Curiosity Killed the Cat

Curiosity killed the cat. Keingin tahuan membunuh si kucing. Tahu tidak maknanya?

Begini deh, pernah tidak Anda mengalami ini? Sudah tahu kalau Anda lihat, atau baca, atau dengar, atau pokoknya jadi tahu deh, Anda akan celaka. Macam dalam film horor, kadang-kadang kita gemes sama seorang tokoh yang kepingin melihat hantu dan ketika melihat hantu beneran jadi ketakutan atau malah mati mengenaskan. Sudah tahu kalau lihat bakalan takut atau bakalan mati mengenaskan, tapi tetap saja penasaran ingin tahu.

Yah, itulah yang terjadi pada saya. Sudah tahu kalau dengar lagu tertentu jadi sedih, tapi tetap saja saya iseng mendengarkan. Walhasil, saya jadi terharu biru menyesakkan kalbu. Atau sengaja melihat foto-foto tertentu yang bakal bikin hati pedih, tapi tetap nekat saya lihat. Hasilnya, saya jadi mewek. Yang paling mengesalkan adalah media sosial. Sudah tahu kalau membaca status atau komentar orang-orang tertentu, saya bakalan jadi jengkel, marah, sebel, sedih, pilu, atau terjangkiti perasaan-perasaan negatif yang lain. Tapi terus saja tiap hari saya malah sengaja membuka dinding orang-orang tertentu. Akibatnya, seharian saya merasa terganggu dan kepikiran terus, lalu butuh waktu setengah hari untuk berusaha membuat diri saya positif.

Ya, ya, ya, curiosity killed the cat! Sayalah si kucing yang terbunuh oleh rasa ingin tahu itu. Tapi rasa ingin tahu itu kan menunjukkan kalau saya masih perduli kan ya? Kalau tidak perduli, ngapain juga saya jadi ingin tahu?

Oh la la, sulitnya mengendalikan rasa ingin tahu itu!

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s