Curhat? Yuk, Mari Sini…

Saya orang yang bermasalah. Banyak. Begitu banyak sampai kadang-kadang pengin tutup mata, menghindar, supaya tidak depresi. Tapi siapa sih orang yang tak punya masalah di dunia ini. Kecil atau pun besar, tiap orang punya masalah. Tapi Tuhan Maha Adil. Pastilah Dia tahu betul apa yang membuat saya bahagia, sehingga bisa menjadi positif untuk menyelesaikan masalah-masalah saya. Atau Dia mengirimkan sesuatu yang membuat saya untuk sejenak bisa melupakan masalah-masalah saya. 

Dari sekian banyak hal yang bisa membuat saya positif adalah ketika orang memilih saya sebagai tempat untuk menceritakan masalahnya. Tuhan itu Maha Lucu dalam menantang saya dengan mengatakan “helloooooooo, Neny! Lihat nih, ada orang yang punya masalah lebih rumit dari kamu. Ayo, coba kamu bisa bikin apa buat dia!” 

Terkadang saya bingung juga, lha wong saya ini bukan orang yang sukses menyelesaikan masalah. Ada beberapa masalah saya yang sampai saat ini masih status quo atau malah status penyelesaiannya tidak jelas. Bahkan ada beberapa teman yang setengah menuduh bahwa saya melarikan diri dari masalah-masalah saya. Lha kok malah ada yang curhat masalah ke saya? Itu namanya orang gagal disuruh memberi jalan keluar. Nyari jalan keluar itu semestinya ke orang yang sukses nyari jalan keluar. Saya? Boro-boro sukses nyari jalan keluar, yang ada malah jalan di tempat atau nyungsep di tengah jalan, yang berakhir dengan depresi seharian. 

Menanggapi itu, ada teman yang curhat yang bilang, “Ya kamu kan udah pernah mengalami kegagalan. Jadi kamu tahu betul rasanya gagal. Sehingga kalau ngomong jadi lebih empati dan nggak ngasih saran yang sok tahu.” Iya juga sih. Ketika saya curhat ke orang, kadang-kadang sebel rasanya kalau yang dicurhati sok tahu ngasih saran ini itu, tanpa menyadari bahwa saran ini itu sudah terpikir oleh saya, tapi rasanya sulit sekali untuk menjalankan saran itu karena berbagai sebab dan alasan. Rasanya kalau diberi saran sok tahu begitu yang ada jadi jengkel karena dianggap bodoh karena tidak tahu bagaimana nyari solusi atau jadi sebel karena si teman yang dicurhati ini semacam tidak merasakan bahwa untuk melakukan sesuatu itu beban perasaannya sungguh sangat besar dan memakan energi mental psikologis yang luar biasa yang ujung-ujungnya bikin depresi. 

People have different sizes of shoes. Even with the same size of shoes, the level of fitness will be different. Orang punya ukuran sepatu yang berbeda-beda. Bahkan dengan ukuran sepatu yang sama, tingkat kecocokan sepatu di tiap orang akan berbeda-beda. Setiap orang punya situasi, kondisi, sumber daya, pengalaman, dan tantangan yang berbeda-beda. Bahkan dalam situasi masalah yang serupa, tiap orang akan punya pemahaman dan reaksi yang berbeda-beda. Sangat tidak adil ketika dengan sok tahunya orang lain menganggap situasinya sama, sehingga pemecahan masalahnya disama ratakan. Kita toh tidak pernah menyelami sepenuhnya bagaimana situasi orang yang curhat ke kita. Jadi kenapa kita sok tahu menasehatinya, seakan-akan saran dan nasehat kita itu yang paling cocok untuk masalahnya?

Buat saya, tidak ada keputusan yang salah atau benar. Yang ada adalah orang itu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang dialaminya dengan menggunakan sumber daya dan pengalaman yang dimilikinya. Ketika orang curhat ke saya, saya cuma akan berusaha berempati dengan situasi dan kondisinya dulu, lalu, kalau diminta, akan memberikan beberapa alternatif pemecahan masalah. Saya tidak terlalu perduli kalau akhirnya alternatif-alternatif yang saya sodorkan tidak terpakai sama sekali. Mungkin saja alternatif yang saya tawarkan itu tidak sesuai dengan tantangan yang dialaminya. Bukan kapasitas saya juga untuk sok yakin bahwa alternatif saya itu yang bakal manjur untuk memecahkan masalahnya. Yang penting adalah empati saja. Paling tidak dengan empati itu, saya mengharapkan bahwa teman yang curhat itu mendapatkan sedikit pelepasan beban dengan bercerita pada saya.

Jadi, masih adakah yang mau curhat ke saya? Atau adakah orang yang curhat ke kamu akhir-akhir ini?

NB: Tulisan ini diilhami oleh curhatan seorang teman dekat yang mengiris-iris hati saya. Dalam hati sebenarnya saya mau bilang, hei, kenapa nggak saya aja yang jadi solusi masalah kamu itu? Ada saya kok yang bisa nemani kamu selamanya. Tapi ya peran saya mungkin memang jadi teman curhat saja atau menjadi tim penyemangat saja. Ah, sudahlah…

 

Advertisements

5 comments

  1. Neny, saya sdh mengikuti kamu, tp baru ini bisa kontak. Terima kasih…Sy di Jakarta, dua minggu lalu ke salatiga….acara reunian SMA K 1 salatiga, angkatan 1968….nanti kita cerita lagi, ya. thanks.

    Like

  2. Tulisannya bagus, tapi tidak membumi dan gagal memahami konteks yang sebenarnya amat sederhana. “Right side” di sini adalah posisi kandidat pada kertas suara yang memang ada di sisi kanan.

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s