Tentang Frances

Frances dengan Dr. Ariel Heryanto di Australia National University (ANU)

Saya punya sahabat baik. Namanya Frances Lorraine Sinanu. Dia teman mengajar saya di UKSW. Orang Ambon, tapi lahir besar di Makassar. Dia cantik dan modis. Tinggi semampai dengan kulit sawo matang yang eksotis. Lehernya jenjang, bikin blus dengan model apa saja cocok dikenakannya. Rambutnya afro kriwil-kriwil yang suka digelung cepol atau ditutup dengan scarf dengan gaya Afrika. Pokoknya penampilannya selalu nyaman untuk dipandang.

Tapi Frances, atau beberapa teman dekatnya memanggilnya Ences atau Kak En, bukan sekedar perempuan berparas cantik dengan penampilan menawan. Frances itu perempuan cerdas dan kreatif. Saat ini dia sedang kuliah program magister di bidang International Education di Columbia University di New York, Amerika Serikat, dengan beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat lewat program Fulbright. Columbia University itu adalah salah satu universitas ivy league, alias universitas top markotop yang masuknya luar biasa sulit, dan ia diterima dengan cemerlang dan menerima tambahan beasiswa pula dari universitas itu. Kecerdasannya juga membuat dia beberapa tahun sebelumnya diterima menjadi Foreign Language Teaching Assistant (FLTA) di universitas yang sama untuk mengajar bahasa Indonesia. Selain tentu saja kualitasnya sebagai orang yang kreatif, sehingga program bahasa Indonesia di Language Training Center (LTC) di universitas itu masih menganggap program pembelajaran bahasa Indonesia yang diciptakannya sebagai program yang layak dipakai terus. Ukuran cerdas menurut saya adalah menerapkan dan membagikan apa yang dipelajari kepada orang atau komunitas yang lain, dan kalau diukur menurut ukuran itu, Frances tentu saja sangat cerdas. Sekembalinya dia dari FLTA, ia menjadi direktur LTC di universitas kami, menelurkan program-program yang kreatif sehingga LTC kembali bangkit dari keterpurukannya akibat krisis ekonomi dan menjadi salah satu pusat pembelajaran bahasa Indonesia yang terkemuka di Indonesia.

Selain itu, banyak ide-ide lain yang dituangkannya menjadi kenyataan, meskipun mengalami banyak tantangan dan cibiran dari kolega. Kalau saya sebutkan di sini, posting ini akan menjadi biografi panjang lebar tentang Frances. Silakan bertanya pada teman-teman dia, dan Anda pasti akan mendengarkan berderet-deret pencapaian dan idenya yang menjadi sesuatu yang berarti bagi komunitas di sekitarnya. Frances itu orang yang idealis. Seperti saya sebutkan, ide-idenya cemerlang. Tapi yang lebih penting adalah membuat sesuatu yang berarti bagi komunitas. Itu adalah kualitas yang diperlukan bangsa ini. Indonesia perlu lebih banyak orang yang idealis dan mau berbagi kepada komunitas. Di tengah carut-marut politik dan kebijakan yang cuma mengedepankan ego dan kepentingan pribadi, orang semacam Frances menjadi semacam nabi yang tidak hanya berseru-seru di tengah padang gurun, tapi juga mewujudkan seruannya itu menjadi sesuatu aksi yang nyata. Program Salatiga Meets the World (SMW) yang digagasnya misalnya, bertujuan untuk mendekatkan siswa-siswa SD di Salatiga untuk lebih sadar pada isu-isu lokal dan membagikannya dengan dunia. Think Globally, Act Locally. Dengan dukungan dana dari jaringan sosialnya yang luas dan meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga di tengah-tengah kesibukannya kuliah di New York, Frances berhasil mewujudkan proyek SMW, walaupun tidak sedikit yang skeptis dan bahkan mencemooh di belakangnya.

Tapi kualitas Frances yang paling berarti buat saya adalah rasa persahabatannya yang kritis namun penuh cinta dan dukungan. Ia bisa dengan jujur memberitahu saya tentang kesalahan-kesalahan saya, memberikan saran dan pendapat, mengkritisi perbuatan saya yang tidak benar (dan seringkali saya bandel meneruskan perbuatan saya itu dan terbukti saya salah!), namun apa pun yang saya perbuat, entah dia setuju atau tidak, dia akan dengan penuh cinta memberikan dukungan dan mendoakan yang terbaik buat saya. Dia tempat saya berbagi ketika hidup saya luar biasa carut-marut (sesi menangis-nangis via skype, gtalk, dan telpon adalah sesuatu yang rutin kami lakukan tiap hari lintas benua dan lintas waktu). Dia suara batin saya ketika saya perlu membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup saya. Dan apa pun keputusan saya, entah ia setuju atau tidak, ia akan mendoakan yang terbaik untuk saya. Bahkan ketika saya memutuskan untuk tidak berkomunikasi dengan dia selama berminggu-minggu, saya tahu dia akan tetap berada di sana, memikirkan tentang saya, dan berdoa untuk saya.

Selamat ulang tahun, Ces. Many happy returns and successes for you. I am not your very bestfriend at many times, but you are always my very bestfriend at all times. I am sure many of us found you to be the best of bestfriends. Keep being smart, creative, idealistic, attentive, and critical. You are that special person. God must have been smiling when He created you.

Advertisements

2 comments

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s