Merenungkan Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari

Perkawinan Takhayul dan Fatalisme Dalam Kebodohan dan Kemiskinan Abadi: Sebuah Pertanyaan Kritis dan Filosofis atas Novel “Ronggeng Dukuh Paruk”  Karya Ahmad Tohari

Disajikan dan didiskusikan pada acara Dedah Buku Bulanan, Kelompok Studi In(ter)disipliner UKSW, Kamis, 28 Februari 2013 di Warung Kopi Brewok, Salatiga.

Apa yang terjadi ketika takhayul berpadu dengan fatalisme? Mungkin jawaban atas pertanyaan ini tercermin dari novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari ini, yaitu kebodohan dan kemiskinan yang abadi.

Novel yang bercerita dari sudut pandang Rasus sejak dia berusia belasan tahun hingga beranjak dewasa mengenai perjalanan seorang penari ronggeng Dukuh Paruk bernama Srintil ini memotret kebodohan dan kemiskinan penduduk Dukuh tersebut dan mengemasnya dalam balutan cerita yang muram dengan ilustrasi kehidupan alam yang detil.

Novel dimulai dengan paparan tentang situasi alam Dukuh Paruk yang kecil dan terpencil di tengah hamparan padang yang sangat luas dan sejarah berdirinya Dukuh Paruk sebagai tempat bermukimnya Ki Secamenggala, seorang bromocorah yang sekaligus adalah nenek moyang para penghuni dukuh yang makamnya adalah pusat kebatinan para penduduk. Di dalam seting alam  yang kemarau yang serba meranggas diliputi kemiskinan inilah, tokoh Rasus diperkenalkan sebagai remaja berumur empat belas tahun yang bersama dua temannya menyaksikan lahirnya seorang bintang ronggeng lewat nyanyian syur dan tarian erotis ronggeng yang dipertontonkan Srintil sebagai permainan kanak-kanak di mana Rasus dan kedua temannya turut mementaskannya, berpura-pura menjadi para penabuh calung.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, takhayul dimaknai sebagai “kepercayaan kepada sesuatu yang dianggap ada atau sakti, tetapi sebenarnya tidak ada atau tidak sakti.” Para penduduk dukuh Paruk dan daerah-daerah di sekitarnya percaya bahwa “Dukuh Paruk hanya lengkap bila di sana ada keramat Ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada sumpah-serapah dan ada ronggeng bersama perangkat calungnya” (hal. 7). Sehingga ketika Srintil, perawan kencur yang baru berusia sebelas tahun, begitu mahir menyanyikan lagu-lagu ronggeng yang erotis dan dengan kenes mahir menarikan tarian-tarian khas ronggeng, mereka dengan sederhana mempercayai bahwa Srintil telah kerasukan roh indang ronggeng. Tidak perduli bahwa sungguhlah mustahil bagi Srintil untuk menjadi penari ronggeng yang begitu luwes dan cabul, karena ia tidak pernah belajar menembang dan menari ronggeng, bahkan tidak pernah sekalipun mendengar atau menonton pertunjukan ronggeng karena para penari ronggeng terakhir di dukuh itu mati karena keracunan tempe bongkrek ketika Srintil baru berusia lima bulan.

Dan dalam perspektif fatalis yang menganggap bahwa manusia itu dikuasai oleh nasib, buat penduduk dukuh Paruk, amatlah wajar kalau kemudian Srintil yang dianggap kerasukan roh indang ronggeng itu menjadi penari ronggeng yang melayani nafsu para pelanggannya dalam hal kebutuhan seksual meskipun belum mencapai usia yang bisa dianggap matang secara biologis. Bahkan para perempuan dukuh Paruk menganggap wajar, bahkan merasa bangga ketika suami-suami mereka bisa menggunakan jasa Srintil, sehingga rela melayani kebutuhan sehari-hari Srintil (misalnya memandikan Srintil, atau mencucikan bajunya), karena dengan begitu suami-suami mereka terbukti mampu secara biologis dan secara finansial. Itu sudah nasibnya, sudah garis takdirnya, apalagi ketika roh Ki Secamenggala “berkenan” merasuki tubuh Kartareja, si dukun ronggeng, ketika Srintil menjalani inisiasi keduanya menjadi penari ronggeng dengan menari di depan makam Ki Secamenggala, makin dipercayailah bahwa Srintil memang digariskan takdir menjadi penari ronggeng.

Apakah takhayul dan fatalisme yang membuat penduduk dukuh Paruk tetap bertahan dalam kebodohan dan kemiskinan? Dari paparan Ahmad Tohari, orang luar dukuh Paruk suka berkata “Jangan mengabadikan kemelaratan seperti orang Dukuh Paruk.” atau, “Hai, anak-anak, pergilah mandi. Kalau tidak nanti kupingmu mengalir nanah, kakimu kena kudis seperti anak-anak Dukuh Paruk!” Hanya kebenciannya pada dukuh Paruk yang dianggap telah merampas Srintil yang dicintainya yang membuat Rasus memutuskan untuk keluar dari dukuh Paruk dan menjadi tukang angkut singkong di pasar di kota kecamatan Dawuan, meskipun ia tak sepenuhnya bisa melepaskan ikatan emosional dari dukuh itu. Ia tetap mengikuti berita-berita dari dukuhnya dan menyaksikan Srintil dari jauh saban kali penari ronggeng itu berbelanja ke pasar Dawuan. Jalan nasib pula yang mengantarkannya menjadi kacung tentara, setelah pertemuannya yang “ajaib” dengan Sersan Slamet yang ditugaskan untuk menangkap perampok di daerah Dawuan. Garis nasib pula yang membuat Rasus belajar banyak dari Sersan Slamet, naik status sosial menjadi tentara, sebuah posisi yang cukup elit, sehingga tak lagi melarat seperti nasib kebanyakan anak-anak Dukuh Paruk seusianya.

Atau mungkin memang Dukuh Paruk dibuat tetap dalam kemiskinan dan kebodohan, karena ia punya fungsi tertentu dalam masyarakat? Ada hubungan cinta-benci antara masyarakat sekitar Dukuh Paruk dengan para penghuni dukuh ini. Dari cemoohan-cemoohan mereka pada kebodohan dan kemelaratan penduduk Dukuh Paruk, terlihat bahwa mereka tidak menyukai para penduduk Dukuh Paruk. Tapi reaksi sebagian masyarakat ketika Srintil berkunjung ke Pasar Dawuan, yang serba melayani dan memuja, bahkan bangga ketika bintang ronggeng itu “berkenan” menanggapi, bisa dilihat sebagai suatu bentuk kecintaan mereka kepada Dukuh Paruk dalam fungsinya sebagai tempat di mana nafsu-nafsu badani bisa terpuaskan dalam tatanan sosial masyarakat yang wajar. Mungkin analoginya sama seperti tempat lokalisasi pelacuran, keberadaannya dibutuhkan namun secara moralitas juga dicemooh.

Apa yang akan terjadi jika para penduduk Dukuh Paruk dibawa keluar dari situasi mereka yang serba bodoh dan melarat? Ataukah para penduduk akan memutuskan untuk menciptakan nasib mereka sendiri sehingga berhenti berpikir fatalis, seperti Rasus yang memutuskan untuk keluar dari Dukuh Paruk dan bekerja sebagai tentara yang secara tradisional bukanlah pilihan profesi yang mungkin dijalani oleh penduduk Dukuh Paruk? Ketika para penduduk menepiskan takhayul, apakah kemudian aksi ronggeng dan penabuh calungnya tetap lestari dan dianggap sebagai suatu profesi yang dibutuhkan, bahkan terhormat di mata masyarakat?

Di akhir cerita, Ahmad Tohari menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan memposisikan Rasus sebagai seseorang yang sudah keluar dari takhayul tentang sosok ibu yang serba tidak jelas dan tidak lagi fatalis memandang hidupnya, dengan gagah memutuskan untuk terlepas sama sekali dari bayangan pengaruh Dukuh Paruk. Sementara Dukuh Paruk diposisikan tetap menjadi Dukuh Paruk yang sama dan  “… segalanya masih utuh di sana; keramat Ki Secamenggala,kemelaratan, sumpah-serapah, irama calung dan seorang ronggeng.” (hal. 59).  Namun jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang terjadi tetap tidak semudah seperti di akhir cerita ini. Kalau kita menarik pertanyaan-pertanyaan ini ke konteks pembangunan masyarakat yang lebih luas, apakah jawaban-jawaban yang akan muncul? Mari kita diskusikan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban ini dengan perspektif yang lebih kritis dan filosofis!

[sekian]

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s