Kaum Mayoritas vs. Kaum Minoritas: Serahkan pada Nurani, Akal Pikiran, dan Iman

Semua orang yang punya hati nurani yang jernih, pikiran untuk menganalisa, dan beriman pada Tuhan pasti akan protes terhadap ketidak adilan dan kejahatan yang terjadi di belahan bumi mana pun yang dilakukan karena adanya diskriminasi terhadap aliran/agama, ras/suku/bangsa, gender, atau kepentingan politis yang berbeda. Itu sebabnya nurani kita pasti merasa tidak nyaman dan pikiran kita akan menganggap tidak masuk akal ketika melihat ketidak adilan dan kejahatan karena Tuhan menciptakan kita dengan kepekaan dan akal budi untuk mencintai kebaikan dan keindahan dan semua hal yang positif.
Nggak usah lihat yang jauh-jauh terjadi di luar negeri. Lihat saja di negeri sendiri. Orang dari daerah tertentu dicap terbelakang dan dianggap belum cukup kepintarannya untuk menentukan sikapnya bagi daerahnya. Orang dibunuh dan diusir dari rumahnya sampai kelaparan di pengungsian karena berbeda keyakinan dalam satu agama. Orang dilarang beribadah karena tempat ibadahnya berada di tempat yang (dianggap) strategis secara ekonomis dan ingin dikuasai pihak-pihak tertentu. Jenis kelamin tertentu tak boleh melakukan ekspresi kesenian yang indah yang dilakukan masih dalam batas-batas kesopanan. Atau korban dari jenis kelamin tertentu yang diekspose habis-habisan di media sedangkan pelakunya dari jenis kelamin yang lain bahkan dibela habis-habisan karena hanya dianggap oknum dan bukan anggota dari sebuah partai.
Mau kaum mayoritas atau kaum minoritas sama saja. Kaum mayoritas memang cenderung mempunyai posisi dan kekuasaan yang lebih besar daripada kaum minoritas karena menang kuantitas. Tapi kaum minoritas bisa saja melakukan ketidak adilan dan kejahatan terhadap kaum mayoritas jika ditempatkan di posisi lebih atas karena jumlahnya yang sedikit atau kualitasnya. Ini bukan masalah aliran/agama tertentu, ras/suku/bangsa tertentu, gender tertentu, aliran politis tertentu. Ini adalah masalah hati nurani, pikiran untuk menganalisa situasi, dan iman kepada Tuhan yang mencintai kebaikan dan keindahan. Kalau hati nurani, akal pikiran, dan iman kita kepada Tuhan membuat kita tidak nyaman, membuat kita bertanya-tanya, membuat kita mengadu pada Tuhan mengapa suatu kaum melakukan tindakan tertentu, bisa jadi tindakan itu adalah tindakan yang negatif.
Silakan Anda bertanya pada hati nurani, memikirkan dengan pikiran, berdiskusi dengan Tuhan jika Anda menyaksikan suatu kaum melakukan suatu tindakan. Kalau Anda terganggu, terusik, bahkan geram ketika menyaksikannya, bisa jadi tindakan itu adalah tindakan yang tidak adil atau jahat, tak perduli kaum mana pun yang melakukannya dan kaum mana pun yang menjadi korban.
(Sengaja menulis dengan tidak menyebut nama, tempat, kaum tertentu, supaya tidak menyinggung siapa pun. Kalau tersinggung, berarti saya mungkin juga sudah melakukan ketidak adilan dan kejahatan pada orang tertentu, hehehehe)
Advertisements

7 comments

  1. Betul banget, bu. Misalnya saja, menurut saya FPI itu cukup tersorot di Indonesia karena agama Islam itu mayoritas (terlepas dari fakta bahwa FPI SAMA SEKALI bukan representasi yang tepat bagi umat Islam di Indonesia yang cukup toleran), tapi itu tidak berarti juga bahwa umat beragama lain yang lebih minoritas tidak memiliki kecenderungan yang sama. Saya jadi inget diskusi sama temen soal ini dan dia share perbincangan dia suatu hari dengan orang Indonesia yang berkata bahwa di Indonesia ini sebenarnya nggak ada religious tolerance. Contoh paling nyata adalah reaksi komunitas sekitar saat kita memutuskan untuk berganti keyakinan (ini agak stereotyping sih sama semua lapisan kalangan masyarakat–padahal ya sebenarnya nggak semuanya seperti itu :p ).
    Saya jadi inget kata-katanya R.A. Kartini yang mengkritik agama yang seharusnya menyatukan orang-orang dan membawa perdamaian, tapi yang sering terjadi justru sebaliknya. Menurut pendapat saya, yang bikin ngenes adalah hal-hal ini terjadi itu sebenarnya tanda bahwa masih banyak orang-orang yang gampang dimanipulasi dengan hal-hal yang berbau SARA).

    Like

    1. Intinya adalah menjadi beda itu memang paling gampang dilihat sih ya. Suka kadang-kadang kaget aja menemukan ketidak toleransian agama karena saya datang dari Salatiga yang sangat toleran.

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s