Orang Tua: Stop Mem-bully Anak-Anakmu dengan Harapan yang Tidak Masuk Akal!

Sepupu saya baru saja mengirimkan sms putus asanya, bercerita tentang orang tuanya yang sedang memarahi habis-habisan adik bungsunya yang duduk di bangku SD kelas 2. Si orang tua marah karena si adik ini nilai rapornya ada satu yang dapat 8, sementara pelajaran lainnya dapat nilai 9.

Reaksi saya adalah: astagaaaaaaaaaa, si bungsu ini pintar amat ya? Cuma satu nilai 8 dan yang lain nilai 9! Saya saja dulu tidak sepintar dia. Masak masih dianggap tidak bagus nilainya?

Orang tua macam begini nih yang bikin anak stress sepanjang masa sekolah. Gimana enggak? Nilai sudah mendekati sempurna saja masih dianggap tidak cukup. Apalagi kalau nilainya di bawah ambang ketuntasan. 

Nilai rapor saya dari SD sampai SMA rata-rata hanya 7 atau 8, atau 9 untuk pelajaran bahasa yang memang minat dan bakat saya. Bahkan orang tua saya saja nggak seheboh itu kalau ada nilai saya yang dapat 6. Buat mereka, asal tidak ada nilai 5 di rapor (yang berarti akan ditulis dengan tinta merah), nilai saya masih bagus dan belajar saya masih bener. Bahkan ketika melihat hasil ujian tahap akhir nasional tingkat SMA (dulu namanya EBTANAS, sekarang UAN) yang mana saya mendapat nilai 4 untuk mata pelajaran fisika, orang tua saya masih adem ayem dan tenang-tenang saja. Yang penting saya naik kelas atau lulus. Untungnya juga sistem ujian akhir nasional generasi saya (yaitu generasi 80-an/90-an) tidak menentukan sepenuhnya kelulusan. Nilai kelulusan ditentukan oleh gabungan nilai ulangan harian, ulangan umum tengah semester, ulangan umum akhir semester, dan nilai ujian akhir nasional. Jadi kalau nilai sehari-hari, atau nilai semesteran bagus, tapi nilai ujian akhir nasional jeblok, masih bisa lulus.

Ini orang tua sepupu saya ini mungkin akan stress luar biasa kalau mendapatkan saya jadi anaknya. Atau mendapatkan anak saya Jalu sebagai anaknya. Jalu itu prestasi akademiknya lebih parah dari saya! Karena cara belajar dia yang tidak kinestetik dan auditory, dia paling tidak suka menulis dan mendengarkan ajaran gurunya. Dia lebih visual sehingga lebih suka membaca buku. Alhasil, setiap ulangan, kertas ulangannya kosong melompong, karena dia menolak menuliskan jawaban. Tapi ketika ditanyai gurunya setiap jawaban di kertas ulangan, dia akan lancar menjawab. Tapi karena sekolah sekarang rata-rata formal, kalau tidak ada jawaban tertulis, dianggap tidak mengerjakan ulangan, dan nilai Jalu bisa sama sekali 0! Tapi itu bukan berarti dia bodoh kan? Yang penting saya tahu dia suka belajar tentang sains dan sangat paham sains. Nilai rapornya nggak masalah buat saya, yang penting dia naik kelas terus.

Balik ke orang tua sepupu saya tadi, saya sebenarnya mau bertanya pada mereka, emangnya kalau si bungsu itu dapat nilai 9 semua di rapornya, itu jaminan dia bakal sukses nanti di pekerjaannya? Kalau dia sukses dapat nilai 9 di seabrek mata pelajaran itu, apakah itu akan membuat dia bakal jadi wirausahawan yang sukses atau pegawai kantor yang cemerlang atau pekerja sosial yang berhasil bikin proyek yang berdaya guna di komunitas atau jadi penulis novel yang tulisannya dibaca berjuta-juta penduduk Indonesia, atau apa sajalah yang jadi minat si bungsu?

Pengalaman saya mengajar selama 12 tahun membuat saya mengamati bahwa mahasiswa-mahasiswa saya yang IP-nya bagus-bagus belum tentu jadi cemerlang di pekerjaannya setelah lulus. Malah yang IP-nya pas-pasan, bahkan terancam tidak lulus, atau masa kuliahnya luar biasa panjangnya, justru jadi pribadi yang cemerlang dan diandalkan di pekerjaannya. Pertemuan saya dengan teman-teman semasa SMP-SMA menyadarkan saya bahwa teman-teman saya yang dulu biasa-biasa saja, bahkan cenderung dianggap secara akademis tidak cemerlang, setelah bekerja ternyata bisa juga sukses di bidangnya. Teman yang rankingnya buncit, cenderung jahil dan nakal, malah jadi pengusaha sukses dan tetap rendah hati.

Satu kualitas yang mirip di antara mahasiswa dan teman-teman sekolah saya yang berhasil: mereka dulu biasanya aktifis di segala jenis kegiatan dan tidak melulu belajar macam kutu buku. Saya mengamati bahwa mahasiswa saya dan teman-teman sekolah saya yang berhasil itu biasanya soft skillnya jago. Punya kemampuan berkomunikasi yang luwes, bisa memimpin dengan enak, bisa mengelola apa pun, kreatif menyelesaikan masalah, punya jaringan pertemanan yang luas, dan punya passion alias kecintaan pada bidang yang mereka tekuni. Saya percaya sekali bahwa pengalaman mereka mengikuti segala jenis kegiatan di masa sekolah/kuliah yang memberi kesempatan mereka untuk menguasai soft skill macam ini. Satu lagi, karena mereka ikut segala jenis kegiatan itu, mereka jadi bisa mengenal diri sendiri dan apa yang mereka sukai, sehingga ketika masuk kuliah atau memilih pekerjaan, mereka tahu betul jurusan/bidang apa yang mau mereka masuki. Saya percaya juga bahwa ketika kita mengerjakan sesuatu yang benar-benar kita sukai, lebih besar kemungkinannya kita akan berhasil mengerjakannya.

Jadi para orang tua, stop mem-bully anak-anakmu dengan harapan-harapan yang tidak masuk akal! Stop mematok standar yang tidak memperhatikan minat dan bakat anak-anakmu! Itu bikin si anak stress sepanjang hidup dan belum tentu membuat mereka berhasil dalam kehidupannya kelak.  Adalah lebih penting untuk membikin anak senang belajar, mengikutkan dia secara aktif dalam berbagai kegiatan hingga dia mengerti apa minat dan bakatnya lalu mencintai bidang yang dipilihnya dan mendapatkan soft skill dari keterlibatan aktifnya dalam bidang itu.

Sudah saatnya kita memahami dan mencintai anak-anak kita dengan apa adanya sehingga mereka jadi anak-anak yang bahagia dan sukses dalam hidupnya!

Advertisements

3 comments

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s