Pembimbing, oh, Pembimbing!

Perjuangan menempuh PhD itu katanya sedikit banyak tergantung pada pembimbing. Begitu petuah dari beberapa teman dan tips dari lokakarya mahasiswa riset universitas saya. Beberapa kali saya mendengar teman yang sedang menempuh PhD berkeluh kesah tentang pembimbingnya yang tidak perduli atau pembimbing yang “sulit”, dan tentu saja ini berpengaruh pada kinerja mereka mengerjakan disertasi.

Saya termasuk beruntung mendapat pembimbing yang super baik. Yang saya maksud dengan super baik ini tidak cuma betapa beliau begitu kebapakan dan memahami masalah-masalah pribadi saya. Beliau juga mengerti ketika saya benar-benar menjadi mahasiswa PhD yang keterlaluan malasnya dan menunjukkan kinerja yang buruk. Beliau tidak pernah berhenti menyemangati saya, meskipun tentu saja dengan nada yang tentu saja agak keras dan bule. 

Selain pribadi beliau yang ngemong, beliau juga punya kapasitas yang bagus untuk membimbing. Ketika beberapa teman di sini tahu siapa pembimbing saya, mereka langsung berkomentar bahwa saya beruntung karena dibimbing beliau. Saya rasa bukan karena masalah kehandalan beliau dalam bidang yang saya teliti, tetapi lebih karena beliau dikenal sebagai penulis buku tentang bagaimana menulis thesis yang baik dan tentu apa yang beliau tulis itu diterapkan pada saya. Dan saya merasakan sendiri betapa beliau sungguh perduli pada mahasiswa bimbingannya dan memberikan saran-saran yang sangat membantu. Beliau bahkan tak cuma memberi saran, tapi turun tangan langsung memberikan ide-ide dan arahan tentang isi thesis saya, sampai ke taraf yang membuat saya merasa bodoh luar biasa karena hal-hal kecil pun beliau pikirkan dan beliau kerjakan untuk saya. 

Nah, ini sedikit tips dari saya untuk Anda yang dalam proses mencari pembimbing yang tepat untuk studi S3. Jangan cuma tergiur dengan kepakaran dari seorang pembimbing. Seorang pakar belum tentu bisa menjadi pembimbing yang baik. Saya punya seorang teman yang dibimbing oleh seorang pakar di bidang saya, tapi berapa kali saya mendengar dari dia betapa sang pembimbing kadang-kadang tidak memberikan arahan sama sekali dan membiarkan dia bingung dengan topiknya. 

Bagaimana caranya mengetahui apakah seorang pembimbing itu perhatian atau tidak? Saya beruntung punya teman yang dibimbing oleh pembimbing saya sehingga ketika saya mencari-cari calon pembimbing saya bisa mendapatkan masukan langsung dari yang merasakan. Cara lain adalah dengan melihat disertasi mahasiswa bimbingannya. Kalau di bagian acknowledgment nadanya hangat, saya bisa pastikan si mahasiswa mempunyai hubungan yang hangat juga dengan sang pembimbing. Cara yang lain lagi adalah melalui media sosial macam Facebook atau Twitter. Kalau sang pembimbing punya akun di sana dan bisa diakses, lihatlah bagaimana komentar orang, terutama mahasiswanya kepadanya. Atau bisa juga mencari teman-teman yang sedang studi S3 di bidang yang kita mau, lalu tanyakan siapa pembimbingnya dan bagaimana model sang pembimbing ketika membimbing si teman. 

Selamat mencari pembimbing idaman!

Advertisements

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s