Mengurus Tilang, Alangkah Ribetnya!

Karena teman yang menyetir motor saya kapan hari ke tempat wisata Bandungan lupa membawa dompet (dan tentu saja beserta isinya yang termasuk Surat Ijin Mengemudi alias SIM), kami kena tilang. Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) motor saya ditahan, dan dia diwajibkan untuk menghadiri sidang tilang hari ini di kota Ungaran. Percuma saja ngamuk-ngamuk terkena masalah karena masalah yang sepele yaitu lupa bawa dompet. Dan percuma pula berkeluh kesah bahwa dia dan saya harus ke kota berjarak 40 km dari Salatiga, kota saya, hanya untuk menebus STNK. Buat saya, pantang mengangsurkan uang damai pada polisi ketika pelanggaran terjadi. Salah ya salah saja. Titik. Dan konsekuensinya harus kami tanggung: hari ini diwajibkan hadir di sidang tilang di Pengadilan Negeri Ungaran jam 9 pagi tepat.

Kami tiba 15 menit sebelum jam 9 pagi dan, ya ampun, halaman pengadilan negeri sudah penuh dengan motor yang diparkir dan para pengendaranya yang sama-sama kena tilang entah dari periode kapan. Perkiraan saya ada sekitar 200-an orang memadati gedung pengadilan. OK, urusan ini ternyata tak semudah dan secepat yang kami kira penyelesaiannya. Saya sudah siap-siap saja membatalkan kelas saya yang siang, karena pasti tidak keburu untuk kembali ke Salatiga. 

Masalah pertama yang kami hadapi adalah kami tidak tahu langkah pertama yang harus kami lakukan untuk memproses penebusan STNK. Di halaman gedung pengadilan, orang-orang sibuk bergerombol berdesak-desakan di depan papan pengumuman di satu lokasi. Ternyata 3 papan pengumuman yang berukuran 1,5 x 1 meter itu berisi nama-nama pelanggar. Ada kira-kira 20 lembar kertas A4 tertempel, dan sekitar 50-60 nama yang terpampang di setiap lembarnya. Total kira-kira 400-an nama, tercetak dengan font ukuran 12. Tanya sana sini, ternyata setiap pelanggar harus mencari tahu kasusnya disidangkan di ruang sidang yang mana, dan informasi itu terpampang sebagai judul di setiap papan. Alamak, kebayang nggak sih harus mencari nama diri di antara 60 lembar kertas sambil berdesak-desakan dengan kira-kira 50-70 orang? Kenapa juga pihak pengadilan tidak menyediakan informasi ini di dua atau tiga lokasi begitu? Atau, bikinlah sistem daring (online) sehingga orang tak perlu repot berdesak-desakkan begitu?

Masalah kedua, ketika kami masuk ke ruang sidang, ternyata kami disuruh kembali papan pengumuman nama pelanggar. Ternyata di setiap kertas tertulis angka besar dengan menggunakan spidol. Rupanya angka itu untuk memudahkan petugas pengadilan mencari STNK atau SIM atau apalah yang disita dari para pelanggar. Terpaksalah kami balik ke papan, kembali berdesak-desakkan, dan mencatat nomor kertas pengumuman di mana nama si teman tercantum. Alamak! Ribet sekali ya? Apa tidak bisa pihak pengadilan menyediakan penjelasan tertulis yang terpasang di mana gitu mengenai prosedur pengurusan kasus tilang sehingga orang tak perlu bertanya kanan-kiri, bolak-balik ke sana ke mari mencari tahu bagaimana prosedurnya dan apa yang harus disiapkannya? 

Masalah ketiga, terbayang dong ketika ada 400-an kasus yang terbagi menjadi 3 ruang sidang. Berarti satu ruang sidang menangani sekitar150-an perkara. Ruang sidang satu yang ukurannya kira-kira 12 x 5 meter persegi mungkin cukup menampung 100-an orang, tapi ruang sidang dua dan tiga jauh lebih kecil. Bahkan di ruang sidang satu yang besar, orang masih berdiri berjejal-jejal menunggu giliran dipanggil untuk diproses, apalagi di ruang-ruang lain yang lebih kecil. Prosesnya sendiri sih sederhana: nama pelanggar dipanggil, dijelaskan pelanggaran dan berapa denda yang musti dibayar, membayar di tempat, lalu dokumen yang disita dikembalikan. Tapi terbayang dong betapa lelah berdiri berjejal menanti panggilan?

Jelas hal beginian membuat orang malas mengurus kasus tilangnya dan lalu menumbuh suburkan praktek percaloan di gedung pengadilan, baik oleh oknum pengadilan negeri maupun oknum-oknum swasta pencari rejeki. Dari obrolan ibu-ibu di sebelah saya, ada seorang ibu yang dengan santainya bilang bahwa ia sudah selesai mengurus kasusnya karena memberikan uang sebesar Rp 125.000 ke oknum pegawai di pengadilan. Atau para perempuan yang malas berjejal-jejal dengan kaum lelaki yang lebih banyak jumlahnya di gedung tadi sehingga memilih menggunakan jasa calo swasta. Teman saya yang kebetulan gondrong dan berbadan tipis sehingga dari belakang kelihatan seperti perempuan *oh, sebagai informasi, dia cowok tulen, pemirsa!* ditawari oleh seorang calo “Mbak, Mbak, daripada repot desak-desakkan di dalam, mending saya uruskan saja” dan betapa malunya sang calo ketika teman saya berbalik dan terlihat sangat ganteng cowok.

Singkat cerita, teman saya akhirnya dipanggil, disuruh membayar denda Rp 50.000 untuk pelanggaran tidak membawa SIM, lalu STNK motor saya dikembalikan setelah dia membayar. Total proses mengurus tilang? 1,5 jam. Lebih singkat daripada yang saya perkirakan (tiwas saya terlanjur membatalkan kelas! sialan!), tapi capek jiwa raganya sungguh luar biasa (OK, ini saya separuh lebay!). Capek jiwa karena berbingung-bingung mencari tahu prosedur dan dipingpong sana sini. Capek raga karena harus berdiri menunggu berdesak-desakkan dalam cuaca kota Ungaran yang sungguh panas, terlebih lagi di ruangan tertutup tanpa AC.  
image

Demi memulihkan kesehatan jiwa dan raga kami *halah!*, akhirnya kami putuskan untuk sekalian melanjutkan petualangan perjalanan hari ini ke kota Semarang yang cuma 15 km dari kota Ungaran. Setelah menyantap sepiring tahu gimbal khas kota Semarang di belakang kantor gubernur, berbelanja bra dan celana dalam yang super miring harganya karena kota Semarang sedang ada program Semarang Big Sale, lalu menonton hari pertama pemutaran film X-Men: Days of Future Past di e-Plaza, kami mulai bisa ketawa-ketawa lagi, pertanda kembalinya kesehatan jiwa dan raga kami.

What a day! 

Kamu pernah punya pengalaman mengurus tilang? Ribet nggak?

 

Advertisements

4 comments

  1. Mbak Neni, harus bersyukur nih kayaknya.. aku ngurus kek gituan bisa 2jam lebih, peserta sidangnya bisa sampai 2000an orang dan ini terjadi di kota semarang mbak, tiap bulan pelanggar bisa sampai segitu… aku udah 2 kali kalo nggak salah.. kalo aku perhatikan, tempat pengadilan di saat ada pengadilan kasus pelanggaran lantas kayak panen duit.. tinggal sebut nama, denda berapa kita harus setor sesuai yang disebut hakim.. dan semua itu tanpa bantahan. Btw… siapapun yang mau sidang.. siapkan uang kecil aja.. jangan 50ribuan apa 100 ribuan… kembalian bisa beda dan kita ndak bisa protes! all iz well all iz well…

    Like

    1. Iya, kemarin untungnya kami pikiran positif dibawa senang aja, jadi nggak kerasa. Cuma sempat mikir, ini harusnya bisa dibikin lebih efisien sistemnya. Gila banget ya Semarang? Bisa dapat sampai berapa tuh kira-kira? *siap-siap lapor KPK*

      Like

  2. hi jeng! salam kenal… bbrp th lalu aku pernah kena tilang di denpasar. SIM kedaluwarsa. itu urusannya lamaaaaaaa pake buaaangeet di PN denpasar… soalnya pake jam karet. jadwal sidang mulai pkl 9 pagi, tp baru sekitar pkl 11 mulai. trus.. hakimnya tuh kebapakan, jadi sblm ngasi putusan denda pasti ngasi omelan & nasihat dulu sesuai pelanggarannya… pokoknya jd spanning deh wkt nunggu giliran..wkwkwk.. untung si bapak ini akhirnya capek juga… jadi yg dipanggil belakangan dah langsung suruh urus denda… 25ribu 😀

    Like

    1. Salam kenal, mBok! Wah, berapa banyak padahal yang sidang? Hahaha, pake diomelin dan dinasehatin pulak. Yang calo dinasehatin jugak nggak ya? :p

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s