Apa kabar?

Ya, timpuklah saya, marahilah saya, karena saya lama sekali tidak menulis.

Alasannya? Klasik. Saya sedang sibuk. Sibuk pindahan ke mari. Sibuk penyesuaian dengan lingkungan ini. Sibuk membantu anak saya menyesuaikan diri dengan tempat ini.

Tapi, alasan lain adalah saya mengalami apa yang disebut writer’s block. Writer’s block menurut definisi kamus Merriam-Webster berarti halangan psikologis yang menghambat seorang penulis untuk meneruskan tulisan yang sedang digarapnya. Itu yang terjadi pada saya. Ada banyak bahan karena saya dua bulan terakhir ini mengalami banyak perubahan yang bisa dibagikan kepada dewan pembaca yang budiman *duh, bahasa saya majalah sekali bukan?* tapi ada hambatan psikologis yang cukup banyak untuk menulis.

Seperti dialami oleh banyak orang yang barusan pindah ke lingkungan dengan budaya yang berbeda, tampaknya saya mengalami gegar budaya. Secara klasik, gegar budaya digambarkan oleh Oberg (1960) dalam bentuk kurva U, yang terdiri dari tahap honeymoon, culture shock, adjustment, dan mastery. Seperti Anda bisa lihat, tahap culture shock terjadi di antara bulan kedua sampai kesembilan.

Saya baru tinggal di sini sekitar dua bulan, jadi memang sedang masanya mengalami tahap culture shock yang menurut thesisnya Uwaje (2009) di Munich Business School adalah masa krisis dimana konfrontasi dengan budaya baru (baik dengan orang atau dengan nilai baru), rasa frustrasi dan cemas, bahkan penolakan terhadap budaya baru sedang terjadi.

Meskipun di model Oberg ada tahap honeymoon, saya kok tidak merasakan sama sekali. Mungkin karena sudah pernah tinggal di sini yang budayanya mirip-mirip, jadi masa ternganga-nganga saya terhadap budaya anglo-saxon sudah lampau. yang ada malah rasa frustasi yang besar terhadap budaya ini dan masalah-masalah pindahan yang kayaknya nggak berhenti-henti (misalnya akomodasi yang alamak sulitnya mencari di sini, mahalnya biaya hidup, kesepian yang dialami karena jauh dari keluarga, proses sekolah S3 yang serba sepi), tapi nanti saja saya ceritakan di waktu yang lain.

Yang jelas, seperti selalu terjadi di masa lampau ketika saya mengunjungi atau tinggal di tempat lain, saya makin cinta Salatiga dan Indonesia. Gimana-gimana Salatiga dan Indonesia itu selalu yang paling nyaman. Hingga walaupun Pak BJ Habibie bilang “Ilmuwan Nggak Usah Dulu Pulang ke Indonesia” dan menyarankan untuk para ilmuwan menetap dulu di luar negeri karena minimnya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka dan supaya mereka mengumpulkan bekal (a.k.a duit) dulu, saya tetap memilih pulang. Bukan mau sok nasionalis atau apa, tapi buat saya pribadi mendingan melakukan pekerjaan dengan gaji yang pas dan cukup tapi dalam lingkungan yang saya nyaman daripada bekerja di lingkungan yang saya nggak nyaman. Lagian, kayaknya negeri ini nggak butuh saya (wong buktinya saya yang ke sini karena saya butuh ilmu mereka), jadi buat apa saya menetap lama di sini.

So, I’m back to the blogging world, Fellas. Maap kalo nada saya agak sendu (tapi bukan seneng duit). Udara dingin di musim dingin ini tampaknya menyelinap masuk ke diri saya. Ini salah satu efek musim ini yang saya nggak suka, saya jadi sulit bahagia. Satu lagi alasan kenapa saya lebih suka di negara tropis seperti Indonesia: tampaknya sinar matahari dan cuaca yang hangat membuat hati jadi hangat dan riang.

How I miss Salatiga. How I miss Indonesia. *sigh*

Advertisements

14 comments

  1. Ah! Bu Neny setelah hiatus panjang ya? LOL. Sy jg baru mau memulai tulisan di wordpress saya yang baru. LOL.

    Well, related to Habiebie’s statement, asal bu Nen tetep berjuang en tidak terlalu nyaman malah jd terlena dg status quo Ibu di Salatiga, tidak masalah, kan? Betul?

    >>nah itu dia, Dan, saya takut diri saya menjadi status quo bukan karena terlalu nyaman di Salatiga, tapi karena frustrasi dengan jalan pikiran beberapa kolega kok yang kayaknya maunya status quo. Dan…have you ever seen me not fighting? *ato kata suami saya ‘ngeyel’ hahahahahah*

    Like

  2. Senangnya melihat tulisan ibukku satu ini lagi! Ditunggu ya ulasan seputar kehidupan MAHAsiswanya. (caps: secara sudah jadi maha-nya mahasiswa ya buk 🙂

    >>ahahaha, MAHAsiswa tapi tugasnya dan kelasnya cuma satu : thesis a.k.a disertasi. alangkah sepinya hidup ini!

    Like

  3. bener ambu, apapun kata orang tentang Indonesia, kalo ditinggal terlalu lama ini negara memang ngangenin, pantainya, mataharinya, macetnya, sambel2nya, makanannya *sambil ngunyah kerupuk*
    know what, go home soon ambu, abdi miss ambu sangat eeeehh…. *ketjup jauh*

    >>dan kenapa dirimu mengomongkan segala keenakan makanan ketika saya puasa jauh2 gini *grrrrrr* yap, yap, Indo memang amazing ya. Miss you too! *peyuk2*

    Like

  4. «Dan…have you ever seen me not fighting? *ato kata suami saya ‘ngeyel’ hahahahahah*»

    Seems that I missed typing this idea ya, Bu. Surely I v been witnessing ur struggle to make a difference! Semangat, Ibu!

    >>kemarin abis rapat apa di LTC? Are you finally coming back to the dept? *would love to have you in the faculty when I come back*

    Like

  5. Ahhhh, akhirnya update juga! The bottom line is you’re safe and sound, bu 🙂 And I’m glad you’re back in blogging. For now. ;P

    >> safe and sound tapi dengan lecet-lecet dan berdarah-darah (hatinya) ahahahaahha

    Like

  6. tulisan yang menarik. saya sering mengalami hal seperti itu padahal disisi lain sy suka sekali bepergian. Suka bepergian tapi selalu sangat rindu untuk pulang. sekarang sy mengerti bgm harus menerjemahkan kesadaran. hihihi
    salam kenal bu.

    >> salam kenal balik, James! berarti Anda sama kayak suami saya: suka bepergian tapi untuk menetap mikir seribu kali karena suka nggak kerasan 🙂

    Like

  7. oooh… culture shock sudah kagak mempan menempa this Super Woman… Wah, kuliahnya kaya gito bu, sepi pisan euy. Yang ada hanya deadline mungkin ya… Well, my first comment pops up here. i’d like to follow the updated news Bu.

    Like

    1. ahahaha, iya nih, mungkin karena udah bukan pertama pergi jadinya biasa-biasa aja. Frances juga mengalami hal yang sama: tinggal di sono tapi gak ada excitement babar blas.

      Thanks for your comment. Will keep you posted!

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s