Merayakan Kematian Saya

Don’t be afraid of death. Be afraid of an unlived life.

Ketika banyak orang sering berpikir soal bagaimana merayakan ulang tahun, saya malah berpikir bagaimana kematian saya akan dirayakan. Serius. Dari sekian banyak lamunan dan khayalan yang mampir di benak saya, saya sering sekali berpikir apa yang akan terjadi ketika saya mati. Bukan. Ini bukan soal apakah saya masuk surga atau neraka, atau apakah ada kehidupan selanjutnya setelah saya mati. Saya tak cukup berkompeten untuk membahas yang begituan, dan jujur saja, saya malah tak terlalu hirau. Yang saya bayangkan adalah bagaimana upacara pemakaman (atau pembakaran, atau apa pun itu) akan dilaksanakan.

Kalau mengikuti adat istiadat atau peraturan agama saya sih, yang pasti saya akan dimandikan, dikafani, lalu dikubur dalam tanah. Atau dibakar tampaknya menarik juga, supaya tidak menyita luasan tanah pekuburan yang tampaknya semakin sempit saja karena populasi orang di kampung saya yang semakin melonjak. Tapi bukan itu yang saya pikirkan.

Saya juga tidak terlalu perduli bagaimana orang akan menyikapi kematian seorang Neny Isharyanti setelah dia hidup selama sekian tahun. Apakah akan disambut dengan penuh rasa lega, karena sebegitu menyebalkannya saya selama hidup, ataukah orang akan bersedih karena seorang yang gila menyenangkan telah berpulang. Buat saya, setiap manusia akan punya sisi menyebalkan dan menyenangkan, dan setiap orang bebas beropini tentang manusia lain. Jadi bukan itu pula yang saya khayalkan soal kematian saya.

Kalau saya boleh merancang upacara pemakaman saya, saya malah justru ingin orang menceritakan dengan bebas tentang saya dan kehidupan saya: sisi positif dan sisi negatif saya. Saatnya orang bicara bebas, sebebas-bebasnya tentang kebaikan, keburukan, kelucuan, kegilaan, kenakalan, kejadian yang lucu, kejadian yang bikin kesel, kejadian yang bikin marah, kejadian yang bikin haru, dan semuanya tentang saya. Pendek kata, segala sesuatu tentang saya dan opini orang lain tentang saya, tanpa dibatasi pandangan umum yang hidup di masyarakat bahwa “You can’t speak ill of the dead” alias “Jangan membicarakan keburukan orang yang sudah mati.” Bukankah wajar bahwa setiap manusia punya dua sisi itu? Dengan begitu, ia adalah sebenar-benarnya manusia, dan bukan sepenuhnya malaikat atau sepenuhnya iblis.

Siapa tahu, mungkin saja, dengan menghadiri upacara pemakaman saya, orang jadi bisa belajar untuk menjadi manusia yang seutuhnya, dengan segala sisinya, dan kemudian mengambil hikmah dari kehidupan saya yang biasa-biasa saja sebagai manusia.

Jadi, kalau semisal Anda menghadiri pemakaman saya, apa yang akan Anda katakan tentang saya?

NB: Saya maunya tidak ada orang yang menangis di upacara pemakaman saya. Yeah, rite. Like there will be those who will cry over my death. GR banget deh saya J

Advertisements

4 comments

  1. Mba, saya jadi gr karena ternyata ada orang yang sepemikiran dengan saya. Waktu saya menceritakan pemikiran saya sama beberapa orang teman respon mereka seperti “aneh kamu” atau “ngawur kamu” dan semacamnya, hehehe. Oh iya kenapa kalo acara ulang tahun orang-orang banyak yang senang dan kalo kematian malah sedih ya ? bukan sebaliknya.

    Like

    1. Kita tos dulu *tossssss*

      Kamu nggak sendiri kok, ada satu teman saya yang sepikiran juga sama saya. Dia bahkan sudah merancang sampai detil upacaranya, sampai ke baju yang akan dia kenakan segala!

      Sebenarnya sedihnya mungkin karena orang tak tahu apa yang akan terjadi setelah mati. Menghadapi ketidak pastian itu lebih membuat galau kan?

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s