Ucapan Selamat Paskah dan Kehidupan Beragama di Indonesia

Hari ini di media sosial saya mendapati beberapa teman non-kristiani mengucapkan selamat merayakan Paskah kepada teman-teman yang beragama kristiani. Sementara dari teman-teman yang kristiani saya lihat beberapa sibuk mengoreksi teman-teman non-kristiani yang mengucapkan selamat Paskah. Lho, apa yang salah ini? Kok perlu dikoreksi?

Sebagai catatan, hari ini adalah hari Jumat sebelum hari Minggu Paskah. Dari pengalaman menjadi umat Katolik selama 20 tahun plus dulu, saya tahu bahwa hari Jumat ini disebut Jumat Agung, hari di mana Yesus wafat. Sedangkan Minggu Paskah itu untuk merayakan kebangkitan Yesus. Jadi Jumat Agung itu belum Paskah. Makanya sudah sewajarnya kalau teman-teman kristiani kemudian mengoreksi teman-teman yang non-kristiani. Lha wong Jumat Agung itu pas wafat Yesus, saatnya berduka cita, kok malah diselamati. Bahkan seorang teman yang kristiani menuliskan di twitternya, harusnya bukan selamat merayakan, tapi selamat memperingati. Kalau mau mengucapkan selamat merayakan, harusnya menunggu sampai hari Minggu Paskah nanti, ketika umat kristiani merayakan kebangkitan Yesus dari kematian.

Tapi yang saya mau cermati sebenarnya bukan masalah salah atau benarnya memberikan ucapan. Toh saya bukan lembaga yang suka memberi fatwa-fatwa soal menyelamati umat agama lain. Buat saya yang lebih penting adalah adanya penghargaan atas keberagaman hidup beragama, sehingga aksi teman-teman non-kristiani untuk memberi selamat merayakan Paskah kepada teman-teman kristiani itu sebaiknya disikapi sebagai sebuah aksi yang simpatik dan menghargai keberagaman hidup beragama itu, terlepas dari kesalahan tehnis soal kapan harusnya memberi selamat, atau harusnya memakai kata “memperingati” daripada “merayakan”.

Kalau mau merunut lebih jauh, “kesalahan” ini justru menunjukkan betapa bangsa Indonesia membutuhkan pelajaran agama yang tidak monorelijius alias pelajaran agama yang hanya mengajarkan tentang satu agama (sendiri) saja daripada berusaha memberikan pemahaman fundamental juga atas agama-agama yang lain, sehingga terhindarlah kesalah pahaman mendasar tentang kapan memberi selamat, atau apa saja yang dirayakan, atau hal-hal fundamental yang lain dari agama yang lain. Mengutip tulisan teman saya, Achmad Munjid di Kompas (26/03) mengenai status pelajaran agama di sekolah umum, “Siswa perlu mengenal aspek-aspek fundamental agama lain, selain agama sendiri. Di PT (Perguruan Tinggi), model ini perlu ditingkatkan menjadi inter-relijius. Selain mendidik (maha-)siswa untuk tidak gampang terjebak perangkap sektarianisme, kedua model terakhir ini akan menyiapkan siswa untuk berinteraksi secara bermakna dengan keragaman di sekitarnya, di dalam maupun di luar ruang kelas, serta mampu memberikan tanggapan yang positif. Ini mutlak diperlukan agar keragaman bisa dikelola menjadi sumber daya, bukan sumber bencana, bagi kemajuan hidup bersama.”

Sepikiran dengan Munjid, saya kira model pembelajaran agama yang multirelijius akan memberikan lebih banyak manfaat bagi kehidupan kita di Indonesia yang multireligius ini. Sehingga dalam soal pemberian selamat hari Paskah seperti ini, misalnya, teman-teman kristiani tidak merasa “terganggu” dan perlu memberikan koreksi yang terkesan “menyindir” kepada teman-teman non-kristiani, dan teman-teman non-kristiani tidak perlu merasa “tersinggung” karena ucapan selamat yang simpatik kok dikoreksi dengan nada yang menganggap bahwa mereka ini tidak paham soal peringatan Paskah. Bagaimana mau paham kalau sejak kecil tidak diajari hal-hal yang fundamental mengenai agama lain? Katanya tak kenal maka tak sayang. Bagaimana mau saling menyayangi (dan di dalam rasa sayang itu pasti ada rasa menghormati dan toleransi), kalau soal-soal yang fundamental mengenai agama yang lain tidak pernah diperkenalkan?

Jadi, selamat memperingati Jumat Agung dan merayakan Minggu Paskah, Teman-Teman! Semoga momen Paskah ini (dan perayaan hari besar agama apa pun) semakin meningkatkan kepekaan, toleransi, dan solidaritas kemanusiaan di antara kita sekalian!

Advertisements

5 comments

  1. Mantap mbak…. saya sendiri pernah dikirimi teman ucapan yg begini: “Selamat Paskah, Mohon Maaf lahir dan Batin” (Bener lho)….. makanya saya sepakat kalau pelajaran agama jangan monorelijius saja…..

    Like

    1. Padahal apa yang harus dimaafkan ya? Tapi perlu dihargai yang memberi ucapan itu, daripada dilarang sama sekali mengucapkan hayo? 🙂

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s