Digombali Terstruktur

Digombali terstruktur itu ternyata menyenangkan. Yang saya maksud digombali terstruktur adalah ketika ada pendar-pendar rasa bahagia dan tersanjung ketika membaca bait-bait puisi cinta. Atau mendengarkan lagu cinta yang isinya pemujaan kepada seseorang. Atau membaca cerita cinta yang romantis. Atau menonton film cinta yang penuh adegan mesra. Pernahkah Anda merasakan pendar-pendar rasa bahagia itu?

Ah, cinta. Gombal memang topik saya kali ini. Dan terstruktur dalam bait puisi, lagu, cerita, dan film. Semakin sulit kan menghindari gelenyar-gelenyar perasaan yang mengembang dalam hati. Aduhai!

Hei, saya memang jatuh cinta. Mungkin sudah sekian lama dan perasaan itu sungguh kuat sehingga ketika akhirnya cinta saya tak bersambut, entah kenapa perasaan itu tetap saja menguasai saya. Dan soal digombali terstruktur itu? Oh, saya merasakan digombali terstruktur baik oleh hal-hal di atas atau persinggungan dengan beberapa orang. Siapa bilang lelaki tidak bisa romantis gombal tak beres? Entah karena naluri “berburu”-nya, lelaki bisa melakukan hal-hal yang luar biasa perhatian buat memikat perempuan. Entah lewat obrolan di chat yang memberi saya solusi atas masalah-masalah saya. Bagus sih karena memberi pemikiran baru. Tapi si orang ini di luar radar pergaulan saya dan jarang-jarang bicara dengan saya. Kok tiba-tiba menawarkan pemikiran. Gombal. Atau dengan pujian model “Neny, you look glowing tonight!”, padahal hari itu saya malah merasa capek luar biasa karena seharian keluar rumah dan pasti itu tercermin di muka saya yang kusut. Ketauan gombal sekali.  Atau misalnya yang ngomong bahwa dia terinspirasi oleh saya, padahal saya nggak kenal sama sekali dengannya, atau kalau pun kenal cuma sekedar nama dan karena beberapa kenalan saya adalah teman dia. Waduh, yang beginian bikin tersipu-sipu luar biasa. Ohohohoho.

Apakah itu membuat saya menanggapi gombalan-gombalan tersebut? Kalau gombalan terstruktur lewat lagu, puisi, cerita, dan film sih jelas saya lahap. Wong saya juga jadi senang kok setelah mengalami gombalan tersebut. Tapi kalau yang dari beberapa lelaki itu, tampaknya saya masih ogah menanggapi. Ternyata, oh ternyata, saya masih terlalu terbius dengan yang lama, sehingga sulit untuk menikmati gombalan yang lain. Hmm, yang namanya hati itu kok susah betul ya penanganannya…

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s