Bermimpilah! Semesta Mendukungmu!

Beberapa bulan yang lalu, suatu hari di bulan November, seorang mantan mahasiswa berkeluh-kesah pada saya. Ia resah karena sudah tidak kerasan dengan pekerjaannya. Ia merasa bahwa pekerjaan itu (sebagai copywriter di sebuah perusahaan perancang laman di Jogja) tidak sesuai dengan passionnya, gairahnya. Belum lagi ia merasa bahwa bayaran yang diterimanya tidak sepadan dengan beban pekerjaan yang ditanggungnya. Tapi ia menghadapi dilema. Kalau ia keluar dari pekerjaan itu, ia tak tahu apakah akan segera mendapatkan pekerjaan baru dengan bayaran yang sepadan dan belum tentu pekerjaan baru itu sesuai dengan passionnya. Tapi kalau ia teruskan, lama-lama ia akan stress dan tidak bahagia mengerjakannya.

Mendengar keluh-kesahnya, saya cuma bertanya padanya, apa yang menjadi impiannya? Ia menjawab, ia bermimpi bekerja di bidang artistik dan bekerja di London kelak. Menanggapi mimpinya itu, saya cuma bilang, kalau pekerjaan yang sekarang itu mengarahkan dia ke mimpinya itu, ya teruskanlah. Kalau tidak, carilah pekerjaan yang lain.

Buat saya, setiap orang musti bermimpi dan mengelilingi diri dengan mimpi itu. Saya percaya akan mimpi dan mengelilingi diri dengan mimpi itu penting sebagai suatu bentuk permohonan kepada Alam Semesta. Mengelilingi diri dengan mimpi bisa bermacam-macam manifestasinya. Bisa memvisualkan mimpi itu dalam bentuk dream board. Bisa menuliskan mimpi itu sedetil mungkin. Bisa membaca segala sesuatu yang berhubungan dengan mimpi itu. Bisa berbicara dengan orang-orang yang punya mimpi yang sama. Bahkan manifestasinya bisa terdengar gila. Misalnya karena mimpi saya sekarang adalah meraih gelar PhD, saya paling suka membayangkan diri sudah mendapat gelar itu, berada di acara wisuda saya di University of Melbourne, lalu seolah-olah berbicara dengan orang-orang yang saya temui di situasi itu, mungkin menyelamati saya, mungkin berfoto dengan saya, dan saya akan menuliskan Neny Isharyanti, PhD berulang-ulang di secarik kertas.

Kedengaran gila mungkin, tapi sedikit banyak saya terpengaruh tulisan Rhonda Byrne berjudul The Secret. Intinya, alam semesta itu akan merespon semua mimpi kita, asal kita dengan teguh dan konsisten mengelilingi diri dengan mimpi itu, tanpa sedikit pun membiarkan energi negatif membuat pikiran kita ragu akan mimpi kita. Ketika kita merasa positif akan mimpi kita, alam semesta akan menangkap bahwa pikiran dan perasaan kita selaras, sehingga akan merespon mimpi kita itu menjadi kenyataan. Apa yang terjadi pada kita itu adalah hasil dari keselarasan antara pikiran dan perasaan kita dan ketika pikiran dan perasaan kita selaras pada satu mimpi, kita akan menarik semua hal yang berhubungan dengan mimpi kita. Itu sebabnya mungkin orang-orang tua suka memberi nasihat bahwa kalau kita mau jadi orang pintar, bergaullah dengan orang pintar. Atau nenek saya melarang saya untuk pergi kalau perasaan hati saya tidak enak sebelum pergi, karena biasanya nanti akan terjadi hal-hal buruk. Atau kita harus berdoa sebelum bekerja atau kalau mengharapkan sesuatu, karena itu adalah salah satu cara untuk mengelilingi diri kita dengan yang kita doakan itu. Atau pernah tidak, Anda mengalami kesialan sepanjang hari karena bangun tidur dengan perasaan kacau-balau?

Lucunya sebelum saya membaca buku Byrne itu, saya sudah duluan mempraktekkan prinsip-prinsip the Secret tanpa saya sadari. Sejak SMA, misalnya, saya sudah ingin mengunjungi dan belajar di negara lain, sehingga buku-buku favorit saya adalah cerita-cerita sekolah asrama di Inggris karya Enid Blyton (seri Mallory Towers), atau semua karya literature Amerika semasa kuliah. Ketika bermimpi untuk studi S2, saya gemar berjam-jam menjelajah laman universitas-universitas di Amerika Serikat dan membayangkan kalau saya keterima di salah satu universitas itu. Saya membaca hampir semua informasi tentang Iowa State University dan kota Ames, tempat saya (waktu itu) akan kuliah S2, dan membayangkan mengikuti semua kegiatan ekstrakurikuler dan sosial di kampus itu. Saya menuliskan nama saya dengan gelar Master of Arts. Saya berbincang dengan beberapa teman dosen tentang pengalaman mereka studi di luar negeri. Saya melanggan milis tentang beasiswa dan membaca dengan seksama semua kesempatan beasiswa di negara mana pun dan tips untuk mendapatkan beasiswa.

Dan hasilnya, saya bisa meraih mimpi saya, meraih gelar S2 di Iowa State University dengan beasiswa penuh dari pemerintah Amerika Serikat. Selain itu, hampir semua tempat dan kegiatan di kampus maupun di Ames atau di negara bagian Iowa yang saya ingin kunjungi atau ikuti akhirnya kesampaian saya jalani, dari mulai menjadi relawan di YWCA yang memungkinkan saya untuk mengunjungi beberapa kota di negara bagian Iowa, mendapat keluarga Amerika yang mengajak saya untuk berkeliling Iowa, merayakan thanksgiving, nonton American Football, sampai mengikuti kompetisi Cyclone Idol.  Kadang-kadang saya sampai heran sendiri, bagaimana mungkin saya bisa meraih mimpi saya itu. Saya yang dari keluarga yang untuk membiayai kuliah S1 saja sampai hutang kanan kiri, dari kota kecil Salatiga di mana tak banyak orang yang bisa melanjutkan kuliah sampai S2 bahkan di luar negeri, lulusan S1 dari universitas swasta yang relatif tak dikenal, berkompetisi dengan ribuan pencari beasiswa yang rata-rata lulusan universitas negeri bergengsi, dengan tingkat kemampuan intelektual dan pencapaian yang hebat-hebat, yang sudah mencoba kompetisi itu lebih dari satu kali. Tapi itulah mungkin kekuatan mimpi. Butuh 11 tahun untuk saya mencapai mimpi saya, tapi saya terus mengelilingi diri dengan mimpi saya itu, dan akhirnya mimpi itu tercapai.

Bermimpilah! Semesta mendukungmu! Saya percaya pada hal itu.

Oh, dan tentang mantan mahasiswa saya itu? Minggu lalu saya bertemu dengannya lagi (btw, namanya adalah Neno). Ia bercerita, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya itu. Tidak sampai sebulan sesudahnya, ia mendapat pekerjaan menjadi penata busana untuk produksi film dan rencananya produksi film itu sebagian akan dilaksanakan di London. Cuma dalam waktu sebulan setelah ia membagi mimpinya dengan saya untuk bekerja di bidang artistik dan bekerja di London. Apakah itu suatu kebetulan? Saya rasa tidak 🙂

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s