja tapi kemudian menjadi masalah karena dipermasalahkan.

    Sejujurnya saya senang menemukan dan membaca tulisan ini karena saya juga senang mempelajari Bahasa Inggris dan setelah baca jadi pengen belajar semantic lebih dalam. Inspiring.

    (sepanjang nulis komen ini pun saya sambil senyum karena mood jadi bagus).

    Ini cuma pemikiranku sebagai pihak awam sih. Dan mungkin aku juga perlu mendeklarasikan kalau aku nggak bermaksud mendukung atau menjatuhkan atau bahkan ikut serta dalam hal politik ini, haha. Untuk saat ini aku lebih senang dan menikmati membicarakan tentang masalah Bahasa Inggris ini.

    *Oh iya, maaf sebelumnya kalau ada kata-kata yang menyinggung 🙂

    Like

    1. Terima kasih komentarnya yang adem 🙂

      Mungkin memang masyarakat sudah paham latar belakang capres yang ini sehingga slogan dalam bahasa Inggris itu tidak lagi ambigu. Seperti saya bilang di balasan komentar yang lain, tujuan saya untuk mengajak orang untuk bersikap kritis dan berpikir ketika mereka akan menggunakan slogan kampanye tertentu dalam bahasa Inggris sehingga tidak sekedar ikut-ikutan tren saja. Kalau setelah berpikir, mereka tetap akan pakai slogan itu, ya nggak masalah juga buat saya.

      Dan saya sama sekali tidak tersinggung! 🙂 Ketika komentar dan reaksi orang bermacam-macam atas tulisan saya, saya malah senang, karena itu artinya orang berpikir dan mengkritisi tulisan saya.

      Terima kasih sekali lagi!

      Like

  11. Semua profile picture yg menyatakan “saya berdiri di kanan” fakta gambarnya malah pada berdiri si sisi kiri foto.

    Like

    1. dari seluruh isi tulisan dan komentar2 dibawahnya… saya paling setuju banget sama yg ini. X-D | anyway, tulisan bagus mbak.. salam kenal. 🙂

      Like

    2. Bisa berbagi gambar nggak nih? Saya (dan bahasa Inggris saya yang belepotan) sampai bikin gambar di pic.twitter.com/k8uzmJeuum mempertanyakan “ke-kanan-an” pengguna gambar tersebut.
      Ah, barangkali kita yang terlalu banyak mikir. 🙂

      Like

    1. Hahahaha, nebak boleh kok. Tapi kalau di kuis-kuis, pembawa acara akan bilang “Anda belum beruntung!” bwhahahahaha

      Like

  12. Haii, Mbak!
    Tau gak, apa yang saya pikirkan selesai baca tulisan & komen yang ada di sini? 😀
    Saya langsung teringat bapak saya yang sering mengajari makna bahasa Latin & Inggris. Heheee.
    Boleh dong yaa saya tulisan ini?

    Like

  13. ternyata menggelitik juga ya itu slogan, kalo dilihat dari berbagai prespektif dalam tata bahasa inggris. ternyata kalo dianalisis banyak persepsi yang bisa timbul dan dari situ tentunya kita dapat:pengetahuaaan, yg anda bagikan,,yg aku baru tau 😀 keren deh bisa berbagi hal yang dalem(dan berat juga ya kalo buat anak awam hihi) dari kata-kata slogan sesimpel itu. bikin kita lebih peka pada penggunaan bahasa inggris. tulisan yang baik, trimakasih sudah berbagi

    Like

    1. Hahaha, sama-sama! Saking dalemnya sampai dibilang kurang kerjaan, bahkan ada yang bilang itu buang-buang waktu. Tapi seneng karena banyak yang membaca sampai tuntas kemudian bisa memikirkan isu ini. Terima kasih ya!

      Like

    1. Hahaha, bukan cuma loe doang kok! Ada teman gw yang bela-belain ngerevisi itu AVA supaya orang tahu dia orang kiri yang mendukung nomor 2 🙂

      Like

    1. Hahaha, betul! Baru akan dua kali bikin gathering komunitas jazz yang idenya “nyolong” dari jazzmbensenen dan jazz ngisor ringin *lah baru inget bahwa acaranya Selasa depan! EO ini jadi panik ahahhah* Insya Allah akan dapat kesempatan merapat ke Jogja untuk main-main ke jazz mben senen. BTW, mau nonton Loenpia Jazz di Semarang tanggal 15 ini nggak?

      *biarin OOT! capek dari tadi bales komen hihihihi*

      Like

      1. Yup, penggemar dan penyanyi jazz. Kalau punya akun twitter, follow @wartajazz aja. Mereka sering update acara jazz di berbagai kota di Indonesia kok. Makasih udah mampir!

        Like

  14. Saya tidak punya ava ini, dan tidak nerminat membuat juga.
    Tapi pertama kali lihat, buat saya maknanya cukup jelas kok.
    “I stand on the right side” itu bukan punya makna saya berdiri disisi yang benar, tapi maknanya saya berdiri pada (didalam=on) right side=sisi kanan, dalam konteks artinya saya coblos yang sebelah kanan, dengan ditandai angka 2. Cukup jelas kok. 🙂

    Like

  15. Hallo Mbak Neny …
    Kalau ada kalimat seperti ini :
    ” Sikil’ku 2 kuabeh ”
    Menurut Ph.D sastra jawa persepsinya apa ya mbak?
    Trima kasih … salam kenal ya Mbak

    Like

    1. Hahahaha, Ph.D. Sastra Jawa saya nggak punya. Tapi pasti saya tanya dulu, konteksnya apa? Ceritanya abis lari-lari? Ini manusia apa robot? Nah kan, jadinya ribet dan lebih banyak pertanyaan. Tapi nggak apa-apa. Bertanya kritis itu bagus menurut saya.

      Salam kenal juga! Terimakasih!

      Like

  16. “wah hiperbol ya mas” itu kata tukang sayur bernama Mbok Jum, yg entah SD aja lulus apa endak…
    pertanyaannya?
    1. mbok Jum ini tau tulisan ini dari mana?
    2. apakah mbok Jum ini sering online/punya semartpon?

    mungkin saja mbok Jum lagi pengen hiperbol, pake ikut mikirin tulisan ini, kan mending mikir sayurannya aja laku keras apa tidak pagi ini?
    hahaha..selamat berhiperbol ria

    Like

  17. Keren mbak. pencerahan banget tentang bahasa, walaupun saya bahasa indonesia aja masih bermasalah. :)) Pasti postingan ini akan mendapatkan view yang paling besar dalam sejarah blog mbak. :p Bahasa terlalu rumit buat saya yang menyampaikan cinta melalui pandangan mata. #apasih….

    Like

    1. Terimakasih 🙂 Iya nih, sejarah banget nih bisa ngehits hahahaha. Kamu romantis ya, bisa menyampaikan cinta lewat pandangan mata 🙂

      Like

  18. Tulisannya bagus Neny..mencerahkan dan menambah ilmu saya. Tapi tolong ditambahin catatan…”mohon dibaca sampai tuntas dng hati yg lapang dan kepala dingin sebelum komentar”….hehehe..lucu aja banyak yg emosi..:D Aku share juga ya…

    Like

    1. Makasih, Mbak Nina! Hihihi, disclaimernya kudu jelas banget gitu ya? Iya nih, seru baca segala komentar. Nggak nyangka akan segitu riuh rendahnya…

      Like

  19. Wah tulisannya panjang dan analitis sekali.
    Kebetulan saya kenal dengan yang buat slogan, pemikiran awalnya sederhana kok gak serumit itu. Kalau Anda bayangkan ada sekelompok akademisi lulusan sastra dan ilmu politik yang duduk bareng membuat 1 tagline, Anda salah. Ini hanya creative outburst dari seorang pendukung yang ingin mengaitkan posisi kanan di kertas suara dengan sisi yang benar.

    Tadinya hanya image biasa di Path, lama2 bergulir jadi gerakan avatar. Pesannya nyampe. Mereka yang ada di barisan Capres yg posisinya di kanan kertas suara sudah berada di sisi yang tepat. Jadi semua ini organik, tanpa dibuat rumit 🙂

    Ini pemikiran rakyat jelata lho mbak, jadi nyuwun sewu kalau tidak 100% sempurna dan memenuhi kaidah akademis 🙂

    Like

    1. Waduh, terima kasih sudah sudi membaca tulisan saya, Mbak Nia. Saya mengapresiasi kok yang dilakukan pencipta slogan ini dan sambutan publik yang antusias. Tolong disampaikan kepada yang menciptakan slogan ini apresiasi saya. Yang saya lebih tekankan dalam tulisan saya adalah kesadaran dari yang memilih untuk menggunakan slogan ini ketika memutuskan memakai slogan ini. Kalau mereka paham dan bisa memberikan jawaban kalau ditanya mengapa memakai slogan ini, ya sudah. Jadi kalau mau memakai sebaiknya berpikir dulu dan tidak sekedar mengikuti tren.

      BTW, apa sih perbedaan antara rakyat jelata atau akademisi, sehingga perlu dilakukan dikotomi begitu? Saya rakyat jelata juga kalau dilihat dari pendapatan bulanan hahahaha, kebetulan saja berprofesi akademisi sehingga mempunyai tanggung jawab moral untuk mengajak yang lain untuk berpikir kritis. Semoga berpikir kritis bukan dianggap sebagai sok tahu ya? 🙂

      Like

      1. Makasih mbak Neny atas penjelasan yang detil. Salut buat Anda dengan tulisan yang mantap ini.

        Like

      2. Klo begitu knp harus dikaitkan sama facis ya? Kan kesannya jd kaya another black campaign,, sayang bgt, ulasan menarik soal bahasanya jd terkesan negatif karena ujung2nya ngomongin facis,, curhat dikit, terus terang udh muak sama black campaign, pihak yg berusaha menjelek2an pihak lain berarti mengakui bahwa pihak lain itu memang lebih baik, sampe perlu dijelek2in,, hehe

        Like

      1. Kalo cuma “coblos nomer 2″ tidak kreatif dong mbak..
        Jadi tidak menarik lagi hehehe.
        Justru itu daya tariknya, yang membuat orang orang memakai ava ini, konsepnya yg simpel namun menarik(btw saya bkn pendukung no 2 loh ya :D)
        Hanya menurut saya sih “i stand on the right side” sudah sangat jelas. Sangat berlebihan jika dikaitkan dengan fasis, terkesannya jika membaca postingan ini “oh this is just another black campaign”, padahal maksud mbak bukan menjerumuskan capres no 2 kan?

        Like

  20. Pusing banget mba mikirinnya..mau on, by, for pokoknya intinya mendukung nomor 2 toh……ini contoh hal kecil didramatisir jd hal besar…bukan melihat inti tapi melenceng kemana-mana…Klo mereka yg pasang gambar model ini artinya mendukung jw-jk..itu aza kok,ga usah ribet!

    Like

    1. Terima kasih sudah membaca tulisan saya! Silakan baca balasan komentar saya kepada yang komentar senada dengan Anda ya? Biar jelas maksud saya menulis posting ini apa 🙂

      Like

  21. Terlalu berlebihan.

    Saya tidak akan merendahkan atau meninggikan pola pikir saya dan anda.
    Tapi ini berlebihan.

    Semua orang akhirnya melakukan pencitraan melalui situasi yg sedang berlangsung. Pencitraan akan pendapatnya mampu mempengaruhi pola pikir orang lain, satu atau bahkan lebih banyak orang.
    Sangat mungkin juga seperti yang saya lakukan saat ini.

    Tapi yang membedakan adalah point penekanan pada materi yang di bahas.
    Bagi saya, ulasannya akan jadi sangat berlebihan. Ini bukan slogan atau motto Republik Indonesia yang akan dipatenkan seumur hidup.

    Sama seperti kata kata yg diungkapkan pada saat janji manis kampanye pilpress dua kandidat ini. Akan tak terlalu di gubris jika sudah masuk dalam kondisi “bisa dibuktikan nyata atau tidak janjinya tsb”.

    Klo pembahasan tentang slogan ini baik adanya, seharusnya setiap kata kata yg dipublikasikan oleh capres harusnya diulas pula. Mungkin semuanya itu mempunyai ambigu berpangkat pangkat layernya.

    Terimakasih.

    Like

    1. Terima kasih sudah membaca dan berkomentar pada tulisan saya. Silakan baca balasan saya kepada komentar yang senada dengan komentar Anda ya 🙂

      Like

  22. Dari awal gw liat avatar2 ini, gw udah eneg. Kenapa sih gak pake bhs Indonesia aja. Sok keren pake bhs Inggris. Padahal bhs Indonesia aja masih pada gak bener.

    Like

  23. “Yang saya soroti hanya yang penggunaan slogan yang tanpa kesadaran tata bahasa dan maknanya terutama dalam kasus ini adalah karena yang digunakan bahasa Inggris. Saya ingin pengguna slogan itu untuk berpikir sebelum menggunakan slogan itu sehingga kalau ada pertanyaan tentang hal-hal semacam tata bahasa dan makna bisa menjelaskan dengan jelas kenapa memakai slogan itu. Jadi kalau Anda sudah bisa menganalisa/ menjelaskan kenapa slogan itu harus begitu kalimatnya, ya berarti sudah berpikir”

    ——-kalao blog ini ingin mengulas, alangkah baiknya diulas saja. Tapi yg saya baca disini ada penekanan akan (maaf) meremehkan orang yang buat slogan tersebut. “Berpikir sebelum menggunakan slogan tersebut”.
    Baiknya anda hubungi yang buat slogan, dan sampaikan uraian anda tentang penggunaan ON WITH or BY yang anda maksud.

    Setelah mengetahuinya, dan tidak match dari banyak perspektif dan disertai dengan daftar pustaka yg anda ketahui dan pelajari, sangat baik jadinya anda mengangkat materi ini dengan disertai kalimat ini…..

    “Yang saya soroti hanya yang penggunaan slogan yang tanpa kesadaran tata bahasa dan maknanya terutama dalam kasus ini adalah karena yang digunakan bahasa Inggris. Saya ingin pengguna slogan itu untuk berpikir sebelum menggunakan slogan itu sehingga kalau ada pertanyaan tentang hal-hal semacam tata bahasa dan makna bisa menjelaskan dengan jelas kenapa memakai slogan itu. Jadi kalau Anda sudah bisa menganalisa/ menjelaskan kenapa slogan itu harus begitu kalimatnya, ya berarti sudah berpikir”.

    Anda sudah ada hubungi yg buat slogan..??? “Apa sih maksudnya buat itu pak / bu..?”

    Seperti ada pepatah….
    “Diam adalah emas”.
    Tapi jika bicara adalah baik, maka diharapkan valuenya jauh diatas emas.
    Bagi saya diam itu bukan artinya “bungkam mulutmu” tapi ngirit ulasan dan komentar. Agar penilaian yg kita buat mencerdaskan kita tidak hanya dari teory side saja. Tapi real life nya.

    Semoga ada gunanya komen saya. Spt biasa, klo gak juga gpp sih. Santai saja….
    Tengkyu

    Like

    1. Terimakasih, Adi, karena sudah bersusah payah membaca dengan teliti tulisan saya. Tulisan saya pada awalnya tidak dimaksudkan untuk menjadi kajian akademis yang mendalam sehingga tidak secara menyeluruh meneliti fenomena ini. Tapi komentar dan tanggapan dari teman-teman di facebook saya membuat saya mungkin akan membuat kajian yang lebih akademis karena luasan dari bahasan topik ini. Kalau di makalah ilmiah, ya tentu saja saya akan mencari sumber-sumber tambahan dan referensi yang lebih banyak supaya bisa dipertanggungjawabkan, termasuk menghubungi si pencipta slogan, mencari tahu bagaimana tanggapan pengguna dan pembaca slogan, dsb.

      Terlepas dari rencana itu, terima kasih sudah membaca (tetap saya harus mengapresiasi dong hahahaha). Dengan begitu, Anda jadi berpikir kritis dan muncul dengan sekian banyak pertanyaan. Tidak ada yang salah kok dengan berpikir kritis. Mengapa mesti takut berpikir kritis dan membuka forum diskusi. Tujuannya bukan untuk memperkeruh suasana tetapi supaya ada diskusi dan kesepahaman. Bahkan kalau diskusi itu kemudian tidak menghasilkan kesepahaman yang sama, nggak apa-apa juga. Paling tidak, orang-orang yang terlibat diskusi sudah bisa melihat poin dari pihak masing-masing dan mungkin bisa belajar bersama-sama tentang beberapa hal yang sebelum diskusi tidak mereka ketahui. Lawan diskusi itu menurut saya baik, tapi karena kita berseberangan dalam soal ide, bukan berarti lantas menjadi musuh. Santai saja 🙂

      Like

  24. Benar apa kata rekan2 sebelumnya. Ini hanya permainan kata saja: right = kanan = benar. Dan makna yg paling mendominasi saya rasa adalah ‘kanan’ yg sesuai dgn konteks sistem pemilu di Indonesia bhw capres no. 2 ada di sisi kanan tiket coblos.

    Di dlm dunia bahasa itu ada yg namanya “double entendre,” yaitu sebuah kata dalam frase/kalimat yg memiliki 2 makna, salah satunya bermakna jelas (‘kanan’) dan yg satunya lagi maknanya lebih halus (‘benar’). Dan kalo mau berpikir ke “politik sayap kanan” saya rasa terlalu jauh krn itu tidak ada di sistem pemerintahan kita.

    Di barat, sejarahnya, kaum konservatif duduk di ruang DPR di sebelah kanan dan kaum liberal di sebelah kiri. Istilah itu terbawa hingga sekarang walau mungkin sdh tidak ada pembelahan tempat duduk. Yg pasti di Indonesia tdk ada sejarah begitu, jd org Indonesia tdk akan menafsirkan sayap kanan/kiri, yg akan menafsirkan itu mungkin bule2 yg mmg lebih familiar dgn sistem sayap kanan/kiri ketimbang sistem pemilu kita.

    Tapi analisis Anda, berdasarkan faktor2 yg Anda ungkit, bagus dan cukup tepat. Yg belum masuk dalam pertimbangan hanya faktor “sisi kanan dlm tiket coblos” saja.

    Like

    1. Terimakasih ulasannya. Tulisan saya memang hanya mengulas salah satu alternatif pemaknaaan KANAN yang merupakan alternatif pemaknaan yang mungkin dipandang ekstrim. Tapi soal “sisi kanan dalam tiket coblos” itu rata-rata orang sudah paham kok. Mungkin perlu saya masukkan supaya tidak ada emosional menanggapi tulisan saya hahahaha.

      Like

  25. Ikut nimbrung mbak: 1. RIGHT disitu bukan aliran. Kalo aliran tentu pake right-wing. Jadi right disitu bermakna “benar” 2. ON. kalo pake for, by and with, maka foto yang cocok adalah foto bersama jokowi atau jk atau bersama keduanya. 3. Jadi pemaknaan thd kalimat tsb adalah, bahwa org yg foto tsb “berdiri di posisi yang benar”, dimana? di nmr 1. mengapa? agar nmr 1 gak kelihatan. So, secara satiris, kalimat itu mengatakan bahwa “saya menutupi nmr 1, agar hanya nmr 2 yg terlihat. dan itu benar karena sy pendukung jokowi-JK”. 4. menurut sy, ide awal kalimat ini memang tidak untuk tafsiran semendalam analisis mbak (sintaksis dan semantik). ini soal bahasa yg mudah dipahami dan mengena. makanya kadang kalimat yg muncul di calon ini misalnya, rapopo. ya ga apa2 walau sesederhana itu, yg penting efeknya mengena ke publik. 5. jadi, mari kita tunggu kreativitas tim nmr 1 untuk membuat AVA serupa. tapi semoga tidak berbunyi “i stand on the wrong side” loh ya? hehe..

    Like

    1. Ide awal si pencipta mungkin tidak sejauh itu, tapi perlu disadari bahwa alternatif tafsirannya bisa sejauh itu. Kalau soal itu efektif, ya silakan saja. Saya menganalisa dari bidang yang saya paham saja kok hehehe.

      Like

  26. Eh satu lagi ding…

    Seperti sebuah nilai estetika. Apa yg indah dalam tata bahasa tidak selamanya harus seperti yg mau dikatakan.

    Jangankan hanya sekedar ambigu. Orang beranggapan kebalikannya atau bahkan tidak memiliki arti apapun, itu bisa terjadi.

    Memang simplenya “pilih jokowi coblos no.2”
    Jangankan bicara “hare gene masih bikin slogan begetoh???!!! Plise deeeeh”
    Nah… Masalahnya dari jaman prosa sangat terkenal pun, ambigu ambigu-an sdh menjadi keharusan dalam informasi. Memberi makna lebih, memberi makna estetika. Seni dalam penuturan. Keindahan dalam mendengar. Memberi makna yg menggugah dalam menyandang slogan tersebut.

    Klo mmg straight to the point itu yg terutama. Yaaaaaa mobil kenapa harus bentuk bgini begitu… Udah kotak aja cukup yg penting gak panas gak kehujanan. Selesai sudah. Tapi malah masing2 brand membuat bentuk yg akan menjadi estetikanya untuk menunjukkan jati diri pada saat berinteraksi dengan yg menerima hasil karya dari estetikanya tersebut.

    Maaf… Seumpama saya dianggap rude, maaf ya.
    Tapi saya seumpama bikin blog juga mungkin bisa bilang.. “Apakah ini si mbak sudah berpikir sebelum menulis blognya ini tentang menganggap orang belum berfikir dlm membuat slogan?”

    Tapi klo saya lakukan itu, nama nya ngeruh2in air. Hahahahaha. Cuman ingin share tentang “Apa sih ambigu dan kenapa ditulis seperti itu kalimat slogan tsb. Yg saya anggapkan bahwa itu teknis estetika”

    Tengkyu lagi.

    Like

  27. Tulisan ini menarik untuk dibaca karena rupanya politik di Indonesia bisa diulas dalam berbagai aspek keilmuan, termasuk bahasa.

    Namun sepertinya, saya dan mungkin banyak orang masih bisa menangkap maksud dari pilihan kata yg digunakan dalam slogan tersebut. Jika kita memperhatikan peran tim sukses dalam kampanye, secara sederhana dapat dikatakan itulah tujuan utama mereka, yakni membuat slogan yg dipahami. Mungkin mereka belum pernah mempelajari bahasa, semantik, dsb secara mendalam, dan bahasa mereka jauh dari sempurna. Mereka berpikir selama tujuan mereka tercapai secara efisien, bagi mereka sudah cukup.
    Lain lagi kalau tujuan utama mereka adalah membuat slogan dengan tujuan akademis, dsb.

    Ulasan yang baik dari sisi akademis dan idealisme penulisan, namun dari sisi praktis, memang kurang praktis. Sisi akademis dan sisi praktis memang dua sudut pandang yg berbeda. Tidak ada yang salah, semua benar, semua perlu dipertimbangkan 🙂

    Like

  28. sangat bermanfaat informasi dan ulasannya…..menambah wawasan saya untuk menggunakan kata yang tepat dalam boso inggris….
    Matur suwun Mbak Yu

    Like

  29. Konteks budaya akan selalu mempengaruhi konteks situasi dengan ketiga fiturnya yaitu field, tenor, dan mode. Apa yang dikatakan merupakan realisasi dari apa yang dimaksud berdasarkan apa yang ada dan dilakukan dalam konteks budaya dan situasi tertentu. Sepakat jika ada yang bilang “the translator must maintain the cultural and situational context”. Terlepas dari itu, jika terlalu jauh dalam mencari apa-apa secara preskriptif saja, saya mah mu nyoblos Halliday sajah lah; Chomsky lain kali.

    Like

    1. Hahahahaha, repot kalau sudah bicara Halliday dan Chomsky! Itu pertarungan yang nggak habis-habis di antara kaum linguist. Tapi seru juga kalau teori mereka saya pakai dalam tulisan saya. Tapi, tulisan yang begini saja sudah dianggap terlalu serius. Apa jadinya kalau Halliday dan Chomsky ikut-ikutan turun gunung? 🙂

      Like

  30. tulisan yg bagus, didukung analisa n pendapat beberapa pakar. terimakasih utk risetnya mbak neny. menurut saya memang benar maknanya bisa berbeda2 dipandang dri beberapa sisi, tergantung cara memandangnya. benar sekali jangan hanya ikut2an tapi gak tau artinya, saya se7. tapi menurut saya disisi lain masyarakat jg bisa memahami secara logika kira2 apa maksud dri kalimat itu. untuk lebih baiknya, gunakan bahasa indonesia aja daripada menimbulkan makna yg berbeda2, terutama bagi sebagian kecil org yg mengartikannya sebagai aliran kanan. saya bilang “sebagian kecil” krn menurut saya hanya sebagian kecil masyarakat yg akan mengartikannya begitu. baiknya bahasa indonesia aja deh,, toh jg bahasa indonesia lebih bisa dipahami masyarakat indonesia. toh jg yg nyoblos org indonesia. 🙂

    Like

  31. Mbak/ Ibu, mengapa di akhir artikel “Thank you for …” bukan “Thank you to …”

    Apakah minor typo error atau disengaja? 😉

    Like

  32. Analisis yang bagus dan menarik. Buat sebagian orang, hal ini mencerahkan.

    Tetapi, buat kebanyakan pengguna media sosial di Indonesia, sayangnya ini tak menarik. Karena bahasa Inggris bukan media yang sehari-hari digunakan. Kalaupun ungkapannya sedang marak-maraknya dipakai dalam musim Pilpres ini, itu lebih karena bangsa Indonesia kebanyakan hobi berjargon bahasa Inggris, bahkan bangga berjargon bahasa Inggris. Sudah lama terjadi, kesalah-kaprahan berbahasa Inggris di kalangan masyarakat. Tetapi, lagi-lagi ini cuma faktor ikut-ikutan/latah berjargon “English.”

    Like

    1. Hahahaha, saya menulis tidak untuk mengharapkan kesan bahwa tulisan saya menarik atau tidak kok. Salah satu teman saya di facebook, Thomas Andrianto, menulis “kita terlalu sering membenarkan yang sudah biasa, daripada membiasakan yang benar.” Entah dari mana dia dapat kutipan bijak itu 🙂

      Like

  33. o ala…itu tho arti foto2 yg aku lihat di facebook. Makasih ya Mbak aku jadi ngerti..soalnya aku sendiri gak ikutin berita pemilu di tanah air.

    Secara umum, Aku sendiri ngeliatnya orang Indonesia hobi banget berbahasa Inggris tapi kurang hobi belajar berbahasa Inggris dan Indonesia dengan benar. Jadi sangat mungkin kalau slogan ini jadi ambigu.

    Karena kan memang ya beda bahasa beda pemakaian, pengertian, beda budaya itu yang kadang orang Indonesia lupa.

    Kalau aku pribadi aku sih lebih menganjurkan untuk menggunakan bahasa Indonesia aja lah…..bukan kenapa2, kita kan orang Indonesia..kalau bukan kita yang memakai bahasa Indonesia..siapa lagi dong??

    Like

  34. blognya lagi rame di kuskas, burung biru berkicau dan di berbagai sosmed dan akhirnya letakin batu pertama dimari(kek pejabat aja) :p
    simpel aja ane sering liat ava kek gitu di group facebook, memang kalimatnya terlihat ambigu(ditranslate juga aneh aneh beud) memang si pembuat mungkin agak berambisi nah ini yang benar kata mbak neny, walaupun mereka memberi promosi, kita harus teliti apakah itu menjebak agar kita dipermainkan dibelakang layar atau menguntungkan kita? tapi ya orang Indonesia itu unique kok jadi gak heran kalau setiap hari banyak informasi berita dari analisis, survey, pengamat dari itu kritik atau saran tetap dimulai dari diri kita, jadi diri kita sendiri, mau ngikut ya ayo kalau gak ya aku rapopo LOL, ya cuma itu aja sih(maaf isinya sedikit dan gak ada isinya)hahahahaha, tapi tetap ane coblos moncong putih nyahahahaha~
    *ralat coblos 2 maksudnya(kampanye dikit dimari gpp dong mbak) :p
    salam wong ndeso dari Yogyakarta :3 <kata orang sih emot manyun

    Like

    1. Wah, rame di mana-mana? Alhamdulillah kalau tulisan saya memancing diskusi (walaupun cukup sakit kepala juga saya membalas satu per satu komentar, tapi nggak apa-apa, saya perlu menghargai semua orang yang sudah meluangkan waktu untuk berkomentar) karena tujuan saya adalah mengajak orang untuk berpikir kritis menyikapi segala sesuatu.

      Silakan kampanye, wong masa kampanye masih berlangsung. Silakan coblos capres mana yang disukai. Tapi… dipikir dhisik nek arep nyoblos, dadi ora mung waton nyoblos.

      Salam balik dari Salatiga! Kota satu-satunya yang menyadari betul bahwa manusia itu selalu punya salah (lha iya, semua orang di Salatiga itu selalu salah tiga, nggak pernah sempurna nilainya! ahahahaha)

      Like

  35. Keren mba, yang mba tulis ini keren banget.. saya baru mendiskusikan hal ini sama suami td malam, tentang keanehan2 dan kejanggalan2 ava tsb,, dan pagi ini saya menemukan blog ini.. pas banget.. hihihihiihi..

    Like

  36. Itu repotnya membahas hal yang obyektif di tengah hiruk pikuk politik. Saya setuju, meski kita sedang kampanye, sebaiknya tidak hanya mengedepankan hal-hal yang emosional. Alangkah lebih eloknya bila lebih berdasar, cukup ilmiah, meski tidak harus selalu akademis. Supaya jargon2nya berbobot dan bisa dijadikan tolok ukur, apabila nantinya ada capres yang menang, sesuai atau tidak realisasi dengan jargon.

    Apalagi yang dibahas kebetulan tidak berasal dari kedua belah pihak. Tulisan yang apik Mbak. Saya rasa setelah baca tulisannya dan komentar-komentarnya, semoga kita masih punya harapan punya tingkat literasi yang baik ya Mbak Neny. Senang baca, kritis, dan mau belajar tentang bahasa, terutama bahasa Inggris sesuai pesan tulisan Mbak Neny. Bila hanya ikut trend, maka bisa-bisa kita pakai bahasa adopsi Inggris yang sering jadi guyonan yang sempet trending di Kaskus tentang surat cinta Mbak Sum pada pacar bulenya “I think very cook cook all” hehehe….

    Salam sukses.

    Like

    1. Kerepotannya adalah menanggapi satu-satu komentar di semua media sosial saya, tapi nggak apa-apa. Saya patut menghargai semua yang sudah berkenan membaca tulisan saya dan menanggapinya dengan kritis 🙂

      Saya selalu punya harapan bahwa masyarakat kita punya tingkat literasi yang tinggi, terutama literasi kritis dan bukan sekedar literasi fungsional. Dengan melihat tingginya intensitas diskusi atas tulisan saya, harapan itu semakin meningkat 🙂

      Like

  37. Ah kalau saya sih nggak khawatir, rasanya cuma ikutan tren edit fotonya doang. Maklum anak muda sukanya yang lagi happening, boleh lho dilihat avatar twitternya di @asysyifaahs, Mbak.

    Ah iya, boleh nggak ya sedikit mengutip penjelasannya untuk dipost di blog saya? Minta izin supaya nggak dibilang copas 😀

    Like

    1. Saya juga nggak khawatir, selama pemakai foto itu paham betul apa maksudnya foto itu. Ikut tren itu nggak masalah kok, asal jangan ikut-ikutan tanpa pemahaman 🙂

      Silakan mengutip dan terima kasih sudah bersedia membagi tulisan saya.

      Like

  38. Untuk tulisan tentang grammar sepertinya terlalu mencari-cari kesalahan sesuatu yang sudah tepat. Karena stand on sudah tepat kalimat ini. Kalau stand for/stand with tepat kalau dibelakangnya adalah nama capresnya seperti “I stand for/I stand with Jokowi”

    Sedangkan untuk tulisan sosial terlalu mengada-ngada dan out of context

    Like

      1. Sudah ditanyai belum dia? Kalau setelah ditanya, orangnya bisa menjawab dengan argumentasi yang masuk akal, ya mungkin sudah kritis juga 🙂

        Like

  39. Kritis.
    Saya salut dengan anda. Anda bersedia berbagi pikiran anda tentang sebuah fenomena yang menggejala di masyarakat. Tulisan anda yang bersamaan dengan demam politik di Indonesia membuat tulisan anda menjadi hits.

    Saya yakin bahwa anda memiliki empati yang tinggi. Hal tersebut tercermin dari setiap komentar yang masuk, anda berikan balasan satu persatu. Tentu ini sangat menyita waktu dan pikiran anda. Meskipun komentar yang masuk tidak senada dengan maksud yang ingin anda sampaikan.

    >>> Apakah kamu tidak berpikir? <<<

    Bagi yang beragama Islam tentu sering mendapati terjemahan ayat yang artinya seperti di atas. Berpikir hanya dilakukan oleh makhluk yang diberikan akal dan salah satunya adalah manusia. Sedangkan, makhluk lain, hanya diberikan naluri seperti misalnya: kalo lapar, ya makan.

    Semantik atau pemaknaan kata dan kalimat sangat penting dalam sastra. Inggris, Arab dan bahasa lainnya. Oleh karena itu, urutan kata dan pemilihan kata itu menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Semoga kita menjadi lebih kritis, mau berpikir sebelum berucap, berkata-kata ataupun bertindak. Karena hal tersebut akan mendatangkan konsekuensi bagi si pengucap.

    Terima kasih telah berbagi

    Like

    1. Sama-sama! Terima kasih sudah membaca tulisan saya 🙂

      Cukup menguras energi untuk membalas satu-persatu, namun saya patut menghargai setiap komentar karena mereka juga meluangkan waktu dan pikiran untuk membaca secara kritis tulisan saya.

      Like

  40. Artikel ini menarik sekali, saya setuju bahwa maksudnya ON the right side memang ambigu. Akan tetapi, saya sebagai orang Australia dan penutur asli bahasa Inggris mengerti apa yang dimaksudkan dengan slogan ini. Saya yakin pendukung Jokowi sudah tahu bahwa beliau bukan fasis.

    Although it is an ambiguous slogan, if people understand the slogan to mean something does it really matter?

    For me what matters is how it is understood …

    Thank you for the article:)

    Like

    1. Thanks for dropping by and taking the time to read my post, Tim! Many others who commented have pointed out that the general public understand the slogan and it does not really matter if the meaning may carry different interpretations than what may have been intended.

      Still, as my objective in writing this is for public to think critically, I see my need to point out that exact point of differences in meaning, so the public is aware of such difference. In particular, I aim for the public to start having critical literacy, instead of just functional literacy. In this digital era, quite often I found that people simply comment or share any piece of news or information, without evaluating the news/information critically.

      Again, thank you!

      Like

  41. Wah masih banyak slogan dan materi kampanye lain (dari kedua capre) yang secara tata bahasa lebih kacau mbak. Coba sekalian dibahas itu materi kampanye yang lain 🙂

    Like

    1. Hahahahaha, semoga punya waktu dan energi untuk membahas bentuk kampanye yang lain. Mungkin setelah pemilihan presiden kelar, sehingga saya nggak dituduh mendukung capres yang ini atau yang itu 🙂

      Like

    1. Hahahaha, resikonya menjadi kritis adalah dibully. Semoga dimampukan untuk menghadapinya dengan kepala dan hati yang dingin dan tetap menyikapi dengan kalem.

      Terima kasih sudah mampir 🙂

      Like

      1. thanks ya mbak.. setidak nya ini pelajaran buat saya sendiri (konsumsi pribadi) 🙂

        buat saya, tulisan mbak jelas tidak menggurui atau memihak ke salah satu capres.
        ya dimaklumi aja ya mbak kalau situasi lagi panas he..he..he..
        yg baca jadi berapi-api juga. 🙂

        terlepas dari tulisan mbak.
        semua penduduk indonesia cuma ingin perubahan ke arah yang lebih baik.

        saya izin share mbak..
        GBU 🙂

        Like

  42. Hi salam kenal.

    Saya juga bukan pendukung siapapun. Tapi kalau ada penggunaan bahasa yang kurang benar, saya juga pasti ingin ikutan komen. Saya juga bukan orang yang bikin kalimat tersebut.

    Saya sangat menghargai usaha yang telah dilakukan dalam menganalisa tata bahasanya. Saya izin menanggapi bila boleh.

    Ada satu kemungkinan lagi. Dalam bahasa Inggris pernah ada kalimat “Where do you stand on private education?”

    Stand (on something) is used to have a particular attitude or opinion about something.

    Bisa jadi kalimat itu murni merupakan ekspresi si pendukung. Bukan statement yg diberikan dari si capres. Bila iya, berarti kalimat itu benar. Selama dengan catatan kalau frase “on the right side” murni berarti “pihak yang benar”.

    Kira kira begitu. Maaf, sekedar menanggapi aja. Silakan ditanggapi balik.

    Like

  43. Ini kan pengungkapan ide atau opini lewat gambar dan tulisan. Seperti banyak lirik lagu yg gak pake tata bahasa yg benar. Tapi diterima khalayak ramai tuh. Mungkin mbak sering nyanyi2 kecil lirik lagu yg tata bahasanya tidak tepat.

    Jadi gak usah dilebih2kan. Itu ungkapan anggap aja lirik lagu. Nah, biar kesannya mbal gak nyari tenar via kampanye, mending abis ini tulis soal penggunaan bahasa inggris yg baik dan benar dalam hal2 yg jauh lebih berkualitas kajiannya, seperti di papan petunjuk, di manual guideline, bahkan bahasan translasi bahasa di instagramnya bu ani tuh. Jadi, jangan lebay yah mbak, dan coba cari kajian yg lebih berkualitas.

    Sekian

    Joko

    Like

  44. Apik mbak; nggo materi belajar. Matur nuwun.
    Tapi pemakai slogan “ISoTRS” ga mikir sedalam itu. Berpihak pada yang (diyakini lebih) benar, atau yang di kanan (kemungkinan nomor 2 disurat suara posisinya di samping kanan nomor 1); Jokowi-JK

    Like

  45. He..he.he..Neny, pepatahan I stand on the Right side, harus dilihat dari sisi Inglish, alias Indonesian English dan konteksnya.
    Setiap negara yang bukan negara originalnya English selalu ada kalimat yang tidak sesuai dengan pakem, sedang di US aja dalam bahasa sehari hari banyak yang salah grammarnya kok…he.he.he..
    Kalimat “I stand On the Right Side” hanyalah ungkapan ingin mengatakan, “Berdiri membela Orang Baik, Pihak yang Bersih atau Pilihan yang Tepat” jika mau ditafsirkan itu Right Wing fasis yang analisa alias hanya orang itu yang berbeda menafsirkan alias orang aneh..ha.ha..ha..

    Like

  46. He..he.he..Neny, pepatahan I stand on the Right side, harus dilihat dari sisi Inglish, alias Indonesian English dan konteksnya.
    Setiap negara yang bukan negara originalnya English selalu ada kalimat yang tidak sesuai dengan pakem, sedang di US aja dalam bahasa sehari hari banyak yang salah grammarnya kok…he.he.he..
    Kalimat “I stand On the Right Side” hanyalah ungkapan ingin mengatakan, “Berdiri membela Orang Baik, Pihak yang Bersih atau Pilihan yang Tepat” jika mau ditafsirkan itu Right Wing fasis, boleh sih, tapi hanya orang yang berbeda menafsirkan itu aneh, ini bahasa politik Wong Inglish kok..ha.ha..ha..

    Like

  47. Mbak neny, tulisan anda 100% benar tetapi pada saat yg sama 100% tidak applicable untuk situasi di Indonesia. Tulisan anda 100% tepat dan applicable di negara2 yg punya ideologi politik yg jelas. Ideologi politik di negara amerika misalnya, jelas terbelah kepada 2 kubu, kiri dan kanan (3 sebenarnya krn ada juga yg mengkalim diri: independent) tetapi di Indonesia? Siapakah partai politik (dan kandidar presiden yg mana) yg kiri, kanan, atau independent?? Sangat tidak jelas, paling tidak buat saya. Jadi, saya 100% setuju atas analisa anda yg sayangnya, menurut saya, 100% tidak applicable untuk situasi di indonesia. Kita masih berkutat pada hal-hal yg pragmatis belum yg ideologis. Di lain pihak, teruskan menulis analisa2 anda mbak neny, saya nantikan!! 😀

    Like

  48. justru ketika maknanya disimpangi (sengaja atau tidak), bahasa menjadi dinamis dan hidup. tugas ahli bahasa bukan hanya memagar makna, tetapi juga mengakomodasi makna (baru). saya mendukung jika bahasa inggris diperbarui oleh orang indonesia.

    Like

  49. haduh ngga selesai mbaca koment2nya yang menarik dan bikin cengar cengir *gegara harus nganterin anak k daycare n nyambut gawe* …sampe segininya ya…lucuu..
    yang menarik adalah dirimu mba…kayanyaa sukaaaaa bgt mikir njelimet…*remind me of sum1..tp ini sungguh bikin pagiku berwarna dg banyak pemikiran, mengingatkan dunia perkuliahan waktu muda dulu..dan sampeyan rajin yaaa mbales komen, saluut
    salam kenal, aku juga pernah suatu masa jd orang mbahrowo..serasa ngobrol ma tetangga ^^

    Like

  50. he he jadi lucu juga lihat komentar2 di atas..jadinya pingin ikut nimbrung nyimpulin
    1. ” siapa makan cabe pasti merasakan pedas”..
    2. “Waspada beda tipis dengan curiga..”
    3. ” cinta itu buta”
    4. ” dimana ada peluang disitu ada tantangan”
    5. ” kata temen : Sombong itu menutup hati”
    6. ” salah satu yg di retweet oleh wimar : Netral is Immoral”
    7. ” karena Tuhan mengaruniakan rasa sensitif mbak Neny jadi populer ”
    8. ” terimakasih atas tulisannya..

    Like

  51. yang tersinggung dengan tulisan ini, maaf, jangan sering menutup mata seperti itu. bahasa itu penting, makna dari bahasa itu lebih penting. terlalu egois kalo misalkan dari tagline aja ngga mau di kritik. mikir….

    buat mba neny, jangan takut di bully mba, kalo perlu, kritik juga tagline “Macan Asia”, kira-kira maknanya bagus atau tidak. 😀

    Like

  52. Halo Mbak.
    Saya mendapat tautan tulisan ini dari teman di FB yg pro left side #eh, dan sebenarnya saya sendiri utk sementara ini agak condong ke pihak situ.
    Sempat ada godaan utk berbagi tautan link ini di akun2 socmed saya, hanya utk menggoda teman2 yg ikut2an menggunakan ava di atas, tapi kemudian saat membaca komentar2 di artikel ini saya merasa berempati dg Mbak sehingga tidak jadi melaksanakan “niat jahat” saya.

    Apa yg Mbak tulis menurut saya adalah kajian akademis yg baik terhadap fenomena yg Mbak temui, dimana fenomenanya adalah kesalahan berbahasa Inggris dalam slogan politis. Saya bukan ahli dalam bidang ini, jd kalimat barusan mungkin salah dalam hal pemilihan kata-nya hahahaha.
    Yg membuat sedih adalah komentar yg nadanya, “Ya sudahlah, nggak usah segitunya.”
    Saya sedih krn menurut saya tulisan ini adalah produk intelektual yg didapat setelah melalui proses pembelajaran yg dalam & membutuhkan pengorbanan yg tak sedikit, tetapi tidak mendapat penghargaan secara akademis yaitu ikutan urun rembuk dalam diskusi yg apik, instead malah diminta utk tidak mengkaji terlalu dalam.
    Sebagai sesama akdemisi dalam bidang lain, saya merasa ikut sedih jg krn sering ada di posisi yg sama.

    Berbahasa bukan hal sepele. Dalam Agama saya, ayat pertama yg turun mengatakan, “Bacalah.”
    Itu produl bahasa.
    Saya mau mengucapkan terimakasih atas artikel yg sangat bermutu ini, saya merasa lebih cerdas sedikit hahahaha.

    Semoga saya bisa meluruskan niat saya, sehingga tidak menghalangi pengajaran ilmu Mbak di tulisan ini ke teman2 saya (saya harus lurusin niat dulu sebelum ngeshare hahahaha).

    Like

  53. saya juga bingung mbak.. tapi saya tidak mempermasalahkannya karena emang saya tidak ngerti bahasa inggris.. 😀
    yang membingungkan saya adalah penempatan fotonya.. jika diartikan berada di kanan, kenapa fotonya dipajang di kiri..? trus jika di artikan berada di sisi yang benar, berati dia menndukung yang kiri lagi kan..? yang memperjelas maksud hanya nomor dan siapa yang mengkampanyekan.. 😀
    (Itu pandangan saya yang awam tentang bahasa asing)

    Like

  54. Saya hanya mau tanya 1 hal, karena berkali-kali disebut oleh Anda baik sebagai jawaban maupun dalam artikel utama:
    Sebenarnya apa definisi kritis menurut Anda?

    Like

  55. A untuk mbak Neny 🙂
    C+ untuk mbak dhian yang posting di awal-awal comment 🙂
    tulisan yang bagus mbak, saya sendiri selalu risih dengan penggunaan bahasa tsb. pembahasan yang mencerahkan

    Like

  56. Dapat link dari medsos, mendaratlah disini.
    Aniway, setelah baca2 tulisannya kejawab sudah pertanyaan saya belakangan ini melihat fenomena Display Picture teman-teman di media sosial.
    Ulasannya sangat menarik mba, maap saya awam masalah dalam linguistik dan bahasa, namun secara brand, keingintahuan sayalah yang membaca tulisan dan komentar postingan ini sampai selesai.
    Dan ternyata komentarnya lebih panjang dari tulisannya, artinya semua orang yang mengunjungi kesini terkritisi oleh tulisannya.
    Mudah – mudahan komentar saya berkenan,
    Salam kenal dari bandung

    Like

  57. Pertama kali lihat ava dengan slogan ‘I Stand On The Right Side’ ini saya teringat kalimat yang dipakai Human Rights Campaign: ‘I stand on the right side of history’, mungkin si pembuat mengambil dari sana (mungkin saya salah 😀 ).

    Like

  58. Kalo saya menilainya dari sisi lain. Kanan itu dalam medis harus dilihat dari objek yang diobservasi bukan yg menilai. Seharusnya kanan itu yang #1 kiri yang #2. Yah, ini hanya sekedar pandangan saja.

    Like

  59. I don’t know much about advertising or political slogans, but surely you don’t want them to be ambiguous or confusing as this one certainly is. I’m also confused as to why it would be in English given that so few people understand English in Indonesia. Could it be a hoped for gengsi effect ‘Jokowi supporters are clever they speak English and have education and money and I want to be like that so I will vote for him? Anyone know whether the campaign was organic or the work of a consultant?’

    Like

  60. Hahaha menarik sekali… dari pada bermakna ambigu saya lebih suka menganggap slogan kampanye ini bermajas metafora, jadi kalau saya tidak menterjemahkan secara harafiah. Menurut saya ini masalah paradigma saja, dari sudut mana kita melihat suatu permasalahan. Mbak Neny dari kalangan akademisi yang tahu betul tata bahasa tentu berbeda dengan saya yang hanya belajar bahasa sampai tingkat SMA saja. Dari tulisan ini saya tidak melihat ada maksud dari Mbak Neny untuk memihak salah satu kandidat, dia hanya mengkritisi masalah tata bahasa yang dia nilai tidak sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa yang benar. Ambil positifnya saja, perbedaan adalah kekayaan bukan perpecahan, belajar menghargai perbedaan itu baik. Mbak Neny benar tapi pembuat slogan juga tidak salah… mari belajar berdemokrasi.

    Like

  61. Nice article! Menarik 🙂
    Uhmm… saya sendiri juga mempertanyakan hal yang mirip saat pertama kali melihat ava ini. Kok “stand on”, bukan “stand for”? Tetapi kemudian saya menganggap bahwa “I” di sini mengacu pada gambar yang harus dicoblos, yang mana memang “on the right side”. Sementara “right” sebagai lawan kata dari “wrong” adalah makna konotatif yang muncul belakangan.

    Like

  62. Tulisan nya bagus.. memberi pencerahan..
    Iya akhir2 ini sering banget liat ava tersebut..
    Klo sy mengartikan kampanye tersebut mengarahkan untuk memilih kolom sebelah kanan pada kartu suara nanti yang kebetulan untuk nomor 2 jatuh di kolom sebelah kanan..

    Like

  63. Bahasa Inggris itu buanyak loh mbak,,, anda mengacu sama Bahasa Inggris mana? Amerika atau British. bahasa Inggris bnayak gak harus ke pusatnya British sana,, beda negara beda pembawaan,, contohnya Singlish,, kurang ambigu apa lagi bahasa mereka,, jangan pernah mencoba menerjemahkan Bahasa Inggris Singapura dengan British terbalik-balik kosa katanya. Nah ini anggap aja Bahasa Inggirs Indonesia 😀 Indlish

    Like

  64. Jangan lupa, Nen: Ambiguitas justru merupakan keunggulan bahasa iklan. Melalui ambiguitas pembaca dipaksa berhenti dan merenung. Dengan itu, sasaran iklan untuk mendapatkan perhatian audien tercapai.

    Like

  65. wah, jangan mikir terlalu jauh..banyangkan saya jika dalam acara pemotretan, dia bilang,”please ma’am, stand on the right side”, apakah artinya sampe sejauh ini?? *geleng2

    Like

  66. Sebagai orang yang tidak mendalami bahasa, saya mengambil pelajaran berharga. mungkin mirip, “kesehatan nomor satu, pemilu capres mah nomer 2, ambigu (dwimakna).. entah lah haha..

    Like

  67. nice effort, heu. btw, ngutip bertrand russell saja:
    “War doesn’t determine who is right, only who is left.” 😀

    #bukanpolitik #gaknyambung #healtheworld

    Like

  68. Mantap sekali analisanya, cermat dari hal yang kecil. Meminjam ungkapan yang sering diucapkan oleh politisi, “kita kembalikan kepada rakyat, biar rakyat yang menilai.” hahaha

    Like

  69. Ini bukan slogan bu, tapi LOGO. Analisa semiotik lebih tepat dipakai, bukan analisa linguistik, apalagi sekedar tata bahasa Inggris formal.

    Janganlah anda seolah2 mempermalukan teman2 yg memakai ava ini sebagai nggak paham bahasa Inggris atau ikut2an.

    Secara sinkronik kita bisa lihat bahwa 50% space adalah foto anda yang diletakkan sejajar di sisi kiri kotak berwarna merah. Artinya ANDA sama pentingnya dengan warna merah. Lalu sekitar 70% space kotak merah dipakai untuk teks angka 2. Ini menandakan sesuatu. Baru 30%nya teks “I stand on the right side”. Jadi mohon dianalisa sebagai desain logo, bukan semata2 slogan.

    Kalau slogan itu bu, tulisan “I stand on the right side” sebagai statemen, akan diletakkan di sisi kiri atau atas dan foto kita di sisi kanan atau bawahnya. Dan, tidak perlu ada angka 2.

    Jadi teman2 yg sudah memakai ava ini, ayo terus pakai dan sebar luaskan. Its a well designed logo.

    Like

  70. Mba Neni 🙂
    Aku senang sama tulisan ini. Tulisan cerdas memancing diskusi cerdas.
    Hari-hari ini banyaknya tulisan black/negative campaign yang ujung-ujungnya dipenuhi komentar robot berbayar.
    Terimakasih yaa,
    I stand for Jokowi and JK.

    Like

  71. ribet amat si mbaknya, itu kan sesimpel karena nanti surat suara hanya ada 2 kandidat capres, dan nomor dua posisinya ya di sebelah kanan. hanya bahasa kampanye untuk mengingatkan pemilih untuk memilih yang kanan, mencoblos yang di sebelah kanan. sama aja kayak, nomor satu itu datang ke tps, kalau milih ya nomor 2. atau mungkin akunya yang terlalu simpel ya :p

    Like

  72. aku baru lulus SMA dan sangat nggak ngerti soal politik, bahasa inggris juga gak bisa. Jadi bukan mau sok ngerti apa gimana, cuma mau numpahin pikiran setelah selesai baca, sederhananya, lah wong capres Indonesia ndadak dukung pake slogan bahasa inggris, yang bahasa inggris nya cuma ngerti yes no ibaratnya, mereka cuma ikut-ikutan pasti. Sedangkan masalah maksud dibalik slogan itu pasti lebih banyak yang nggak ngerti. Orang Indonesia kan udah khas sama yang namanya ikut-ikutan tren. Menurutku juga ya kurang pas kalo dianggap sepele, ini kan masalah orang nomor 1 di Indonesia. Kritis itu penting kok ya mbak. Hehe.

    Like

  73. Halo mbak, menarik, slogan dikaji secara gramatikal. Tapi kalo gak salah ingat, slogan ini itu keluar setelah acara mata najwa yang menampilkan anies bawesdan dan machfud md tentang ‘prabowo vs jokowi’ booming di socmed. Ini konteksnya ketika anies bilang saya berada di pihak yang benar. Jadi slogan ini mungkin mengambil konteks dari omongannya anies. Gitu sih menurutku…

    Like

  74. Nice post, mba. Waktu lihat avatar ini saya malah iseng mikir, posisi kanan kiriakan diartikan berbeda oleh pembaca. Saya malah melihat yg punya avatar berdiri di sebelah kiri, seperti umumnya caption foto di koran atau majalah :). Btw, ngulik struktur kalimat secara grammar itu emang asyik, kok.

    Like

  75. Hahaa… Pertama ini bukan bermakna “mendukung” tapi menegaskan posisi. Artinya bukan “saya mendukung A”, dan bukan “mendukung B”, tapi “saya berada di posisi yg benar”, tanpa menyebut siapa atau apa yg didukung. Preposisi ‘for’ lebih pas kalo sosok yg didukung disebut juga, misalnya “I stand for Jokowi”, atau kayak lirik lagu “I’ll stand for you”. Kedua, soal ekstrem kanan, ya sama-sama tau lah maksudnya bukan itu, jauh amat hehe… Kan tergantung konteksnya. Ini slogan konteksnya kan pilpres. Kalo konteksnya piala dunia, misalnya, slogan itu artinya mendukung tim sepakbola yang di sebelah kanan 🙂 Lagipula maunya sih nulis “Saya Berpijak di Sisi yang Benar”, tapi selain kepanjangan kok kayaknya puitis amat ya

    Like

  76. keren mba,..
    saya jadi ingat, penggunaan bahasa yang tepat pada saat yang tepat.
    secara penafsiran biasa, banyak yang bisa ngerti. Tapi kalau dari pola bahasa, orang2 bahasa ga bisa menafsirkan begitu aja..
    Nice..

    Like

  77. Meski banyak yang sebenernya ingin saya komentari, tapi ijinkan saya bertanya dan berkomentar satu hal tentang fasisme (politik sayap kanan) apakah ilmuwan jago bahasa tersebut sudah memahami pandangan politik luar negeri Indonesia seperti apa? Setau saya pandangan politik Indonesia adalah politik bebas aktif yang salah satu artinya tidak memihak ke “kanan” maupun ke “kiri” sesuai yang diatur di Undang-Undang. Sedangkan untuk menjadi capres saja pasti ada persyaratan bahwa bakal Capres tersebut tidak sedang melanggar Undang-Undang tersebut. Memang komentar dari para ahli tersebut reliable, tapi apakah relevan? Apakah para ahli tersebut sudah belajar terlebih dahulu tentang pandangan politik luar negeri Indonesia? Mengingat konsumsinya untuk di dalam Negeri Indonesia. Saya rasa pengamat politik luar negeri pun seharusnya cukup bijak untuk mempertimbangkan hal tersebut. Satu saran dari saya, jangan salahkan pembaca bila pembaca menilai anda berpihak ke satu pihak Capres tertentu. Karena pada laman ini, memang hanya jargon satu capres saja yang Anda kritisi.
    Terima kasih.

    Like

  78. Menurut saya, memang mbaknya terlalu kritis, tapi ya memang gak apa-apa terlalu kritis juga. Akan tetapi, sebelumnya, hendaknya mbak harus lebih tahu bagaimana sejarah pembuatan AVA ini.
    Mbak tadi bilang jangan sampai orang ikut-ikutan tapi gak paham artinya, dan saya pikir mbak juga ikut-ikutan membuat kritik ini tanpa tahu asal muasal pembuatan AVA ini sehingga bisa tahu apa arti dari AVA ini. untuk lebih jelas bisa cek twitter ide pembuatnya @monstreza ^_^
    Saya baca di salah satu komen, mbak bilang kalau memang maksudnya on the right side itu di sebelah kanan, kenapa fotonya ditaruh di sebelah kiri?
    Ini kesalahan fatal juga jika mbak nggak merunut asal muasal bagaimana AVA ini dibuat. Seperti yang diungkapkan Ernest Prakasa yang juga pemrakarsa masal AVA ini di twitternya. Yang menggunakan foto ini terserah mau meletakkan fotonya di sebelah mana saja, di sebelah kiri silakaaan, di sebelah kanan monggo. bisa dicek di akun twitter @ernestprakasa.
    Yah, ada baiknya, sebelum membuat kritik, harus diketahui terlebih dulu latar belakang dari apa yang dikritik tersebut, kenapa bisa begitu dan dibuat seperti itu? jadi tidak menjadi kritik buta. Terima kasih ^_^

    Like

  79. Karena berkepentingan dan banyak yg latah ngeshare, maka comment saya:
    1. Saya memilih menerima ketidaksempurnaan grammar (kalopun maksa), demi mendukung/encourage kampanye yg positif dan kreatif, daripada menshare kampanye yg discourage dan negatif
    2. Makna lugas paling fun : saya milih yg sebelah kanan (di kartu suara). Oke kan?
    3. Dari artikel: makna lugas nya oke2 aja. Temen2 saya yg pengguna aktif English di Australia dan UK baik2 saja juga.
    3. Kalau belum puas, bisa buat ulasan yg bagus kirim ke media nasional/internasional yg high impact, tapi biasanya tidak menerima reference wikipedia.
    4. Selama tidak menyinggung orang dan tidak melanggar aturan, please taket easy and have fun!
    5. Masih belum puas juga..hmm saya cuma bisa comment: what is your problem?

    PhD student
    Sydney Medical School
    The University of Sydney
    Australia

    Like

  80. Satu lagi, saya tidak memiliki background ilmu komunikasi, bahasa, ataupun politik. tapi saya pernah diajarkan waktu SD tentang pandangan politik luar negeri Indonesia. Sekali lagi ini kan untuk konsumsi Indonesia. Saya juga tidak melihat anda mengambil referensi tentang ahli budaya, sosiologi, dan komunikasi Indonesia. Agar informasi ini setidaknya sedikit berimbang. Beda cerita jika presiden terpilih nanti tetap menggunakan jargon “Stand On The Right Side” meski sudah jadi presiden. Baru saya pun tidak setuju dengan hal tersebut karena menimbulkan opini multinasional. Saya tau blog ini dari rekan saya yang membagi tautan halaman ini di Facebook. Taukah anda, seberapa besar jaringan facebook? Bagaimana bila yang membaca ini adalah pemilih yang latar belakang pendidikannya jauh dibawah anda, lalu pembaca tersebut mengambil kesimpulan singkat lalu beranggapan bahwa Capres yang mengusung jargon tersebut adalah (maaf) Fasis? lalu menyebarkannya lagi ke orang lain, dan seterusnya? bisa jadi ini digunakan oleh oknum untuk melakukan black campaign kepada capres yang jargonnya Anda soroti tersebut. Sebaiknya, segera buat informasi/berita penyeimbang.

    Like

  81. Tulisan bagus, Mbak. Saya jadi understand sitik-sitik boso Inggris. If i don’t understand may be i stand under you…… *halah wagu

    Like

  82. Wah, tulisan yg bagus, mbak! Hebat!
    Tapi kalo misal yang dimaksud adalah “di pihak yang benar”, benar menurut apa/siapa? :p

    Like

  83. Njenengan cerdas menulis… udah jarang nemu blogger mikir sebelum nulis ^_^ (izin share di akun facebook ku mba)

    Like

  84. Wah sampai segitunya dianalisa bahasanya ya.. Kalau saya pribadi tidak menganggap hal ini perlu dikaji sedalam itu, apalagi sampai mencari referensi yang sebanyak itu hehe.. Tapi tetap salut dengar analisany mbak neny (Y)

    Like

  85. Tulisan yang sangat menarik, Mbak. Menurut saya pemilihan kata dalam suatu bahasa itu sangat penting, karena bahasa menunjukkan kecerdasan dan kesadaran berpikir kita. Terutama ketika kita menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibu kita, faktor seperti “perasaan” dan “kebiasaan” tidak berlaku lagi, karena kita tidak tahu bagaimana kata itu digunakan di tempat asalnya 🙂

    Hidup bahasa Indonesia! 😀

    Like

  86. Salam kenal.

    Perlu diakui, emang kritis bgt tulisan anda. Dan saya jg setuju, emang bener ada potensi menimbulkan “wrong impression” itu. Tapi saya lebih tau tentang sisi komunikasi, dibanding sisi bahasa. Dan di komunikasi, there’s no such thing as a bad publicity. Publicity is publicity, that’s it. Dengan posting mbak yg membahas salah satu metode kampanye ini, yang kemudian dibaca, dibahas, dikomentari, dan dishare oleh bgitu bnyk org, apabila saya salah satu anggota tim sukses pasangan nomer 2, saya akan datangi dan jabat tangan mbak dengan penuh rasa terima kasih. No matter bagaimanapun reaksi pembaca. 🙂

    Like

  87. kereeennn… mantap teh mantaapp…
    teruskan teh… :v
    salah satu syarat jadi pemimpin kan musti mau di kritik..
    klo baru di kritisi saeutik aja udah bilang memperumit, mental pun udah agak melempem gimana mo memimpin negara? :v

    Like

  88. Kritis dan inspiratif, sayang ada aja yg mengomentari dengan sinis. Semoga aja artikel ini gak jadi bahan untuk menjatuhkan capres tertentu oleh pihak tidak bertanggung jawab, terima kasih nyempetin buat bikin artikel ini 🙂

    Like

  89. Maf Mbak Neny yang budiman
    Anda yakin kritis tentang bahasa?

    Sebagai orang bahasa harusnya paham morfosintaksis penulisan kata mengkomunikasinan tidak benar!
    mengomunikasikan lah yang benar melalui proses morfosintaksi menurut TBBI
    Analisa tidak masuk bahasa Indonesia harusnya analisis. coba cek KBBI

    Kalau Anda saja bisa meributkan kata “I stand on the right side” menjadi begitu rumit sampai membawa “right wing”, tak salah kan saya mengomentari penggunaan bahasa Indonesia Anda dalam membalas komentar.
    *untuk mengecek ctrl + f cari kata (analisa dan mengkomunikasikan) milik Anda

    slogan : perkataan atau kalimat pendek yg menarik, mencolok, dan mudah diingat untuk menjelaskan tujuan suatu ideologi golongan, organisasi, partai politik, dsb:

    setelah memahami pengertian slogan
    Mungkin Anda ingin menjelaskan secara gamblang menggunakan teori bahasa, tetapi kekhawatiran Anda ditengah panasnya pemilu presiden akan berdampak emosinal kepada pembaca yang tidak mengerti lingustik apa lagi politik.

    Secara sederhana dan arbitrer orang sepakat kata ” 2, I stand on the right side” adalah dukungan untuk JKW dan JK.
    Orang tidak memikirkan sampai right wing atau makna secara mendalam.
    karena perkataan atau kalimat pendek “I stand on the right side” sudah mewakili tujuan sang pemasang avatar. Nomer 2 saya berdiri di sisi yang benar, berartri dukungan untuk capres nomer 2.

    Selesai.

    Paradigma yang terlalu khawatir, berlebihan tanpa membawa referensi akademik tentang bahasa malah menguatkan argumen dengan referensi politik bukannya bahasa.

    Like

    1. Anda juga banyak melakukan kesalahan ketik, kok. Yakin sudah kritis juga? Sejak kapan Indonesia punya TBBI? Sejak kapan di awal kalimat menjadi huruf kecil? Sejak kapan juga tanpa ada titik yang menandakan akhir kalimat, lantas ada huruf kapital padahal bukan nama atau merujuk kepada tempat?

      Yakin sudah kritis???

      Like

  90. It is a comprehensive analysis.
    But actually, it comes from ” I stand on the right side of history” of Martin Luther King.

    Like

  91. hai mbak neny,

    bahasan yg cukup menarik. well while we’re on the subject, sekedar masukan, untuk kalimat “Full references for the term “right wing politics” can be viewed in the Wikipedia link provided.” harusnya yang dipakai adalah “full references on”, bukan for. jika pakai for itu bermakna referensi untuk (semacam reference for employment), sedangankan reference on itu bermakna referensi tentang.

    selain itu kata2 “discussion of this matter” seharusnya “discussion on this matter”. padanan diskusi diikuti kata pengganti topik tidak memakai of, tapi on.

    mudah2an ilmu bahasa inggris saya belum meleset 🙂 atau mungkin mbak neny sengaja ngetest yg baca lagi seperti masalah thank you di atas :)))

    Like

  92. Keingintahuan saya tentang slogan tsb, membuat saya terdampar ‘on the right blog’ ini. wekeke.. Setidaknya, rasa penasaran saya mulai terjawab dg adanya pencerahan ini. Tengkyu (kata ini pasti tak ada di wiki).

    Like

  93. paling tidak, saya mendapat pencerahan. setidaknya pemilihan bahasa harus teliti terutama untuk dokumen resmi publik. jangan sampe guyonan politik jd dokumen resmi politik. mendadak sayap kanan pula saya, wakakaak padahal sudah belajar jd kultural

    Like

  94. itulah indonesia 😀 banyak yg latah, sesuatu yang salah dianggap benar karena “kelatahan” itu 😀 padahal sejati nya yang di “latahi” itu belum tentu benar / baik 😀 terima kasih sudah berbagi informasi 🙂

    Like

  95. ini permainan kata2, secara gramatis (bahasa inggris) tidak ada yg salah. Membuat anda menganalisa ini, mungkin tujuan dari statement itu. Ini ada hubungannya dgn marketing dll. Tapi tahu apalah saya, cuma secara bahasa inggris ” I stand on the right side” tidak salah, pada saat anda menganalisa harusnya “For” atau “By” anda terjebak masuk ke retorika kalimat itu sendiri.

    Like

  96. wah ini nih! keren pembahasannya, saya sudah feeling ada yang kurang tepat dengan penggunaan katanya, langsung feeling ambigu, sekali baca langsung mikir kalau kesannya seperti lokasi/tempat, padahal bagi yang baca foto orangnya ada di sisi kiri, dan bisa bermakna golongan tertentu, keren mba (y)

    Like

  97. Kok pikiran saya juga sama yah, pertama kali saya lihat slogan ini, kayanya ada yang janggal,apalagi yang kata RIGHT nya, slogan ini seakan-akan dia yang RIGHT -wing dan yang satunya lagi LEFT -wing. Baru aja saya mau ngulik ini slogan, eh sudah keduluan sama si mbak, salut buat si mbak.

    Like

  98. sekedar berbagi pandangan dikutip dari status Ibu Elin di FB………..

    Analisis Mas Rudi Sukandar, doktor interpersonal communication dari Ohio University ttg “I Stand on the Right Side”. Keren sekali.
    Dari yang saya lihat memang kekuatan dari slogan itu adalah pemaknaan konotatif di samping denotatif dari frase “on the right side.” Karena dari beberapa perspektif “right” itu memberikan makna yang positif, misalnya sebelah kanan (yang, setidaknya, dalam perspektif Islam merupakan representasi kebaikan), benar. Meskipun dapat juga berkonotasi negatif bagi mereka yang kebetulan berseberangan dengan pihak konservatif yang direpresentasikan sebagai pihak kanan.
    Namun yang perlu saya tambahkan adalah bahwa(dari sisi semiotik visual) sisi kanan melambangkan kekuasaan (coba lihat posisi berjalan, berdiri, dan duduk dari Ratu Elizabeth dan Pangeran Phillips). Dari sini IMHO, frase “I stand on the right side” dapat diartikan bahwa saya (selaku rakyat) ) adalah pemilik kekuasaan yang sebenarnya dan para pemimpin (Jokowi, JK, Prabowo, Hatta) harus berada di sisi kiri saya karena mereka sebenarnya less powerful daripada saya/rakyat. Dari interpretasi saya di atas, saya pribadi lebih suka dengan preposisi ON karena lebih kaya interpretasi positif dari pada WITH atau FOR.
    Perkara pernyataan bahwa ” indonesian politics is already very confusing for most ordinary people… the poorly writen slogans are just a symptom of that,” saya melihat pernyataan tersebut dipengaruhi oleh budaya berorientasi individualistik yang mengandalkan pesan2 verbal. Ada baiknya mereka juga melihat nuansa2 non verbal yang merupakan cara berkomunikasi dari mereka yang memiliki budaya berorientasi kolektifistik karena masyarakatnya justru memiliki “high tolerance to ambiguity,” misalnya bagaimana menginterpretasikan senyum almarhum Presiden Suharto. Just my two cents, maaf kalau kepanjangan.

    Like

  99. Saya sangat setuju dengan pendapatnya Angela Romano, pada umumnya para politisi menggunakan slogan tanpa mempertimbangkan segi sintaksis dan semantis. Mereka dengan mudahnya membuat slogan-slogan yang (menurut saya) ambigu dan multi-tafsir. Dan menurut saya, itu mencerminkan cara berpolitik dan jalan hidup mereka. Tapi secara keseluruhan, saya suka tulisan anda. Lanjutkan!!! (Bukan kampanye)

    Like

  100. Yellow!

    As an ex-linguistic student, this writing is literally what my mind has been screaming these days. Every time I see the ava, I really want to say ‘yo dude, ya misplace your photo or wha’?’

    First, why does a candidate use foreign language in order to unify his fans which are all Indonesian citizens? It is so freakin ironic. Second, talking about descriptive and prescriptive grammar, I really think for something as big as a slogan for presidential election, you really need to cover them both to avoid misunderstanding and a clash between these two kind of grammars. Some might say that as long as the meaning is delivered to the majority of people, it is acceptable. I learnt that in my Translation class at UI. However, you cannot ignore the minority of people who, you know, will feel so itchy reading the slogan.

    P.S : that is why copywriter is so dang highly paid 😛

    Like

    1. Q: I really want to say ‘yo dude, ya misplace your photo or wha’?’

      Jawaban saya:
      Oh tidak, kami tidak salah menaruh foto. Memang angka 2 di taruh di sebelah kanan sesuai dengan posisi gambar Jokowi kelak di kertas suara. Plus, kata “kanan” adalah “benar” dalam bahasa Inggris. Sedangkan aplikasi untuk menghasilkan avatar tersebut dibuat sedemikian hingga foto asli kita ada di samping kiri. Terbukti kampanye sukarela ini berhasil karena menghiasi twitter dan facebook. Sebenarnya “the right side” ini adalah juga candaan wajib orang Amerika untuk orang Inggris yang mengendarai mobil di sebelah kiri.

      Q: why does a candidate use foreign language in order to unify his fans which are all Indonesian citizens

      Jawaban saya:
      Bukan Pak Jokowi (candidate) yang menciptakan avatar ini. Ini murni dari sukarelawan dan suporter. Kalau mau dirunut awalnya adalah saat pemilihan nomor. Walaupun sebenarnya tidak berpengaruh, tentu sebagian orang ingin Jokowi mendapat nomor 1. Salah satu akun twitter (@kurawa) mengungkapkan bahwa sebenarnya nomor 2 lebih bagus karena posisinya akan ada di kanan. Ini yang mengilhami terciptanya avatar tersebut. Dukungan kampanye kreatif murni dari bawah. Beberapa yang unik (yang ternyata juga dipakai Pak Jokowi) adalah misal “keluarga nomer 1, kalau presiden sih nomor 2” dan sejenisnya. Saya jadi bertanya. Nah kenapa anda menulis komentar dalam bahasa Inggris? sementara tulisan asli berbahasa Indonesia? Ironis bukan?

      Q: I really think for something as big as a slogan for presidential election …

      Jawaban saya:
      Slogan resmi dari pak Jokowi adalah “Indonesia Hebat”. Semoga tidak menyinggung sebagian minoritas yang merasa Indonesia tidak hebat.

      Q: However, you cannot ignore the minority of people who, you know, will feel so itchy reading the slogan.

      Jawaban saya:
      Sangat lucu juga kalau membuat tagline iklan harus menghargai mereka yang tidak setuju. Misal slogan “Indomie seleraku”, haruskah ditulis “Indomie selera sekitar 84% rakyat Indonesia, mohon maaf bagi yang 16% merasa tidak suka”. Nah saya jadi tergelitik untuk bertanya kok bisa anda “itchy”? Apa karena bahasa Inggrisnya (harusnya stand for)? Apa karena kata “right” (yang bisa berasosiasi dengan fasis)? Atau karena Jokowi-nya (karena anda pendukung no 1)? Sejauh ini dari pengamat saya, hanya pendukung no 1 yang akan “itchy”. Oleh karena itu tulisan ini dibanjiri kunjungan karena pasti mereka merasa penulis adalah salah satu orang yang “itchy”. Sementara pendukung organik dari nomer 2 luar biasa banyak.

      Pengantar
      Saya juga akademisi dan mempunyai gelar PhD. Namun tidak berarti gelar saya menjadi justifikasi bahwa pendapat saya benar. Supaya mudah dan tanpa perlu memakai teori yang rumit, “pendapat (argumen) yang benar adalah yang benar benar sesuai dengan kenyataan” dan bukan karena yang mengungkapkan adalah akademisi atau rakyat jelata. Sehubungan dengan itu, ada satu hal yang kurang diungkapkan oleh penulis artikel ini (mbak Neny), yaitu sejarah bagaimana avatar tersebut bisa tercipta. Seandainya penulis menceritakan secara runut dalam konteks historis, mungkin akan lebih jelas. Sejauh ini proses terciptanya avatar ini hanya diungkapkan oleh Sdr. Nia yang ditulis 8 June 2014.

      Like

  101. nah mbak punya saran apa untuk memperbaikinya? maksudnya apa ada usul slogan yg tepat menurut mbak? krn menurut mbak kata ON dan RIGHT ga bgitu ok. trims

    Like

  102. Mencerahkan sekali mba, memang soal penggunaan bahasa itu sering dianggap sepele, sehingga menimbulkan makna yang sebenarnya jauh dari apa yang dimaksud, dan kalo bahasa inggris ini jare wong yang dinegaranya sana tiap hari pakai bahasa inggris, banyak orang indonesia yang sebetulnya pintar, tapi kurang mengerti apalagi konteks bahasa inggris yang jauh beda sama bahasa indonesia, dan terkadang ada yang hanya pengen kelihatan wah gitu status bahasa inggris, tapi ora mudeng maksute, terimakasih pencerahanya mba sangat bermanfaat, apapun alasanya kalau kampanyenya begini jusatru merugikan pasangan yg didukung, karena seolah2 ideologi capresnya yang demikian.

    Like

  103. Wow! this is great, and awesome! terima kasih mba salam kenal juga, tulisannya bener bener menambah wawasan yang sangat dalam karna saya kira bukan sekedar word by meaning saja, tapi analisa yang lebih dari itu, melibatkan culture dan juga ketepatan sebuah kata dalam ranah tertentu. ckckck speechless banget deh baca artikel ini.

    Like

  104. Katanya gak mau nanggepin semua isu dan hal tentang kampanye tapi malah ngebahas detail banget.
    Itu khan cuma foto sejenis meme yg secara eksplisit posisi jokowi di kertas suara emang di kanan klo dari sudut pandang pemilih.
    Namanya becandaan ya jelas sengaja dibikin multi arti. Namanya jg berasal dari iseng2an seseorang dan diikutinoleh orang lain. Lagian ini bukan sedang bikin disertasi yg englishnya kudu tepat.
    Ini cuma meme, gambar2 iseng yg bersensasi. Itu aja.

    Like

  105. Tulisan yang menarik, dalam memaknai masa kampanye damai, berbagai tulisan yang yang kritis dari berbagai perspektif menjadi pelajaran politik yang berharga untuk masyarakat Indonesia. Anda salah satunya… Sukses selalu. Untuk Indonesia Lebih Baik.

    Like

  106. Hai mbak Neny! Entah yaa, menurut aku justru dibikin ambigu supaya menimbulkan kesan lucu/seru dan cepet viral hahaha. Kaya phrase-phrase umum yang suka diplesetin gitu lho mbak.

    Tapi ya juga, harusnya nih jurkam dari kedua kubu punya jargon yang catchy yang bisa merepresentasikan jagoannya punya prioritas program apa, Ini malahan fanboynya yang repot hehehe.

    Like

  107. Bahasan yang menarik ! Yap,setuju kalo grammar itu penting, tp memang melihat kondisi masyarakat indonesia yang terkadang terlalu cuek dengan halhal macam itu jd ya sulit utk banyak org mengerti, dan malah mikirnya ga penting banget sih grammar doang dipermasalahin. (Padahal sbnrnya ga sepele juga yaa hehehe), maksud mbak kan cmn mencerahkan penggunaan kata-kata dlm bahasa inggris supaya baik dan benar. Kalo masalah paham ke kanan an yg fasis itu, mgkn beda dgn pemahaman di kita ya mbak, jd memang org awam ga akan ngerti sejauh itu. Tp menurutku bahasan ini jd penambah ilmu kalo ternyata “right” itu ambigu nya sejauh itu hehehe .. Kritis itu kadang diperlukan untuk berubah menjadi lebih baik. Thanks for sharing ! 🙂

    Like

  108. Tulisan yg menarik. Terima kasih sudah membahas hal ini.
    heheheh kalau membaca dari orang2 yang berkomentar, yg menarik justru fakta kalo orang Indonesia cenderung membenarkan yang biasa (dipahami seolah2 benar) tetapi tidak membiasakan yg benar.

    Like

  109. hi mbak, menarik skali analisanya… berhubung sy blon jd pendukung siapapun… tp sy setuju pendapat yg blg stand on the right side itu permainan kata2… anyway bhs inggris kan gitu Right : kanan / benar. Left : kiri / tertinggal..
    tp kl sy blg kanan itu blum fasis… Di beberapa negara kanan itu lbh kapitalis. Kalau ekstreme kanan baru facist seperti Le Pen di Prancis. Sama seperti apa golongan kiri dibilang komunis ? Kalau di luar golongan kiri itu sosialis. komunis itu lebih ke ekstreme kiri.. CMIIW lo yaa 🙂

    Like

  110. kata2 itu mmang ambigu dan penuh suntikan ke alam bawah sadar..
    ntah sipenulis yang dungu ato si prnulis yang terlalu pintar seperti illumination

    Like

  111. Untuk saya yang fasih berbahasa Inggris, ini artian yang benar. I Stand on the Right Side, bisa berarti:

    1. Saya berdiri di sisi kanan.
    2. Saya berdiri di atas sisi yang benar.

    Bagi para pembicara berbahasa Inggris, tidak diartikan satu2 ke bahasa Indonesia, tidak ada yang salah dari kosakata bahasa Inggris ini.

    Like

  112. Njur orang INA itu kan selalu mencari alasan demi membenarkan segala pendapatnya, cenderung gak mau dikritik. Semua maunya sependapat

    Like

  113. Setidaknya, saya dapat pengetahuan barulah tentang pentingnya penggunaan bahasa yang baik .
    Membaca ini, saya benar” menganggap sebagai tambahan pengetahuan & sama sekali tidak berpikir bahwa penulis brpihak pada siapapun, sama sekali tidak.
    Justru tulisan” seperti ini menjadi penting agar kualitas manusia-manusia Indonesia mengarah ke yg lbh baik.
    Keren Mbak Neny 🙂

    Like

  114. Jadi, secara umum slogan “I stand on the right side” ini sudah bisa dianggap bener atau belum?
    Kalo belum, opsi yang manakah yang lebih bener?

    Saya suka artikelnya sampai di bagian “I stand for the right side”, selebihnya saya merasa hal tersebut diperumit saja :v

    Like

  115. tulisan yang bermanfaat dan mendidik mencerahkan. menghilangkan kabut khalayak awam. terima kasih mbak telah menjelaskan dari segi tata bahasa. 🙂

    Like

  116. Waah… tulisan cerdas dan mencerahkan. Ngga pernah2nya aku bicara politik, tp tadi tertarik baca krn thumbnail fotonya kok bikin penasaran. Aku malah baru ngeh klo itu ava dukungan 😀

    Like

  117. ada satu hal yang harus kita perhatikan. Team Kampanye itu semuanya di bayar, tidak ada yang kerja sia-sia. alias tidak ada makan siang gratis. dan pastinya lah team-team tersebut orang-orang pilihan dan bukan orang yang serampangan. percaya atau tidak bahasa itu memiliki makna serta megikuti tingkah pola penuturnya.
    yang namanya IKLAN tidak ada yang pelompong alias tong kosong. semua pasti memiliki makna. banyak orang awam menganggap itu “gak apa-apa kok”. tapi slogan, logo, iklan. itu memiliki makna yang tersirat yang membawa dan menggiring massa ke arah yang di tuntun si pembuat (ahh….itu alasan doang, mengada-ngada). dan gak mungkin slogan itu di buat “seenak udelnya”. pasti di pikirkan matang-matang oleh team-team mereka. bahkan di sini termasuk penggunaan bahasa. terus,…banyak yang bilang “ah…gak apa-apa, cuman bahasa doang, silahkan masing2 memaknai sendiri”. kata-kata seperti inilah orang-orang yang mengabaikan bahasa, mereka tidak berfikir bahwa kata dan bahasa itu yang mampu menggiring massa dan mampu merubah segalanya.

    Like

  118. ya mungkin yang bikin bacanya kamus biasa, jadi belum check penggunaan kata, padahal di bahasa inggris kan vocab itu one for one, ga kaya bahasa indonesia one for all. postingan yang sangat bagus 😀

    Like

  119. Wah dalam sekali menggali ke berbagai arah dan sumber. Poin plus untuk mbak yang rajin ini! 😄

    Saya gak punya kualifikasi ttg sintaktik dan semantik dalam teks verbal tp kebetulan saya mendalami visual culture dan bahasa visual. Hal pertama yg bikin saya mengernyit melihat timeline yang ramai dengan foto sejenis ini adalah orang2 tsb berdiri di sebelah kiri. I’m like… Apakah penempatan visual grafis “I stand on the right side” ini tidak lebih baik berada di atas memanjang dan kita berdiri di kanan menyisakan ruang di kiri?
    Karena dalam bahasa visual, penempatan seperti ini mungkin lebih baik untuk mendukung pesan yg seperti mbak bilang, I stand with atau minimal I stand by.
    Oh well… Ternyata ada yg membahas ini hehe, saya agak tergelitik soalnya melihat fenomena yg menarik ini.

    Salam kenal 🙂

    Like

  120. Saya paham bgt kalo pasti banyak yg bilang “overthinking bgt sih mbak” dll yg pd intinya blg mbak tuh mikirnya lebay, kejauhan. Tp buat saya yg, yaaa ga jago bahasa inggris tp bahasa ini cukup sering digunakan di kehidupan sehari2 saya, saya seneng bacanya. Guru les W***S***** saya pernah bilang “if you’re familiar with this language, when you heard a sentence, you kinda know that something is not right when dealing with a grammatically wrong sentence. You just have a feeling that it’s wrong”. Saya gak tahu apa yg salah dr slogan tsb, cuma emg agak janggal. Dan seneng aja ada mbak yg mau iseng2 berhadiah bikin penelitian kecil2an gini 😀

    Like

  121. Maaf kalau saya ini main nyelonong.
    Sebelumnya, saya sadar betul kalo orang kita ini hobi bener make bahasa Inggris yg salah dan kalo diingatkan bisa jadi malah ngambek ato ngotot2an.
    Sementara untuk kasus di atas, saya rasa tujuannya memang untuk permainan kata. Mengapa?
    1) Pasangan tersebut dianggap pihak yg benar.
    2) Memang si pemilik avatar berdiri di sebelah kanan (kalo kita memposisikan diri di tempat dia).
    3) Indonesia tidak secara mengakar dan menyeluruh mengenal dan menggunakan istilah sayap kanan-kiri.
    Kira-kira begitu.

    Salam.

    Like

  122. Kebanyakan orang awam yg ada di Indonesia tidak akan sampai berpikiran klo right side itu bisa berarti juga fasis… Karena literatur bacaan masyarakat Indonesia (secara umum) tidak sampai kesana… Cukup makan tiga kali sehari sudah syukur alhamdulillah… Dan satu hal lagi, orang Indonesia menterjemahkan bahasa inggris ke bahasa indonesia kata per kata/ satu per satu, kemudian baru di satukan jadi kalimat lengkap… Seperti itulah kenyataannya…. Semoga pola pikir masyarakat indonesia makin kritis…

    Like

  123. thanks banget buat posting nya yang 1 ini.
    memang sih kadang ga perlu terlalu kritis atau gimana, but, mungkin bisa saja dari slogan tersebut ada makna tersendiri di dalam nya. who knows?
    btw, saya juga berpihak di nomer 2 kok, so what? ini tulisan, tulisan netral kok menurut saya, ga ada istilah nya mihak nomer 1 atau nomer 2 🙂
    Keep blogging mbak yu !

    Like

  124. Maaf kalo saya ini main nyelonong…
    Saya sadar betul kalo orang kita ini hobi sekali make bahasa Inggris dengan dengan salah dan kalo diingatkan justru ngambek ato malah ngotot.
    Namun untuk masalah avatar ini, saya ko ngerasa kalo tujuannya memang buat permainan kata ya. Mengapa?
    1) Pasangan yg didukung memang dianggap yg benar.
    2) Pemilik avatar memang berdiri di sisi kanan tulisan (kalo kita memposisikan diri sebagai dia).
    3) Istilah sayap kanan-kita gak mengakar dan akrab di Indonesia.
    Saya setuju dengan salah satu komentator masalah Angela (kalo gak salah) mesti belajar memahami masyarakat kita dulu sebelum bikin analisis soal bahaya sayap-sayapan ini.
    Begitu kira-kira.
    Salam.

    Like

  125. Halo, teman-teman yang baik!

    Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Semoga bisa menikmati tulisan-tulisan saya (bukan hanya yang ini) dan mengkritisinya. Mari sama-sama berpikir kritis dan belajar 🙂

    Pada awalnya saya berusaha untuk membalas semua komentar karena saya berusaha untuk memberi ruang berdiskusi kepada setiap orang (dan dengan melakukan komentar, harapan saya Anda tentu sudah membaca tulisan saya dengan lengkap dan kemudian membuat Anda berpikir kritis lalu mengomentari). Tetapi setelah seharian ini melihat bahwa ternyata begitu banyak yang komentar, rasanya saya tidak sanggup untuk membalas satu demi satu (walaupun semua komentar yang masuk akan tetap saya tampilkan). Sehingga saya memutuskan untuk tidak membalas komentar, kecuali ada hal yang benar-benar membutuhkan balasan. Ada dua alasan kenapa saya tidak bisa membalas satu demi satu komentar Anda sekalian.

    Pertama, tentu saja karena keterbatasan waktu, karena saya tidak bisa 24 jam berada di depan laptop untuk berdiskusi dengan teman-teman semua. Ada urusan-urusan di dunia nyata yang harus saya lakukan (yang sudah googling tentang saya, tentu bisa menyimpulkan apa saja yang saya lakukan di dunia nyata. OK, GR banget saya sampai ada yang perlu google nama saya hihihihi). Mohon maafkan saya ya?

    Kedua, banyak sekali pertanyaan atau tanggapan yang sebenarnya sudah terjawab dari balasan saya kepada komentar-komentar sebelumnya. Jadi silakan membaca semua balasan saya. Semoga dari situ sudah terjawab ya? Kalau belum terjawab, maafkan keterbatasan saya (lagi-lagi) untuk menanggapi seratusan komentar dalam sehari ini.

    Selain itu, daripada bertanya atau berkomentar kepada saya, kenapa tidak mengomentari komentar yang sudah ada di sini? Karena niat saya dari awal menulis ini adalah supaya orang bisa berpikir kritis dan kemudian berdiskusi, akan sangat seru dan mencerahkan bukan kalau kita semua saling berdiskusi?

    Saya tidak menganggap diri saya adalah otoritas tertinggi dalam benar atau tidaknya tulisan dan pandangan saya. Ada beberapa teman di sini (dan di dinding Facebook saya) yang menyampaikan kritik kepada tulisan saya dan saya berterima dengan beberapa hal yang dikritik, bahkan berterima kasih karena telah dikoreksi. Ada juga teman-teman yang menyampaikan pandangan baru yang mencerahkan. Terima kasih atas pencerahannya. Ada pula yang berkomentar menyampaikan apresiasi atas tulisan saya. Saya bersyukur telah diberi kesempatan berbagi melalui tulisan saya. Terima kasih banyak atas hari yang seru membaca satu demi satu komentar sedari pagi tadi! (sebagai catatan saya menulis ini hari Senin, 9 Juni 2014, pukul 22.00).

    Kalau tujuan awal saya menuliskan ini adalah mengajukan beberapa pertanyaan supaya orang menjadi berpikir dan kritis, saya rasa Anda semua adalah bukti bahwa tujuan saya itu sudah tercapai. Dan untuk itu, saya menghargai semua komentar dan tanggapan Anda, apa pun isinya.

    Terima kasih!

    NB: (ok, sampai bagian ini pasti dianggap saya lebay dan suka menulis panjang-panjang) Hampir semua komentator adalah orang yang tidak saya kenal (kecuali Kang Eki Qushay dan Lini Zurlia, seingat saya) sehingga mungkin Anda tidak mengenal dengan lengkap siapa saya. Semoga ada kesempatan untuk bertemu langsung atau berinteraksi langsung lewat jalur pribadi sehingga Anda mengenal dengan lengkap siapa saya dan tidak dengan mudah memberikan pernyataan tentang diri saya yang tidak tepat, misalnya saya ini pendukung salah satu capres tertentu yang mencari-cari kesalahan capres yang lain, saya lebay, saya mencari tenar, atau apa sajalah yang tidak tepat.

    Sudah, segitu dulu. Entar dianggap saya sok berumit-rumit dan kejauhan dan kepanjangan 🙂

    Like

  126. Analisa dari segi keilmuan mbaknya memang menarik. Izinkan saya ikut kritis berkomentar menurut keilmuan saya juga ya. Terlepas dari benar atau salah atau kurang tepatnya penggunaan preposisi ON dalam hal ini saya rasa bukan masalah besar. “I stand on the right side” bukan slogan resmi pasangan capres Jokowi-JK. Tetapi justru ini merupakan inisiatif pendukungnya. Cukup mengejutkan dalam waktu 5 hari pendukungnya sudah lebih dari 41.000. Monggo dicek link Twibbonnya http://twibbon.com/support/i-stand-on-the-right-side

    Saya sendiri sempat bertanya-tanya ketika pertama kali melihat beberapa teman mengganti profile picture di Facebook dengan Twibbon ini. “I stand on the right side” maksudnya apa?. Betul kalau memang preposisi ON ini mengarah pada sebuah tempat. Itu yang pertama kali saya bayangkan bahwa teman-teman saya tersebut memang berdiri disebelah kanan. Sampai akhirnya salah satu teman ganti profile picture dengan Twibbon ini, tidak tanggung-tanggung, dia pakai foto bareng dengan Jokowi bersamaan dengan Twibbon “I stand on the right side”. Jadi jelaslah, saat itu pun saya langsung paham bahwa itu adalah campaignnya Jokowi. Lalu saya coba cari siapa inisiator Twibbon tersebut.

    Jujur, saya sendiri kurang suka dengan Jokowi maupun Prabowo (karena memang saya cukup apatis dengan Politik), tapi kali ini saya harus pilih salah satu untuk Indonesia yang lebih maju. Saya bukan pilih siapa capresnya, tapi justru saya pilih apa dampaknya untuk Indonesia. Dan apa yang saya rasakan mengenai politik ini justru terwakili dengan adanya “I stand on the right side”. Apabila diganti dengan preposisi for atau with atau by, justru makna kalimat ini akan mengarah jelas kepada Jokowi. Yang saya bayangkan adalah saya berdiri dalam antrian panjang, lalu seseorang bertanya “mau berdiri di kanan atau di kiri?” lalu saya pilih kanan (abaikan masalah politik kanan kiri atau apalah itu saya gak ngerti).

    Dari segi Komunikasi Visual, pesan yang disampaikan dari “I stand on the right side” sudah diterima dengan baik di masyarakat luas (bukan hanya masyarakat memiliki intelektual tinggi). Nah, apa yang sudah dipaparkan oleh mbaknya ini menurut saya analisanya terlalu dalam dan cara berpikirnya terlalu rumit. Hanya orang-orang tertentu saja (seperti mbaknya) yang bisa menganalisa sedalam ini. Sedangkan masyarakat kita adalah masyarakat biasa yang ketika menerima pesan dari proses komunikasi tidak pusing-pusing mencerna maknanya lebih mendalam. Dalam keilmuan sesuatu boleh dinilai dari benar atau salahnya, atau akurat atau tidak akuratnya. Namun dalam praktiknya sesuatu dapat dinilai dari sukses atau tidak suksesnya. Tidak ada parameter yang bisa memberikan penilaian benar atau salah dalam kehidupan masyarakat luas.

    Jadi saya rasa “I stand ON the right side” sudah tepat karena memang menggambarkan sebuah tempat dimana segala sesuatunya dalam porsi yang benar (dalam hal ini negara Indonesia). Berikut analisanya:
    1. Tidak ada logo atau nama pasangan capres Jokowi-JK dalam “I stand on the right side. Pernyataan ini bisa diartikan cukup netral tanpa menggambarkan dukungan untuk seseorang.
    2. Tidak ada logo Partai. Warna merah mungkin bisa juga diartikan warna Partai PDIP. Namun saya rasa warna merah ini mewakili makna keberanian seperti makna merah dalam warna bendera Indonesia. Warna merah juga dipakai oleh Anies Baswedan ketika beliau mengikuti Konvensi Partai Demokrat. Beliau dan timnya justru pilih warna merah bukan warna biru (warna Demokrat), karena mereka meyakini apa yang mereka lakukan melibihi warna partai.
    3 “I stand on the right side” adalah kalimat pernyataan bukan kalimat persuasif yang memaksa orang lain untuk melakukan hal yang sama.
    4. “I stand on the right side” bisa juga diartikan dalam arti yang sebenarnya bukan dalam konteks Politik. Siapa saja bisa pakai Twibbon ini bahkan ketika musim pilpres sudah selesai.

    Saya yakin banyak masyarakat apatis yang seperti saya dan pada akhirnya mau sedikit peduli dengan nasib negaranya dengan cara minimal turut berpartisipasi dalam pilpres melalui suaranya. Apa yang disampaikan kawan mbak Angela : “Indonesian politics is already very confusing for most ordinary people. The poorly written slogans are just a symptom of that.” Faktanya, Politik di Indonesia sekarang sudah sedikit bersahabat untuk masyarakat awam. Karena kita berpolitik tidak sekedar untuk Partai dan siapa pemimpinnya, justru Politik untuk Indonesia yang lebih baik.

    Like

    1. Kereen komennya,, saya jg menganggap klo bahasa i stand on the right side itu pilihan kata yg cerdas,, kaya permainan kata yg disengaja ambigu,, foto kita jg adanya d sebelah kanan kan,, ^_^

      Like

      1. Foto di sebelah kanan nomor 2? Wkwkwk…. aneh mau berambigu…. itu sama aja anda di nomor satu… tapi ok lah nomor satu juga istimewa daripada kedua

        Like

      2. Posisi orang dalam foto ada di sebelah kanan nomor jika dilihat dari sisi orang dalam foto itu. Sedangkan dari sisi pengamat yang melihat foto, orang dalam foto berada di sebelah kiri nomor (nomor ada di kanan jika dilihat dari sisi sang pengamat). Jika yang berbicara adalah orang dalam foto itu bahwa dia berdiri di sebelah kanan, maka pernyataan tersebut adalah BENAR.

        Like

  127. waahaa.. iseng cri2 tentang “Stand On The Right Side” nemunya blognya bu nenii… hihihi.. 😀
    makasih bu nenii buat infonyaa… 😀 (y)

    Like

  128. Ahay mbak..saya pecinta tata bahasa (what a nerd) dan terus terang sejak tag line itu muncul sampe kebawa2 mimpi. Rasanya ada yg ngeganjel dan pengen tak ubek2. Makasih udah bantu saya untuk tidur nyenyak dengan mengurai on, by, with, for, RIGHT dan segala penafsirannya…tabik

    Like

  129. maaf sebelumnya mbak
    kata ‘right’ sebenernya mempunyai bnyak makna baik sebagai noun, verb, adjective, maupun adverb
    dan salah dua arti yg mungkin di antara banyak yg mungkin menurut saya adalah
    1. An abstract idea of that which is due to a person or governmental body by law or tradition or nature
    2. Location near or direction toward the right side; i.e. the side to the south when a person or object faces east
    3. Those who support political, social or economic conservatism; those who believe that things are better left unchanged
    4. Anything in accord with principles of justice

    sedangkan kata ‘on’ sendiri juga memiliki bnyak makna baik sebagai adjective, adverb, maupun seperti kata mbak d atas, yaitu sebagai preposition

    ‘i stand on the right side’
    kalo secara bahasa tidak lah salah
    coba cek simple present tense
    S+V1+s/es+…
    d sini karena subjeknya adalah ‘I’ maka verb ‘stand’ tidak perlu ditambahi s/es

    present tense sendiri artinya a verb tense that expresses actions or states at the time of speaking
    dan biasanya digunakan untuk kalimat yg menunjukkan

    artinya sendiri adalah ‘aq ada d sebelah kanan’
    kalo melihat nomer urutnya ‘2’ berarti pak jokowi
    pak jokowi sendiri sering menyuarakan perubahan jd g mungkin kalo arti ‘right’ yg dimaksud adalah nomer 1 dan 3
    jd arti kanan d sini adalah posisinya ada d deket tangan kanan
    hal ini jg dperkuat dengan penggunaan istilah ‘on’

    sedangkan buat lucu”an (yg entah d sengaja atao tidak) ternyata kata ini juga bs berarti pak jokowi ada d sisi yg benar, sisi keadilan

    tolong baca kalimatny dulu baru mahami artiny
    bukan memahamkan artiny dulu baca kalimatnya
    dr bahsa mbak d atas kelihatan kalo mbak pinter bahasa inggris atau mahasiswa bhasa inggris
    tp bagaimana anda tau kalo yg dimaksud oleh penulis yaitu sisi fasisny?

    inget mbak kalo warga indonesia itu rakyat yg sederhana
    jd jgn menggunakan rujukan orang asing untuk makna tersirat suatu kalimat yg digunakan d indonesia
    pola pikir mreka dgn qt gak sama

    Like

  130. mbak adalah ciri orang cerdas dan sgt teliti, biarlah orang menanggapi sesuai selera pandangan mrk (klo lg kasmaran susah memang mbak hehehe) selayaknya mbak yg disini hanya berbagi pencerahan ttg bahasa sesuai kacamata bidang mbak (profesional advice), terlepas dari slogan tsb saya sgt mengagumi isi jawaban mbak atas komentar2 tanggapan pembaca , bagi saya mbak adalah wanita yg sangat santun dan benar2 menunjukan kualitas kecerdasan dan kematangan diri….salut dan tetap selalu berani bicara dlm hal positif lainnya. salam hangat dari saya

    Like

  131. Sy tuh klo blm paham betul, alasan & tujuannya…tdk akan pede deh pasang” apalagi di sosmed, yah walaupun lg trend…
    #cumaceritatentangdirisendiri

    Like

  132. terimakasih atas tulisannya mbak. saya banyak belajar bagaimana cara menulis yg bukan plagiat 🙂 terimakasih juga sama pencerahan grammar nya mbak 😀

    Like

    1. coba dicek mbak apa pertanyaan yg diajukan kepada temen” mbak itu sudah valid, artinya tidak mengarahkan temen mbak itu k jawaban tertentu?

      atau apa mbak ud ngasih tau temen” mbak itu tentang bentuk surat suara kita?
      karena sebenernya ketika menyangkut politik, sudah sangat wajar istilah kanan d luar negeri digunakan untuk paham politik orang” yg patuh sama pemerintahan
      sampai” mreka lupa kalo kanan d sini jg bisa digunakan sebagai penunjuk arah

      tp pribadi saya suka dgn artikel mbak, berani
      saya akan coba mengikuti blog anda

      Like

  133. “PS: Thank you FOR Amy-Michelle Durston, etc…” (Terima kasih ATAS Amy-Michelle Durston, etc…).

    Shouldn’t it be:

    “PS: Thank you TO Amy-Michelle Durston, etc…” (Terima kasih KEPADA Amy-Michelle Durston, etc…)?

    Like

    1. Eh, eh, mbaknya udah jelasin tuh kalau itu emang ngecek ketelitian pembacanya, hehe. Coba baca lagi komen2 diatas (kalau sanggup ya, saya juga capek bacanya, hhe)

      Anyway, postingan blog ini keren, saya berasa masuk kelas linguistik lagi 😀

      Like

  134. Halo mbak

    Ada 3 keTOLOL-an yang saya perhatikan ada disini,
    1) Ketidaktahuan wanita pada foto yang anda jadikan korban pembicaraan yang hanya bisa ikut ikutan dalam melakukan demokrasi yang dianggap benar oleh orang pada gambar tersebut tanpa adanya bla bla bla seperti yang anda katakan dalam pragraf terakhir tulisan mbak
    2)KeTOLOL-an mbak dalam menempatkan posisi korban sebagai orang yang hanya ikut-ikutan dan mengkorelasikannya dengan tulisan mbak.
    Kalau memang dia ikut-ikutan, saya membenarkan kalimat “I Stand on The rightside”, karena itu menunjukkan tempat dimana orang pada gambar tersebut ikut-ikutan. Orang yang ikut-ikutan itu tidak tau apakah dia benar benar FOR, BY dan sebagainya karena FOR atau BY itu ditentukan oleh ON dimana dia ikut-ikutan.
    “Contoh… Seseorang yang gengsi ketika ingin menari tapi hanya sedikit yang menenemani dalam pensi… Tapi ketika berada pada konser besar yang semua khalayak penikmat konser menari, seseorang tersebut ikut menari. Apakah tarian tersebut dihasilkan oleh keinginan seseorang tersebut atau keinginan seluruh khalayak yang ada di konser?”
    3)KeTOLOL-an saya karena menanggapi tulisan anda dan cara saya menanggapinya

    Like

    1. Terimakasih komentarnya yang memberi saya kesempatan untuk mengklarifikasi.

      Foto dalam posting saya itu saya muat sudah seijin pemilik fotonya, bahkan dia dengan sukarela menawarkan fotonya itu untuk dipakai dalam posting saya (oh, sedikit informasi, dia adalah teman saya yang saya kenal baik, anggota DPRD dari partainya capres yang didukungnya). Silakan, kalau sempat membuka facebook saya yang memuat posting blog saya untuk membaca komentar si pemilik foto ini mengenai tulisan saya. Kalau mau menghubungi dia, lewat twitternya @intan_jeanie juga bisa.

      Like

  135. Selamat ya mbak blognya banyak viewersnya.
    Tapi ngomong2 hati-hati loh mbak, jangan sampe karena tulisan sepele ini persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia terpecah belah. Karena tulisan ini pasti dijadiin bahan ejekan Jokowi-JK oleh para hatersnya untuk menjatuhkan Jokowi-JK. Bisa jadi karena tulisan mbaknya ini akan terjadi perkelahian kakak-adik, kerusuhan antar desa, perang antar agama, perang antar suku, perang antar pejabat. Duh semogga nggak ya. Smoga tulisan ini hanya sekedar pencerahan dari seseorang yg memiliki background pas dengan tulisan ini.
    Hmmm… Komentar saya udah selebay tulisan mbaknya gak ya? Hihihi..

    Hv a nice day ya!
    Women on Top ! :p

    Like

  136. yg kreatif ahhhh masa letak aja di kertas suara situ pusingkan! mending cari isu lain kek yang lebih menggigit seperti prabowo mau ngelamar fadli zon jadi ibu negara gitu! kan lebih heboh hehehehehehehe

    Like

  137. ini baru cara berfikur yg benar. memahami bahasa inggris dengan gaya orang inggris. nah kita, bahasa apapun dipahami sama kek bahasa indonesia. ya jadinya morat maret

    Like

  138. by being on the left, I stand on the right side 😀
    seperti kata Pram, tindakan adil dimulai dari pemikiran yang adil.
    karena arti ‘right’ pada pemikiran saya adalah ‘benar’ maka mudah2an pilihan saya adalah ‘benar’. tapi kembali lagi, benar atau tidak itu kesepakatan bersama setelah melalui proses berpikir, pertimbangan disertai dengan studi kasus sebagai sample.
    dan akhirnya saya menutup komentar ini dengan mengutip Chantal Mouffe:
    “In place of struggle between ‘right’ and ‘left’, we are faced with a struggle between right and wrong”

    Like

  139. tulisan yang bagus, menilik secara gramatikal dan semantik sebuah slogan kampanye presiden

    tapi mba menurut dosen-dosen linguistik Indonesia saya, ketika sebuah bahasa (kalimat, slogan, kata, dll) sudah dilempar ke masyarakat, maka bahasa menjadi semacam kesepakataan publik, bahasa adalah milik masyarakat bukan ahli.bahasa, terlepas dari aturan linguistiknya (ingat penggunaan kata mempunyai ketimbang memunyai)

    terlebih lagi bahasa inggris yang dipakai adalah bahasa inggris dengan semantik dan pragmatik Indonesia, ditujukan untuk publik Indonesia. jd walaupun dianggap salah dlm segi gramatikal dan semantisnya dr sisi native speaker, namun makna yg ditangkap berbeda bagi kalangan Indonesianya.

    bahasa itu fleksibel mbak, bagi rakyat Indonesia kanan ya di intepretasikan baik. bukan kanan yg itu..
    saya rasa bahkan langka orang yang berpikir sampai terlalu jauh kesana

    regards

    Like

  140. ada beberapa point yang saya setuju,, namun saat di masukan dalam konteks right-wing politics, akhirnya jadi angak melenceng. (mungkin karena belum lengkap penjelasannya). bagaimana bisa menentukan sebuah aliran politik (seperti, konservatif, fasis, dll) jadi kanan?. apa tiba2 saat ada yang beraliran politik fasis kemudian di sebut aliran kanan?
    dalam kasus ini jika dilihat dari kacamata hegemoni, right-wing politics merupakan konstelasi Ideologi.. negara yang bisa disebut situs hegemoni tentunya banyak ideologi yang “berterbangan”. Ideologi pastinya tidak hanya sekedar lewat saja, namun tentu saja mereka berkontestasi demi kepentingan masing2 ideologi, dalam kontestasi kesepakatan tidaklah dapat terlaksana dalam tanpa adanya negosiasi.. dalam negosiasi akan muncul sebuah Ideologi Umum (meminjam terminologi Terry Eagleton) yang menjadi pemenang, Ideologi yang bisa disebut sebagai “ideologi yang kalah” tidak serta merta langsung menghilang jika kepentingan mereka dipenuhi maka akan menjelma menjadi semacam oposisi hirarkis dan lahirlah right-wing politics.
    kemudian apa yang salah dengan fasisme? tulisan tersebut seakan2 menyudutkan ideologi itu
    kalau menurut saya fasisme tersudut karena narasi pemenang saja
    coba Hitler menang PD 2 mungkin Fasisme akan dipuja diseluruh dunia

    Like

  141. penting ya? yg tadinya ga ad masalah jadi seolah timbul masalah :3
    ga perlu slogan tersebut deh
    angka 2 saja bisa saja memiliki arti jelek jika ada orang berpikiran negatif
    biasalah Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat

    Like

  142. Mbak neny,
    numpang nanya dong, kira2 apa yang akan mbak lakukan apabila tulisan mbak disebarluaskan dengan tujuan untuk ‘menjatuhkan’ capres yg slogannya mbak analisis ini?

    Like

    1. Silakan dipakai saja. Kalau pihak capres satunya “memelintir” tulisan saya, tinggal pelintiran itu dibandingkan dengan tulisan saya. Kalau mau berpikir dengan tenang dan menelaah dengan kritis, akan terlihat apakah memang pelintiran itu sesuai dengan tulisan saya atau tidak.

      Terima kasih sudah bertanya 🙂

      Like

  143. WOW

    Suatu pembelajaran yang baik menurut saya ttg kaidah bahasa yang harusnya ditelaah terlebih dahulu sebelum menuangkannya dalam karya mengingat bahasa inggris bukan bahasa Ibu dari Indonesia.
    Namun, saya rasa Timses terkait sudah memikirkan hal ini dan juga sudah memikirkan andaikata nanti ada pertanyaan2 atau kritikan seperti tulisan ini. Dan menurut saya, bahasa adalah sesuatu yang abstrak yang pengartiannya bisa berbeda satu dengan yang lain terutama masalah idiom dalam bahasa inggris meskipun tidak dipungkiri banyak literatur sebagai referensi kita.

    Namun ada satu pertanyaan yg menggelitik saya, I stand on the right side tp mengapa foto2nya ada disebelah kiri semua ya? hihihihi..

    Andai saya pasang avatar itu, tentunya foto saya harus dikanan, because I Stand On The Right Side.

    Salam

    Like

  144. Penggunaan kata Anda juga belum sesuai aturan.
    Saya menemukan beberapa kesalahan sebagai berikut:
    – Paragraf 4: kata “Politis” seharusnya adalah “Politik.”
    – Paragraf 5: kata “Analisis” seharusnya adalah “Analisa.” Sama dengan kata “Hipotesis” yang benar adalah “Hipotesa.”
    – Paragraf 10: kata “Aktifitas” seharusnya adalah “Aktivitas.” Huruf “F” berlaku bukan untuk kata “Aktivitas” tapi untuk kata ” Aktif.”

    Sebagai penerjemah dan pengajar bahasa, seharusnya Anda tahu hal ini.

    Pelajari dulu bahasa negerimu, sebelum mempelejari bahasa orang lain.

    Regards,
    I.S

    Like

  145. Bahasa inggris emang pusingin. Tiap kalimat beda negara bisa beda arti. Yah kita bikin definisi sendiri aja. Ga perlu repot2 lah.

    Ibarat lagu, grammar ga mesti bener.
    Lagian ini bukan grammar-nya kan yg bermasalah, tapi maknanya yg bisa ambigu buat yg ngerti english.

    Balik lagi ini definisi versi kita.

    Like

  146. Bagus mba pembahasannya, saya baca dari atas sampe bawah ada pro kontra, saya suka yg kritis, Jujur saya juga “GAK SUKA SAMA TULISAN I stand on the right side” . Sama sekali gak ad unsur nasionalismenya!! Rightside apaan?? Kalo yg bdiri disisi kanan itu SETAN??? GAK JELAS!!

    YG komen “sok menggurui” apaan ini coba!! Yg bilang “”lebay”” apalagi nih?? Sok adem banget deh !!
    Ngaca dulu !! Baru bilang lebay !

    Like

  147. hehehe.. menarik sekali tulisannya.. jadi menambah ilmu..
    Kalau saya lihat, memang sebagian orang awam terbatas dalam pemahaman bahasa inggrisnya sehingga mengartikannya biasa saja.
    Jadi kalo orang awan dan mungkin wong cilik (sesuai target massa kampanye) mungkin biasa saja mengartikannya.. alias yg penting ngerti dan paham maksudnya (disuruh nyoblos yg mana). Disini marketing-nya tercapai. Jadi ya sengaja unik untuk sampai sasaran.. (jd inget “i’m loving it” di atas td.. hehe).
    Atau yang kedua karena mmg yg membuat para pakar komunikasi politik jadi memang dibuat ambigu untuk memasukkan makna2 lain yg tersirat. Jadi istilahnya sekali dayung ratusan pulau terlampaui.. pasar masa-nya dapet semua hehe.. dari semua kalangan paham dengan maksud si pembuat slogan.. (yg ini jd inget the davinci code.. hehe)..
    Cuma yg saya khawatirkan seperti ini (di komen mba juga sempat terfikir kayanya) .. awalnya saya melihat avanya dengan sangat sederhana yaitu memilih no.2… kemudian saya fikirkan sedikit.. eh hasilnya beda sekali.. yaitu kenapa orangnya ada disebelah satunya yg notabenenya no.1 dan dengan slogan ON the RIGHT SIDE.. artinya coblos sebelah kanan yg kalau berfikir cepat saya melihat kanan orang tsb yaitu posisi no.1.. dan nomer duanya ditutupi (seperti himbauan ga usah diliat siapa orang dikotak tertutup tersebut) hehe … (ini pikiran sepintas saja sih).. jadi lucu aja awalnya…
    but its ok, pemikiran subjektif saya saja lho, beda dengan ulanga mba yg mantap.. ditambah referensi yg jelas dan mantap. 🙂

    Like

  148. Reblogged this on Jejak Sekolahan and commented:
    “Pada akhirnya, silakan saja Anda memakai bahasa Inggris untuk mendukung salah satu capres, tapi tolong dipikirkan juga artinya. Jangan cuma sekedar ikut-ikutan tren, tapi Anda sama sekali nggak paham aturan penggunaan bahasa dan makna katanya ya!”

    Like

  149. kalimat dikeluarkan tergantung dimana situasinya (waktu dan tempat).. balik lg ke PERSEPSI.. jd tergantung situasinya kita bicara, contoh : ketika konser para fans sering bilang “i love you michael atau i love you reggina”, apakah artinya memang saya cinta kepada sang penyanyi secara batiniah atau caranya bernyanyi atau lirik lagu yang dibawakan atau suara penyanyinya atau penampilan penyanyinya..
    jadi biarlah orang yang mempersepsikannya.. dan juga ketika kita bicara “i am on the left side”, mungkin politisi amerika bisa mengartikan bahwa anda adalah sayap kiri (dalam hal ini sayap kiri dlm bhs politik bisa diartikan komunis/sejenisnya), padahal bisa jadi klo di poto orang yang berada di sisi kiri berasal dari partai nasionalis, jadi apakah mungkin dia bisa beraliran “kiri”..
    hanya saja kita manusia dikaruniakan pemikiran yang alami untuk mengartikan kalimat-kalimat yang kita ucapkan, bukan untuk dipelintir tapi untuk dimengerti secara baik dan benar..
    dan akhirnya penggunaan kalimat “i stand on the right side” dengan disertai poto dan gambar yang jelas menurut saya dapat diartikan secara natural adalah “saya berdiri/berada di posisi sebelah kanan dengan gambar angka 2”, bukan dengan pengertian “bahasa politik” atau “bahasa teknik” atau “bahasa gaul” tapi dengan pengertian secara natural di situasi yang natural yang dimana situasi saat kalimat itu dikeluarkan adalah situasi nomor urut capres jokowi yaitu nomor 2..
    kalo ada yg mengartikan “saya adalah aliran kanan” balik lg itu adalah persepsi orang-orang yang memakai “bahasa politik/filsuf”..

    Like

  150. nemu link ini dr tweet nya Rosiana Silalahi 🙂

    saya termasuk orang yg masih juga netral soal pilpres bahkan setelah debat pilpres semalam. karena saya gapercaya debat pilpres, banyaknya setting-an, bukan spontanitas capres. saya agak sulit mencari sumber di media yg benar2 objektif (mungkin sulit kalo netral) dalam menyampaikan fakta mengenai capres. untuk menilai secara objektif tentu saja perlu data, dan paling mudah lewat internet, tp banyaknya udah “gak perawan” :/

    yaah faktanya orang indonesia masih sulit diajak berbicara sambil belajar “mau membuka mata” untuk menelaahnya dari sisi keilmuan, malah banyak yg bilang “lebay”, “sotau”, “kejauhan”..

    ternyata memang fatal maknanya “right side” ini kalo salah menempatkan, tp mungkin lebay juga kalo saya bacanya pake kacamata pendukung mati2an salah satu capres atau jd orang apatis soal perpolitikkan :V

    yaah dan tulisan mbak cukup menolong saya dalam proses menilai secara objektif kedua capres, thanks mbak Neny 🙂

    Like

  151. Saya sejatinya gak terlalu peduli sama pilpres-pilpresan. Saya cuma tertarik baca tulisan ini karena kebetulan muncul di home feed facebook saya.
    Menurut saya pembahasannya bagus dan akademis sekali. Ini kritik yang konstruktif. Harusnya dari pihak capres 2 dan pendukung-pendukungnya bisa menyikapi secara positif.

    Toh penulis juga sudah berulangkali menerangkan bahwa ia hanya mengkritisi dari sisi bahasa. Jadi Jika menurut para pendukung no.2 hal itu tidak penting, karena yang penting itu maksudnya, ya sudah selesai. Kenapa mesti ribut-ribut dan malah menyerang penulis?

    Harusnya para pendukung no.2 ini berterima kasih sama penulis karena sudah diperhatikan dan dibetulkan. Apalagi memang latar belakang beliau memang mumpuni untuk hal ini.

    Gitu aja kok repot.
    Jadi sebenernya siapa yang lebay?
    Saya kok jadi merasa kalo kebanyakan pendukung capres no.2 itu fanatik dan anti kritik, ya? saya yang tadinya biasa-biasa aja malah jadi antipati.

    Trims tempat komennya ya Mba Neny.
    Kalem aja, “You stand on the right side” kok. heheheheh… 😀

    Like

  152. Seru juga baca komentar2nya..ada yg bales secara ilmiah…ada yg yaah cuma asal jawab aj tanpa ada landasan ilmiah kaya saya ini…xixixi….
    gpp mb Neny..tetap semangat menelaah kata2…yg jelas maksud anda adalah baik…jangan sampai ada salah persepsi. 🙂

    Like

  153. Bacaan semacam ini selalu jadi favorit saya. Kupas tuntas tanpa unsur menghakimi.
    Untuk saya pribadi, tulisan ini adalah pembelajaran untuk lebih memperhatikan tatanan dan detail.
    Terima kasih 🙂

    Like

  154. Kita kenal ada bahasa Inggris british, bahasa Inggris amerika, inggris australi, inggris singapore, bahkan yang jg populer inggris india. Jadi sebenarnya bahasa inggris banyak diadopsi dan mendapat pengayaan di masing2 negara. Menurut saya, kita perlu juga mengakui bahwa ada juga bahasa inggris Indonesia hehe

    Like

  155. Mungkin Mbak sudah bosan ya dapat new comment notification, saya hanya ingin memberikan support kepada Mbak selaku blogger-nya.

    Dari membaca beberapa komentar di atas – rasa-rasanya saya nggak sanggup membaca semuanya – kita bisa melihat gambaran sebagian masyarakat Indonesia yang lebih suka berpikir pragmatis daripada kritis – seperti nyebrang di tengah jalan walaupun tepat di atasnya ada jembatan penyebrangan.

    Tulisan Mbak, buat saya adalah pelajaran baru buat saya, memperluas cakrawala.

    Like

  156. Right side itu ya maksudnya nomor 2, nomor urut JOKOWI JK… Itu kan kampanye untuk seluruh masyarakat Indonesia, masyarakat luas mana ngerti sayap kanan, sayap kiri, ideologi ini, ideologi itu. yang tentu masih jadi barang perdebatan oleh para pakar dibidangnya, apalgi untuk orang awam :o… tapi terlepas dari itu, tulisannya bagus… 🙂 salam kenal….

    Like

  157. “I stand on the right side of …” adalah bahasa inggris yang benar. Tp yang namanya tag line memang tidak harus 1 kalimat utuh. sehingga hanya diambil bagian awalnya saja “I stand on the right side”

    Contoh yg paling sering: “God bless you”, dlm tata bahas inggris seharusnya “God blesses you”. Tapi sebetulnya “God bless you” adalah singkatan dari “May God bless you”.

    Like

  158. Sukaaaaaaa sama ulasannya.
    Saya sendiri mahasiswa Sastra Inggris, major Literature dan sedang skripsi. Tapi kalau ada fenomena linguistik gini, selalu tertarik. Sering dibilang grammar nazi juga sama temen-temen.
    Buat yang komen “orang Indonesia gak akan sampe mikir ke fasisme segala macem, itu gak relevan”, jelas gak pernah ketemu sama orang Indonesia yang tergila-gila sama teori konspirasi Iluminati. Mungkin kalau dia baca The Jacatra Secret, dia akan bilang gak relevan juga dengan alasan orang Indonesia mana mikir kalo Bundaran HI itu simbol Iluminati. Hehehe.
    Saya bukan pendukung Prabowo, bukan juga simpatisan Jokowi.
    Berpikir kritis itu harus digalakkan, Mbak. Walau dibilang orang kurang kerjaan, lebay, atau rempong, balas aja, “Situ juga rempong mau baca tulisan saya terus komen ‘rempong’.

    Like

  159. Tangapan dan permasalahan dari saya adalah Ini kan pemilihan presiden dan wakil presiden “Indonesia”. Yang boleh milih juga cuma Rakyat Indonesia, ngapain juga kampanye pakai bahasa yang bukan bahasa Indonesia. Sudah lupa sama sumpah pemuda kali ya. Dikiranya rakyat Indonesia ini pada bisa Bahasa Inggris semua. Pada kenyataannya rakyat daerah yang termasuk bangsa asli Indonesia saja masih ada yang gak bisa bahasa Indonesia sama sekali lo.

    Like

  160. Salam kenal .
    Ini simple .Menurut saya sudah tepat karena pasangan nomor urut 2 akan berada di kertas bagian kanan .

    Fasis ?politik kanan ?mungkin org pertama yg mbikin meme itu tidak terbayang sampai sana .hmm . *plotTwist*

    Like

  161. bagus tulisannya mbak, tapi saya pengen komentar soal ini:

    “Dia bilang, ““I stand ON the right side” can also mean that you’re right wing or even fascist.” Nah lho!

    buat saya, partai berhaluan kanan jauh lebih baik (sekali lagi buat saya ya) daripada partai berhaluan kiri yang rata-rata condong kepada marxisme dan komunisme. Jadi, tidak ada yang salah dengan menjadi partai berhaluan kanan mbak.

    Like

  162. Selaku praktisi bahasa (emang ada istilah ini ya?), saya menilai esensi dari artikel ini bagus dan pembahasannya cukup mendalam. Bisa menjadi sebuah pencerahan bagi kita untuk lebih cermat menentukan pilihan kata yang akan digunakan sekaligus mempertimbangkan ambiguitas pemahaman makna yang mungkin terjadi.
    Pertanyaan sesungguhnya adalah: apakah penulis menyampaikan ulasannya ini dilandasi tendensi untuk mendukung salah satu pasangan capres/cawapres? Jika pun tidak, barangkali – seperti yang sudah disebutkan di sebuah komentar di atas – momen munculnya analisa/ulasan penulis terkait penggunaan bahasa ini memang kurang tepat mengingat para pendukung masing-masing pasangan capres/cawapres ini sedang semakin intens ‘berperang’ di dunia maya dengan menggunakan berbagai ‘senjata’ yang salah satunya bisa jadi adalah artikel penulis ini.

    Like

  163. Grammar nazi gone too far? Seriously this is so lame tho. It’s a double entendre, since ‘right’ is where the chosen candidates will be, spatially,on the voting sheet–not right-wing or whatever SMH isn’t it so obvious? Indonesians are so obsessed with English grammar something that the natives don’t even really give a hoot about. Chill.

    Like

  164. Upload foto anda yang sudah anda buat
    Background merah
    Angka 2 dan bertuliskan
    ” I STAND ON THE RIGHT SIDE ”
    Kirim foto anda di dinding I STAND on the RIGHT SIDE Jokowi for RI1
    Sebagai Partisipasi dukungan
    CAPRES no 2
    JOKOWI – JK untuk menjadi
    PRESIDEN RI 2014 – 2019

    #foto yang nantinya
    di Upload ke dinding I STAND on the RIGHT SIDE Jokowi for RI1
    nanti bakal di gabungin sama foto lainnya, menjasi 1sebuah foto yang berisikan foto 30 orang terlihat seperti foto profil dan yang pasti akan di jadiin foto profil halaman

    https://www.facebook.com/IStandOnTheRightSideJKW4RI

    Like

  165. hwe e e e. mbakè tiyang salatiga to? saya mantan tengaran. hehe
    mengingatkan saya pada materi kuliah dulu.informatif mbak. sudah cukup kalo menurut saya. ga perlu lah perang tanding halliday vs chomsky. bikin saya mimpi buruk, mimpiin kumis sapunya pak dosen Systemic Functional Linguistik.
    *maap OOT. sekedar penyegaran dari panasnya suasana kampanye

    Like

  166. I think it’s important to keep in my mind that right-wing politics do not necessarily entail racism and religious fundamentalism. However, *far*-right political parties are often racist and ultra-nationalist (and even fascist). Selain itu, karena komunisme, salah satu manifestasi politik sayap kiri, dilarang di Indonesia, partai politik di tanah air cenderung menganut ideologi sayap kanan — nasionalis, dan terkadang konservatif serta relijius.

    Like

  167. Tulisan Anda sangat menarik. Saya kagum dengan pemikiran Anda yang ‘kok bisa sampe situ?’ itu. Tapi, ambigu memiliki nilai estestika dalam zebuah tulisan.

    Like

  168. setelah baca tulisannya dan komen2nya… tertawa geli baca komen2 pendukung capres yg ‘panas’.. trus ada juga yg bilang lebay lha.. dan pada bilang buang2 waktu bikin tulisan ini.. hahahaha.. mereka semua pada ga menghargai usaha orang lain.. bisanya cuma menghujat.. bisanya cuma kritik pedas.. kalau ga setuju ya kemukakan secara akademisi juga.. buat penulis semangat terus untuk menulis lagi karya2 nya.. menurut aku tulisan ini tidak menggiring kepada pilihan capres.. netral ko..

    Like

  169. wow! 🙂 thank u lho for posting :D. hahaaa.., emang agak kurang pas didengernya ya, tp kita ngerti sih arah mereka kemana :). Sepertinya mrk ‘keukeuh’ dgn 2 kata itu; stand dan right. Dalam lingkungan kampanye, sepertinya terdengar lebih pas kalo begini (dg tetap pakai 2 kata itu), ‘I stand for the right number’. nomor yg di kanan dan benar! 😀 (duuuh, jd berasa jurkam sayah, padahal nomor yg mana jg ga ngaruh..!! ooops.. hihiii)

    Like

  170. Awalnya saya tidak merasakan apa-apa membaca post mbak. Saya mengerti dan tahu jelas. Kalau profesi, memang membuat otak ini mau berpikir dan membahas sesuatu. Buat orang lain terkesan berlebihan, tapi untuk memuaskan rasa ingin tahu dan keinginan untuk menganalisa, saya rasa wajar.

    Tapi yah, membaca banyak komentar membuat saya mengerutkan dahi. Mungkin itu yang saya bisa bilang berlebihan. Tanggapan sampai mengatakan ini black campaign kayaknya berlebihan. Toh, hasil analisis mbak juga berdasarkan komentar orang luar yang tidak melihat siapa yang menjadi para capres. Saya tetap melihat mbak tetap dalam posisi netral sih. Hanya sebagai seorang penganalisis bahasa yang tergelitik untuk membahas hal ini.

    Btw mbak. Saya juga tergelitik soal slogan dan foto yang berada di sebelah kiri. Pertama kali melihat, saya langsung bertanya dalam hati. Pembuat slogan ini maksudnya mendukung satu atau dua? Soalnya, ada tulisan dua, tapi foto di nomor satu. Mungkin hal ini yang membuat mbak membahas soal slogan? :p hehe.

    Like

  171. Tulisan yg sangat menarik dan menambah ilmu. Well done…

    Cuma secara timing yang mungkin agak bermasalah. Di saat situasi politik memanas, walau mungkin kita tidak ada niat untuk mendukung salah satu pihak, ataupun menjelekkan pihak yang lain, tapi sedikit percikan yg kita berikan bisa dimanfaatkan oleh orang2 yg berkepentingan utk menggunakannya.

    Mungkin apabila tulisan ini keluar saat proses yg terjadi saat ini sdh selesai, masing2 pihak bisa saling berdiskusi dgn lebih terbuka dan dgn kepala dingin, sesuai kaidah yg dibahas oleh penulis. Bisa lebih mencerahkan lagi. Walau mungkin yg akan membahas tidak sebanyak sekarang, termasuk saya… hehehe…3x

    Jujur saja, saya kadang kritis (walaupun termasuk orang yg malas utk berpikir terlalu panjang). Tapi juga sering cuek. Kebetulan kali ini agak nyinyir iseng ikut komentar. Karena bagi saya yg berpikiran sederhana, slogan yg dibahas ini, apa ya istilahnya, eye catching? Dan saya pendukung slogan tersebut.

    Latar belakang sebenarnya tdk memadai utk ikut membahas dari segi ilmiah. Wong bahasa Indonesia aja belepotan, bahasa Inggris juga pas-pasan. Makanya saya ngak berani ikutan membahas masalah grammar dll. Dan mohon maaf kalau tata bahasa saya belepotan.

    Like

  172. saya tidak mengerti tapi mungkin anda terlalu cerdas sampai hal kecil anda kritisi, terlalu kritis sampai kecerdasan anda hanya digunakan untuk mencari permasalahan dari sesuatu yang tidak layak dipermasalahkan, saran saya apabila blog anda ingin ramai dikunjungi.. buatlah sesuatu yang menarik tanpa harus menuai kontroversi.. kecerdasan dalam mengkritisi seharusnya untuk hal yang positif…

    Like

    1. Saran saya kalau memang tidak suka dengan analisis yang dilakukan penulis tidak usah menuduh sembarangan bahwa tujuan tulisan ini hanyalah untuk menuai kontroversi, karena keseluruhan isi tulisan ini bermuatan informasi pembelajaran yang cukup baik. Justru ini kecerdasan dalam mengkritisi yang positif. Pembelajaran bahasa tidak harus selamanya berkutat di diktat saja, tapi juga dalam seluruh kejadian yang ada disekitar, karena bahasa itu adalah ilmu yang juga berkembang seperti ilmu ilmu lainnya. Merasa terganggu? Tidak usah membaca artikel ini.

      Like

  173. salom.mnurutku penjelasannya terlalu cimplicated.sampe gw ga sanggup baca smua.ujung” jg black canpaign mau jelekin lawan aja…klo smua org rumit sperti mba ini jlas sangat berbahaya..ngomong sdkit keceplos aj bisa dijerat penjara sma mba ini. buat komentator tlong hati” aja.

    membelit”kan suatu mslah,sudah jelas lah tujuannya. dari sisi pandang dr org yg golput(gw sndri). lg musim mgkn ya,saling menjatuhkan dan saling jelekin…org yg masang gambar sperti itu ya hak mreka…mreka senang ikut”an trend jagoan mreka..ga perlu mkir serumit itu lah buat jlekin orang…seandainya kl trend nomor urut 1,bisa aja dia mau nulis “i will be number one” brarti politik apa lagi? politik sombong? atau politik orang” berlebihan percaya diri? atau politik orang konservativ yg slalu mw menang sndri? tambah”in aja sesuai pnelitianmu lagi sono…
    seandainya gw mw dkung nomor 1 muka mau gw tato nomor 1 jg suka” gw lah….loe koq sakid amad sih?

    Like

  174. gak ada yg salah dengan kalimat “i stand on the right side”. ya, gak ada yg salah. begini saja, anggap saja artinya “saya berdiri di sebelah kanan” dimana kalimat ini mempunyai arti yang berbeda, tidak hanya berarti dia berdiri disebelah sana. cobalah berpikir lebih luas. bahasa tidak bisa disalahkan dengan hanya analisis seperti itu.

    Like

  175. bukankah lebih baik kalau bertanya dulu kepada pembuatnya apa maksud dari slogan tersebut?
    susah sekali saya rasa kalau beropini bahwa maksud dari slogan terebut adalah a atau b padahal mungkin dari pembuat slogan tersebut berarti c 🙂
    hanya masukan saja kalau tidak bermanfaat yah tidak apa apa toh 🙂

    Like

  176. halo mbak Neny, boleh juga nih analisanya; tp ijinkan sy menggoda sedikit isinya ya. Satu, di paragraf 2 Mbak bilang merasa ‘terganggu’ dengan ‘tag line’ tsb. Sedemikian terganggunya Anda hingga di paragraf 8 Mbak ngaku tambah pusing. Tetapi anehnya, setelah menulis demikian panjang, lebar, luas dan mungkin juga dalam, di paragraf 12 Anda mengaku tidak mempermasalahkan penggunaan bahasa Inggris sbg slogan kampanye. In short, jan-jane njenengan niki badhe ngendiko nopo to Mbak?
    Mbok cekak aos mawon. If it is semantically or linguistically or whatever…. wrongly formulated, simply tell them…. Suggest a correction. Wis mbak Neny sakmene wae….nek kedawan mengko ndak malah aku sing dianalisis…. trus mbak Neny tambah mumet. Cheers!

    Like

  177. aku ga begitu menguasai grammar atau apalah istilah pilihan kata dlm bhs inggris.aku juga ga memandan right side itu sebagai kata politik yg artinya sayap kanan yg sudah dijelaskan tadi. yg saya pake sebagai acuan hanyalah posisi no2 di sebelah kanan no 1.

    Like

  178. Menurut thefreedictionary.com, idiom “STAND ON” bisa berarti:
    1. To be based on; depend on
    2. To insist on observance of

    Persepsi saya, “I stand on the right side” secara gramatika sudah benar dan kalimat itu bisa diartikan sebagai “Saya memihak/ mendukung/ berada di/ bersandar pada/ memperjuangkan pihak yang benar (atau bisa juga “yang sebelah kanan)”.

    Mengenai apakah para pemakai AVA tersebut tahu artinya atau tidak, atau apakah mereka hanya ikut-ikutan, itu hak mereka. Toh, apa juga yang perlu dikritisi dari penggunaan kalimat yang secara gramatika juga sudah benar?

    Like

  179. tulisan menarik menurut saya.

    sejak awal AVA macam ini muncul, saya juga langsung berpikir bahasanya seperti kurang pas, tapi karena bukan ahli bahasa, saya cuma sering ngulang2 di kepala tanpa tahu apanya yg keliru.

    secara umum saya setuju. tulisan ini mungkin bisa dipakai oleh “sayap kiri” sebagai senjata baru untuk menyerang, tapi saya melihat ini lebih ke arah analisis literatur yang cukup berbobot. saya justru mendapat beberapa info baru mengenai istilah literatur yg slama ini cuma sy dengar sekilas saja.

    kalau dr kcmata org awam, memang isinya agak provokatif, bahkan bisa dibilang extrim lah. “jokowi pnganut aliran kanan?” haha. sy malah gak tega mikir demikian. analisis oleh ahli bahasa Inggris/native mungkin saja berbeda sudut pandang dengan kita org Indonesia (kecuali bila mereka smua juga ahli bahasa dan komunikasi Indonesia ya). jadi kita pasti kaget dgn kajian2 literatur mereka dlm mmbahas slogan ini.

    tapi yg sy salut dr tulisan ini bhwa pentng utk meneliti kebenaran kontks dan ke”pas”an slogan tersebut. yg membacanya bukn cma org awam saja; nah utk mereka yg paham analisis bahasa dan literatur, bisa saja salah tafsir kan. kemudian, bahasa yg digunakan bukn bhsa Indonesia. kata2 “slang” dlm bhsa kita sehari2 bsa sngt berbeda dgn bhs Inggris; satu kata salah posisi saja bisa mngandng arti yg berbeda 180°.

    terima kasih tulisannya

    Like

  180. maaf mbak cuma mau sedikit kritis sama tuisannya
    alangkah lebih baik jikalau judulnya tidak seperti itu, karena menurut saya ambigu, judul yg seperti itu oleh orang awam (termasuk saya) bisa diartikan “apa yakin dukung pasangan no 2?”
    pada judul “I Stand on the Right Side” menurut orang awam ini adalah slogan untuk pendukung JKW-JK, ada penambahan “Really?” orang awam mengartikan “beneran?”
    thx

    Like

  181. Nice point of view. Saya sebagai orang yang menekuni ilmu bahasa dengan segala kerumitannya tidak merasa mempermasalahkan apa yang ditulis oleh Mbak Neny, karena menurut saya apa yang dilakukan beliau itu wajar karena ia berbicara sesuai dengan bidangnya. Saya mahasiswi sastra, terkadang juga sering melakukan diskusi dengan dosen2 mengenai kalimat atau kata yang lazim digunakan oleh kebanyakan orang yang ternyata secara aturan tata bahasa itu merupakan sebuah kesalahan. Lanjutkan, Mbak !

    Like

    1. Hidup fasis….. Btw, apaan ya fasis itu… What is that, and kenapa ya kelihatannya ditakuti….

      Sori for my not properly english….

      Like

  182. Haloo Mbak.
    Tulisan yg mencerahkan. Dan jika ada yg komen diluar topik telaah sintaksis semantis terkait tulisan ini, itu namanya keras kepala 😀

    Tadi di status seorang kawan, terkait kalimat slogan ‘ I stand on the right side” itu, ia menulis,
    “Dugaan pertama adalah ” Saya berdiri disisi kanan ” cek per cek di google translate dan freedictionary.com ternyata artinya memang begitu..
    Waduh enggak lazim tuh masbro, padahal niatnya mau mengkampanyekan pak Jokowi dengan menyampaikan ” Saya berdiri disisi yang benar ” dengan mencantumkan nomor capres 2
    Nah, Setelah membuka kembali buku English Structure I pada bagian BAB ” Preposisi ”
    Faktanya, frasa ” Stand On ” memang ada tapi artinya berdiri pada posisi ..atas bawah, kanan kiri. Selain itu Stand on adalah sinonim dari kata Depend on dan frasa ini tidak layak digunakan untuk ” Stand on/Depend on the right side ”
    namun penggunaan yang cocok adalah contoh
    ” The success of the project [stands on] management’s support of it”
    sedangkan frasa yang lain adalah ” Stand for ” dan ” Stand with ”
    dan saya pikir inilah frasa yang cocok untuk kalimat ” I Stand for the right side ”
    kampanye presiden amerika Barack Obama aja dulu pake ” I Stand With Obama ”

    Begitu ia menulis. saya hanya copas saja untuk menambah ulasan yg menarik ini. 😀

    Like

  183. Tulisan yang bagus dalam menganalisa…
    Tapi ini menurutku hanya sebuah slogan.. jadi seperti itulah.
    Apalagi ini digunakan di Indonesia, ketika arti lebih penting daripada Grammar. Jangankan bahasa inggris, bahasa Indonesia aja sering diplesetkan ambigu dalam sebuah iklan.

    Nice post!

    Like

  184. seharusnya, foto orang2 itu ditaruh di sisi kanan. dan tulisan I stand on the right side di sisi kiri. Menunjukkan bahwa anda memang ada di sebelah kanan, anda berdiri di sisi kanan dan pas coblosan anda nyoblos kertas suara yang sisi kanan (ingat: karena yg dicoblos adalah gambar, bukan tulisan). Maka secara gramatikal tidak jadi salah (karena fotonya memang benar2 ada on the right side).

    Nah kalo yang sekarang beredar itu kan emang salah kaprah. tapi ya itu, kalo di kritisi orang2 pada ngeyel. mereka cuma ikut2an aja. semoga milih jokowi juga bukan ikut2an trend aja. bahaya. dulu ada berapa persen yg milih SBY jadi presiden? saya pikir kebanyakan ikut2an juga, nyatanya sekarang (dan sudah sejak lama) orang2 mengkritisi habis2an SBY. mereka gak inget dulu pas pilpres milih siapa dan kenapa milih pilihannya itu.

    intinya seperti alinea terakhir tulisan di atas, Jangan asal ikut2an ya 🙂

    Like

  185. Saya bukan orang yang ahli dalam berbahasa inggris namun saya mampu menangkap dengan jelas maksud dr slogan itu dan menurut saya menarik.. justru klo kata on itu dganti dengan kata with for dsb malah terdengar aneh.. skali lagi ini hanya pendapat orang awam yg tidak ahli sama sekali ttg bhs inggris.. thx

    Like

  186. sebenarnya apakah benar kalimat itu sangat berefek sampai harus dikaji secara berlebihan gini. coba disurvey deh. brp banyak yg peduli dg artinya yg benar. itu terjemahan paling bebasnya adalah: “mari nyoblos no. 2”. udah itu aja.

    Like

  187. Mbak, sebaiknya saat menulis anda juga membacanya terlebih dahulu sambil merenungkan apa yg akan terjadi dari akibat tulisan anda, saya tidak terpengaruh apapun atas kata2 fasis kepada capres no 2, tapi anda liat sebagian besar org yg mengshared tulisan anda ini adalah org2 yg suka mencari2 kesalahan org walaupun tu fitnah, anda tidak blh menganggap bahwa tulisan anda dapat diterima semua org cerdas, masih banyak org yg belum tau mana benar dan salah aja eh sudah ngambil kesimpulan ttp pilpres,soal kata on sih ada benarnya, tp soal kata right itulah yg membuat org2 pendukung capres 1 yg sangat menunggu2 peluang dalam mengklaim syiah/antek asng/kristen/cina/hingga fasis dari sisi capres no 2 yg anda jadikan bahan tulisan diatas, lihatlah efek nya..anda bisa saja berkata “saya tdk bermaksud,saya tidak mendukung salah satu capres, saya tidak menulis sesuatu yg menjelek2an…” ya..mungkin…tapi bagi saya anda juga sangat mungkin salah satu dari mereka, makanya jika tidak ingin di cap demikian, maka mikir2lah terlebih dahulu, saya anggap anda pintar dlm menulis, tp tidak dalam memperhitungkan akibat akan tulisan anda..kcuali 1 td, anda mmg berniat menjatuhkan capres no 2 secara halus…note : saya golput tapi saya membenci isu fitnah dan isu perpecahan,Indonesia saat ini krisis gara2 org2 spt anda

    Like

  188. amazing! Dalam 4 hari sudah hampir 400 komentar mba hhe 😀
    Saya tau postingan ini dari teman yg nge-share di facebook. Setelah membaca, sebenarnya nggak ada yg hiperbola dari “pencerahan” ini. Justru kebanyakan para komentator-lah yg hiperbola hhehe.
    Tulisan ini netral dan ilmiah. Saya berharap semakin banyak blogger yg bisa menelurkan tulisan berbobot seperti ini, apapun temanya

    Keep blogging mba 🙂

    Like

  189. dan 1 lagi, tdak semua kanan itu fasis, ditiap negara itu beda sebutan antara kanan dan kiri, ada yg fasis ada yg tidak..jd jangan mengklaim fasis itu selalu berada di kanan…khan ahlinya sndiri yg blg “…even facism”

    Like

  190. You’re not very punny, are you? hehe

    Itu “right” kan maksudnya “kanan” dalam artian sisi pasangan capres kalau disejajarkan, kan pasang no.1 di sebelah kiri dan pasangan no.2 di sebelah kanan.

    It’s just a pun, woles aja lah, hehe

    Like

  191. tulisan ini perlu disebarluaskan agar masyarakat bisa mengetahui apa arti dan makna ‘I stand on the right side’ dg memperbincangkan dan menyebarluaskan tulisan ini dpt mengalihkan sejenak pembicaraan masyarakat mengenai prabowo atau jokowi. tuisan ini dpt membuat masyarakat setidaknya membicarakan jokowi secara tdk langsung dan dpt mempengaruhi para swing voters utk memilih jokowi bahkan bisa berefek pada pemilih prabowo mengalihkan suara kepada jokowi krn masyarakat indonesia dlm memilih lebih krn faktor simpati. paling tidak utk masyarakat pemilih yg tdk begitu mengenal siapa itu prabowo ataupun prestasi2 jokowi yg 90 persen lebih warga solo mencoblos beliau krn keberpihakanya jokowi pd rakyat, serta khususnya dipedesaan atau yg pelosok sekarang mereka memiliki alasan utk mencoblos jokowi. krn apa? karna ” I STAND ON THE RIGHT SIDE”

    Like

  192. Saya ga baca smua komen krn banyak bgttt..jd maaf klo di atas sdh ada yg bahas..
    Tapi menurut saya,kayanya memang slogan sengaja dibuat ambigu,that’s part of advertising bukan?
    Di gambar,stands on the right side padahal fotonya di left side,itu kan klo posisi kita yang liat,bagi org yg di foto dia stand di right side kaan?(cont efek mirror)
    klo ada yg blg kaya mngarahkan,ya mungkin mmg itu tujuanny bkn?bknkah ini slogan kampanye?yg maksudnya mengarahkan?😊

    Like

  193. terimakasih sudah menulis 🙂 tapi sy rasa tidak ad yg salah dari pengunaan slogan tsb. it’s acceptable dan sejalan dengan konteksnya. jadi tidak lah kalo sampai ambigu dg fasis. sy kira masyarakat paham konteks.

    Like

  194. Setuju bgt saya yg kirang ngerti apa apa tp ketika baca avatar yg betuliskan nomer # itu saya menganggap bawah itu sayap kanan. Mencerminkan sosok aliran politik golongan kanan dan stelah membaca ini saya makin dipencerahken. Matur suwon

    Like

  195. Halo mbak Neny

    Menurutku isi artikelnya cukup menarik dan menambah wawasan terlepas dengan soal capresnya. Yang kurang sreg itu judul artikel nya loh mbak yang bikin ambigu. Kalau boleh tahu “really” disini artinya apa ya? Soalnya dalam konteksnya ini juga bisa berbeda-beda. Judul artikelnya yang so social media marketing hook bingit mbak. hehe

    Like

  196. maunya baik buat slogan.. Tapi yang buat ilmunya masih belum terlatih dengan baik sehingga memperlihatkan kekurangannya.. Dan begitupun followernya pun ikut2an tanpa memahami maknanya dengan baik, bak kerbau dicocok hidungnya. Aku melu dan manut wae apa kata yang diatas..

    Like

  197. Wah tulisan di atas cukup menarik ya. Tetapi menurut saya, untuk orang awam, pesan kampanye di atas cukup clear. Perlu saya tekankan lagi bahwa ini adalah untuk orang awam yang berbahasa Indonesia. Mau menggunakan with, on, dll mereka akan mengerti bahwa right yang dimaksud adalah benar atau kanan yang kedua arti tersebut mengacu kepada Jokowi. Jokowi berada pada posisi kanan dalam layout pencoblosan pilpres mendatang. Selain itu, penulisan nomor 2 yang besar (no urut Jokowi) menekankan maksud tersebut.

    Nah kalau untuk right-wing politics, sekali lagi masyarakat awam Indonesia (99% populasi) tidak akan tahu menahu apa itu politik sayap kanan. Terms untuk right wing politics tidak biasa digunakan di Indonesia. Jadi mayoritas orang akan berpikir bahwa kanan di sini adalah Jokowi.

    Jadi apakah ini ambigu? Mungkin untuk ahli linguistik ambigu, tetapi sangat clear bahwa si pembuat pesan ini menyatakan bahwa mereka mendukung Jokowi. Mungkin karena bidang anda adalah linguistik, anda menjadi merasa harus untuk “menyempurnakan” tata cara penulisan bahasa yang sebenarnya sudah sangat clear dalam menyampaikan maksud tersebut.

    Like

  198. pertama liat temen2 pada pasang pp model begitu, saya langsung mikir, lha itu kan orgnya berdiri di kiri, tulisannya di kanan. udh jelas2 bingungin kan (aku ga kepikir sampe jauh2 sih)

    oleh karena itu, sebagai pendukung no2, tulisan di kanan itu aku ganti jadi “2 for peace and victory” kayaknya agak lebih jelas ya hahaha

    Like

  199. Susah kalau sudah pada fanatisme buta, tulisan ilmiah pun akan diterjemahkan sebagai black campaign.
    Kalau membaca tulisan ini dengan pikiran dingin dan terbuka, malah yang kita dapat ilmu, bukan emosi.
    Thanks untuk tulisannya 🙂

    Like

  200. Pas pertama liat judulnya spt menarik, lalu sy bca tulisan ini, smakin sy baca k bwh. Sontak waduh ini yg buat tulisan bnr2 overthink, semakin malas jg sy mmbaca tulisan ini.
    Slogan ini sbnarnya sdrhana bahkan sangat menarik mnurut saya, hanya terlalu diperumit oleh org yg memang doyan atau senang mnciptakan suatu masalah. Maaf yaaa, anda itu bukan berfikir kritis, tapi hnya berniat utk menjatuhkan capres cawapres no 2 (maaf klo suudzon). Kalau memang anda mendukung no 1 lebih baik berusaha menceritakan kebaikan capres tsb. Jangan menjatuhkan pihak lawan! STOP!!! menghujat, membenci capres cawapres! Karena mau tidak mau, suka tdk suka salah 2 dari mreka capres & cawapres akan mnjadi presiden skaligus wkil presiden kita. Jadi berhentilah mempermalukan calon pemimpin negara kita sendiri!!! Brsainglah scara sehat yaaa, ini utk semuanya juga terutama penulis.

    Like

  201. mba neny, satu lagi entah ini kalimat condolism atau bukan, yang sabar ya mba menghadapi para jasmev, mereka pasti bakalan mem bully anda. Ini hasil pengamatan saya setiap kali membaca artikel yang menyudutkan capres mereka

    Like

  202. Tulisan yg sebenarnya cukup baik.Hanya sayangnya anda tidak memahami bahasa sebagai sesuatu yang bisa ditinjau dari banyak aspek. Tidak semua aspek bahasa bisa dinilai dr aspek literaturnya. Anda bisa melihat bagaimana culture pop menggunakan bahasa yg tidak grammatical atau mungkin tahu yang disebut bahasa slang. Hal lain yang menurut saya kurang tepat adalah ketika menggunakan atau memakai profil para cendikia untuk membenarkan argumentasi anda. Agak sedikit kurang elok menurut saya,krna bagaimanapun anda pada posisi mendukung salah satu pihak dan jujur saja tidak mungkin anda mendukung pihak yang anda kritisi ini.

    Tapi pada akhirnya,tulisan anda tetap menarik bagi saya dan sebagai bagian dari negara yang berdemokrasi,p saya kira semua pihak harus menghargai tulisan ini.

    Regards

    Like

  203. Terlalu overanalyze, hal yg simple dibuat rumit. Gerakan memasang foto ini maksudnya untuk marketing purposes. Untuk para pemilih menyatakan diri sekaligus mungkin mempromosikan pilihannya. Bukan untuk makalah, reset ataupun buku ilmiah. Semua ada tempat dan waktunya. English disini dipakai bukan yg baku supaya pemilih muda mau menggunakannya. Jadi anda harus melihat tujuannya dulu.

    Like

  204. Dude, this is just a critical thinking on LANGUAGE FIELD. Let’s just view this from the point of view of LINGUISTIC (Google if you don’t know Linguistic or Language), don’t mix it up with politics, it’s just happened that the example is a slogan.

    If you dislike education, language or maybe you don’t like to learn, it’s time for you to learn or just ignore this article 😀

    Let’s be smart and critical thinking. Take the positive thing about this article. If you read this article completely and understand everything, then you’ll know that this article doesn’t take side. Cool your head, guys 😀

    It’ll be cool if we just keep silence, but we do GREAT things, rather than blabbering many things but there’s no action at all 🙂

    Best Regards

    Like

  205. pembahasannya cukup menarik dan edukatif, tapi saya pikir sepertinya terlalu jauh kalau sampai masuk “sayap kiri” atau “sayap kanan”, kecuali kalau berusaha keren dengan bahasa inggris namun melakukan kesalahan fatal seperti ini :

    river this i forgive you.. but another river i kill you (kali ini aku maafin kamu.. tapi lain kali aku bunuh kamu)

    mending pakai bahasa indonesia aja 😀

    Like

  206. Maaf…. dalam sudut pandang saya ….
    kalimat itu mungkin dimaknai ” I ” nya merujuk (refers to) pada JKW, bukan pada orang yg memakai slogan. bahwa menjelaskan dia –> JKW berada / berdiri di posisi kanan ( dalam surat suara).
    karena jika ” I ” merujuk pada orang yg memakainya jadi “kurang pas” maksud slogan tersebut.
    Sehingga masalah penggunaan on / for / with dalam tulisan ini tidak diperlukan.
    sekian dan terimakasih …..

    Like

  207. Menarik mba. Salut !! buat orang awam macam saya, tulisan mba sgt ‘mencerahkan’, begitu jg dgn respon dari rekan2 lain melalui komentar2nya. Menambah wawasan. Semangat terus ya mbak!

    Mari berkomentar dgn SANTUN.. #RESPECT 🙂

    Like

  208. Berlebihan. Itu komentar pertama saya sesaat stlh membaca tulisan ini. Tp bagus sih, jadi bnyk dpt pengetahuan. Tp bgni, emang ada yg peduli ma motto. Para pendukung itu mana peduli, apalagi sampai menganalisa sedalam tulisan ini. Seandainya ditulis I stand on the hell side pun akan selalu muncul pembenaran2 terhadap motto2 itu. “Kan bediri disisi neraka bukan di dalam neraka” mungkin salah satu pembenaran. Alhasilnya yang penting yang mereka pahami, bhwa artinya kanan, yg kanan pasti benar, lurus, dipake makan, bukan cebok, dan seterusnya. Karena hakikatnya itu tak penting, itu ditulis untuk seni tok. Karena sekali lagi, seandainya kedua capres itu masuk ke goa penuh ular pun para pendukungnya pasti punya pembenaran-pembenaran. Titik.

    Like

  209. Menarik sekali tulisannya.
    Kebetulan saya bukan ahli dalam bidang linguistik, tetapi saya memiliki ketertarikan dalam bidang tersebut.
    Seperti beberapa komentar sebelum saya, menurut saya ambiguitas justru mengajak kita untuk merenung dan berpikir lebih, bahwa sebaiknya menentukan pilihan harus melalui pemikiran yang matang.

    Ketika memakai kata ‘on’ dalam ‘I stand on the right side’, saya membayangkan foto kedua pasangan terpajang di sebuah papan besar, dan pasangan nomor 2 ada di sebelah kanan, kemudian mereka yang menggunakan kalimat itu berdiri di sebelah kanan/pada sisi kanan (sesuai dengan makna leksikalnya), tempat di mana foto pasangan nomor 2 berada. Di sisi lain, ambiguitas membawa saya memaknai bahwa ‘right’ juga selain berarti ‘kanan’ dapat berarti ‘benar’. Menurut pandangan saya, si pembuat slogan ini memang ingin membentuk ambiguitas yang mengajak pembacanya berpikir, yaitu ‘Saya berdiri pada sisi kanan’ dan ‘Saya berdiri di pihak benar’. Di antara preposisi lain yang dapat disandingkan dengan kata ‘stand’, preposisi ‘on’ lah yang paling baik dalam membentuk ambiguitas tersebut.

    Terima kasih untuk tulisan Mbak yang sangat menarik ini. Maaf komentar saya terlalu panjang. Maaf juga kalau ada kata-kata yang salah. Terlebih lagi, ini pandangan saya pribadi tanpa melibatkan analisis dengan data valid. Jadi, pasti pendapat saya ini sarat sekali dengan subjektivitas. Sukses ya, Mbak.

    Salam.

    Like

  210. bung analisanya bagus, tapi sedikit menambahi saja kalau mau analisa bahasa sebaiknya digunakan dua objek (baik nomer 1 dan 2) karena kalau analisa bagus seperti ini tapi cuman membahas salah satunya saja itu akan menimbulkan opini miring (lebih tepatnya black campaign, walaupun anda tidak bermaksud).
    bahasa yang baik itu simple tapi bahasa yang benar itu susah apalagi dalam skala yang besar dan semua orang bebas mengkritisi

    Like

  211. Menarik mba,…

    Saya tidak mendukung salah satu capres karena saya tidak menyukai keduanya, jadi mungkin saya bisa membaca artikel tanpa faktor no 1 atau no 2, dan menurut saya artikel ini bagus dan memang untuk siapapun harus memikirkan kata-kata yang tepat agar bisa dikonsumsi publik secara tepat.

    Pendapat saya, bangsa ini sudah melupakan kesalahan-kesalahan yang dianggap biasa. Terlalu “sebentar” di jajah membuat bangsa ini tidak menerima sebuah kritikan. 🙂

    Like

  212. saya netral aja.

    menurut saya mbaknya ini mengkritisi tata bahasa atau apalah saya hanya orang awam.

    cuma sayangnya beliau memakai sampul yang salah yaitu tentang kampanye.

    Like

  213. Wow…
    Saya jadi berhayal alangkah menyenangkan kalau bisa duduk bersama dan berdiskusi dengan mbak Neny mengenai banyaknya penggunaan bahasa inggris yang (sepertinya) kurang tepat di indonesia

    Like

  214. pada dasarnya apa yang ditulis adalah bagus. Ini adalah sebuah kritik terhadap penggunaan bahasa asing di sekitar kita yang sering salah kaprah, namun karena “asing” kecenderungannya dianggap sebagai sesuatu yang keren….apa yang dituliskan penulis seharusnya menjadi sebuah kesadaran bagi timses capres no.2 bahwa jika akan mengusung slogan dengan bahasa asing maka ya harus benar dan tepat secara tata bahasa.

    Like

    1. Think less, talk more.
      Belajar lagi yg benar mengenai tata bahasa Inggris baru komen..
      I stand on the right side.
      Udah benar kokkk.

      Like

  215. yang jadi pertanyaan saya adalah dari waktu dan pikiran yang mba lakukan untuk analisis “I Stand on the right side”. seharusnya kalimat yang benar seperti apa yah? kalau kita mengkritisi sesuatu tentu harusnya bisa menyampaikan solusi atau jawaban akan hal yang di kritisi.

    Like

  216. hahaha.. emang tugas ilmuan itu membuat suatu hal yg simple menjadi terasa amat rumit.. Analisis yg kritis, relevan untuk ranah ilmiah. Ambiguitas emang sering dipakai untuk ‘mempercantik’ slogan.. Kadang ada jg yg agak2 homofon macam ‘God Bless’ dan ‘God Blast’ yg juga sering d pakai. Mungkin yg disayangkan adalah tulisan ini terlalu menyudutkan slogan “I Stand on the Right Side” yg seakan akan memang salah kaprah dan merupakan kelalaian si pembuat. Padahal maknanya hanya sesimpel saya berdiri di kanan karena no 2 ada di kanan, dan kebetulan bs juga diartikan saya berdiri di sisi yg benar..

    O iya, saya jadi ingat.. Saya penggemar berat group power metal Jerman, HELLOWEEN. Suatu saat saya menggambar logo band tersebut – di tas ransel saya- yg berbentuk sebuah boneka labu, dan saya beri tulisan besar di bawahnya “HELLOWEEN’.. teman perempuan saya berkomentar pedas: “ngga bisa bhs inggris sok inggris! Helloween itu pakai A.. bukan E !!” .. saya nyaris ngamuk.. tapi akhirnya saya memilih diam dan senyum.. Di official web site band tersebut telah dijelaskan bahwa Helloween itu permainan kata dari Halloween.. Seperti Megadeth yg seharusnya Megadeath.
    Mungkin begini jadinya kalau ranah seni dianalisis menggunakan rumus bahasa yg resmi dan kaku. Jadinya malah salah kaprah.. dan salah-salah memancing amarah.. akhirnya pasrah.. hahaha.. Yah.. kembali ke apa konteksnya dan apa kontennya.

    Salam,

    Like

  217. Saya setuju dengan apa yang dituangkan dalam tulisan ini, artinya masyarakat pun bisa tau mana yang dia pilih.

    karena banyak rakyat yang hanya melihat dari cover nya namun mereka tidak melihat jauh lebih dalam tentang sosok capres tersebut.

    saya berharap rakyat indonesia tidak termakan dengan yang namanya pencitraan dari seseorang, sehingga membuat dia menjadi RIA.

    tks.

    Like

  218. tangkyu very big. tulisan yang menarik paling tidak bisa rada nggeh sama bahasa orang yang ternyata “tajam”.

    i stand on the dark side

    Like

  219. Menurut saya sih, kalo pemilu kita, adanya juga di Indonesia, kenapa pula kita tidak menggunakan bahasa Indonesia. Hmnnn

    Like

  220. Sebagai seorang sociolinguist, saya malahan bangga dengan moto ini krn kita bisa membuat “meme” baru. Secara struktur sudah benar. Mungkin secara pemakaian, kurang umum. Tapi dengan dijadikannya status di FB banyak orang, moto ini menjadi populer dan dipakai banyak orang dan potensial menjadi bahasa baku. Ambil kata “walkman” yg secara struktur dan pemakaian ganjil namun sekarang sudah masuk dlm entry kamus untuk bahasa Inggris dari Amerika, Inggris dan Australia. Kondisi ambigu yg diciptakan justru merupakan langkah jenius. Right di sini bisa diartikan “kanan” dan “benar” sekaligus. Bagi saya ini tidak ambigu. Ini jeniyus. “Saya berdiri di pihak yang benar.'” atau “Saya berdiri di sisi kanan.” (Tentunya dari dua foto yang disandingkan untuk kedua Capres dan Cawapres kita). Brilyan. Sekali tepuk, dua lalat mati.

    Like

  221. terimakasih mbak neni infonya.

    inilah wajah beberapa masyarakat Indonesia, yang ketika ada info seperti ini malah dikaitkan ke yang lain2, atau bahkan mencari celah untuk disudutkan.
    padahal ini hanya membas penggunaan bahasa inggris dan maknanya (makna ya bukan arti)

    yuk… belajar untuk menerima info secara objektif

    Like

  222. Salam kenal mbak neny….
    Tulisan mbak neny untuk koreksi gramatikal pada kalimat ” I stand on the right side” itu memang betullll… Luar biasa,saya juga msh perlu belajar banyak..
    Dan Saya juga seorang pengajar bahasa Inggris jd saya setuju dengan “membenahi” kalimat atau tulisan orang lain.
    Tapi mbak neny, dalam urusan “menyampaikan sesuatu” ,itu sah sah saja tidak terlalu gramatikal yang penting orang mengerti maksud dari kalimat tersebut.
    Contoh, kalo dalam bahasa indonesia yang tidak gramatikal tapi semua orang mengerti maksudnya.
    (bandingkan) – saya memakai baju merah.
    – baju merah saya pakai
    – baju saya pakai merah
    – merah baju saya pakai
    Yang lebih ngawur lagi… – merah saya pakai baju.
    He,he. .. Tapi saya yakin semua orang pasti ngerti bahwa artinya tetap sama ” saya memakai baju merah”.
    Itulah “menurut” saya konsep memakai kalimat dalam menyampaikan sesuatu….. Jadi…..
    Gramatikal hanya penting pada saat “composition” yang formal.

    Terima kasih neny sdh mau berbagi…..

    Like

  223. Salam kenal Mbak Neny…

    Sebenarnya tidak ada yang salah dalam penulisan kata2 tersebut. Mengkritisi nya (seperti yang Mbak Neny paparkan) pun tidaklah keliru…

    Namun yang perlu saya koreksi adalah point of view dalam mencernanya. Penulisan kata2 tsb secara lugas memang bermakna ambigu. Namun laiknya “penulisan puisi” yang sering kali multi tafsir.. amatlah kurang elok bila kita sebagai pembaca hanya menafsirkan dari sudut pandang kita sendiri. Sama seperti penafsiran puisi dan bahasa sastra lainnya, sepantasnya lah tafsir tsb berangkat dari sudut pandang si penulis. Tidak hanya berdasar gramatikal, namun latar belakang penulisan, sejarah, psikologi, dll dpt menjadi rujukan utk memahaminya.

    Niscaya, dengan point of view yg demikian, pemahaman yg muncul tidak akan serumit atau sekompleks faham kiri dan kanan dalam ranah politik, seperti yang Mbak Neny contohkan (bahkan saya yakin bkn demikian maksud penulis sesungguhnya). Bisa saja pemahaman itu justru menjadi pemahaman kiri (pasangan nomer urut 1) dan kanan (pasangan nomer urut 2) pada lembar suara di bilik TPU nantinya.

    Besar keyakinan saya, kalo point of view diambil dari sudut pandang si pembuat/ penulis, sebagaimana kita mengkritisi puisi dan bahasa sastra lainnya, niscaya tidak akan terjadi penyesatan atau pemahaman yang keliru terhadap tulisan itu.

    Salam,

    Like

  224. Yup setuju mbak Neny 🙂 memang ambigu, karena saya pas pertama kali liat foto-foto bertulisan “I stand on the right side”, dalam penerimaan saya adalah “berdiri di sebelah kanan”. Dan saya pun bingung dengan foto-foto yang ada di sebelah kiri. Baru kemudian, saya baca-baca postingan lalu lalang dengan kalimat yang sama, oh baru paham saya, ternyata maksudnya “mendukung capres” hehehehee….

    Like

  225. mbak bahasa inggris tu macem2, ada bahasa inggris buat ekonomi, buat iklan, buat politik, buat sains, dll. jangan membuat rumit sesuatu yang sebenarnya sederhana, saya rasa semua orang bisa paham arti dari pemasangan ava tersebut karena memahami sudut pandang pembuatnya.

    Like

  226. ulasannya menarik sekali dan sangat mendidik, semoga ada tulisan lain dari mba neny untuk menjadi bahan bacaan yang menarik cerdas, dan mendidik…
    klo boleh saran, mba neny jng menganalisa hal-hal yang berkaitan dengan salah satu capres lagi, saya gak tega melihat mba neny di buly…:D
    salam damai, sukses selalu untuk penulis.

    Like

  227. i stand itu saya berpijak dimana??? on the right side… masak i stand??? with the right side… or i stand?? for the right side… stand for itu singkatan jadi saya gag setuju dengan analisis tulisan ini…

    Like

  228. Halo mbak, bagus bgt tulisannya. Tp apa ya perlu sampe sejauh itu untuk membuktikan kalo orang lain grammar nya salah :). Saya sekarang kebetulan juga kerja d inggris, dan orang sini juga ndak se grammar nazi gitu hehe, asal artinya bener ndak masalah kyknya. Jangan karna lagi panas politik jadi ikut2an panas, nyante mawon mbak. Yolo.

    Like

  229. coba kalian berpikir 2x dan lebih teliti, maksud dari foto “2 I stand on the right side” itu maksudnya dukungan kepada capres no. urut 2 yang ketika kita akan mencoblos dia ada di sebelah kanan. saran saya, ketika kalian akan menilai suatu TOLONG perhatikan KESELURUHAN kalimat. saya rasa komentar dari seseorang bergelar PhD di atas timbul karena mungkin, pertanyaan yang dilontarkan di facebook hanya tentang kata “I stand on the right side” dan bukan tentang FOTO tsb. dan saya kira kalian lupa dengan makna angka 2.

    Like