Jalu Membuktikan

Jalu menang! Hore! Alhamdulilah!

Setiap orang tua pasti sebahagia saya ketika melihat anak-anaknya mencapai sesuatu. Dan hari ini sungguh saya bahagia luar biasa ketika Jalu, anak sulung saya, memenangi juara ketiga dalam perlombaan mengeja kata dalam bahasa Inggris yang diadakan oleh SMP Negeri 1 Salatiga dalam rangka Students Action Days 2011.

Jujur ketika gurunya meminta Jalu ikut lomba, saya merasa skeptis. Ada orang-orang tertentu di sekolah dia yang menganggap dia tidak mampu dalam hal akademis. Saya sendiri pernah menuliskan rasa frustrasi yang kami rasakan ketika mendapati Jalu hampir-hampir tidak naik kelas, dua tahun berturut-turut lagi! Banyak orang yang mengenal Jalu pun merasa kaget dan tidak percaya ketika saya menceritakan kenyataan ini. Makanya saya dan ayahnya tidak mematok target yang tinggi dalam lomba ini. Bahkan kalau dia tidak masuk ke babak kedua (dari empat babak), saya sudah cukup senang dia punya kesempatan berlomba. Latihannya sebelum lomba pun hanya beberapa jam dan terkesan main-main. Saya dan ayahnya melemparkan beberapa kata secara sambil lalu dan dia mengeja (dengan antusiasme yang tidak dia tunjukkan kalau sedang belajar matematika ahahahahah). Semalam sebelum lomba, saya membuka buku LKS Bahasa Inggrisnya dan kamus Longman Contemporary English, mendiktekan sekitar 50 kata padanya, sementara dia menuliskan ejaannya (karena 2 babak pertama adalah menulis).

Dan hari ini, saya menemukan talenta Jalu. Kemampuan visualnya, yang tidak cocok dengan sistem pendidikan Indonesia yang serba auditori dan kinestetik, ternyata sangat berguna dalam mengikuti lomba hari ini. Jalu suka membaca dan suka menonton acara dokumenter di TV dalam bahasa Inggris. Sebagian besar kata yang dibacanya dan ditontonnya ternyata terekam dalam otaknya dan memampukannya untuk mengeja kata-kata soal. Jalu memang bukan juara pertama dalam lomba hari ini, tapi mengingat anak yang juara pertama sudah pernah tinggal di Skotlandia selama 4 tahun dan selisih nilai Jalu dengan anak yang juara kedua hanya karena perbedaan satu kata, pencapaian Jalu sudah luar biasa! Mungkin ini subyektif ya, secara saya ibunya heheheh, tapi boleh dong kalau saya merasa bangga!

Dan saya sungguh mengangkat topi pada Bu Sri Waldji Hasthanti (Bu Thanti), gurunya selama 2 tahun terakhir, yang selalu percaya bahwa Jalu punya talenta tersembunyi yang anak-anak lain tidak punya dan yang selalu memberi dia kesempatan untuk mencari talentanya itu. Beliau juga yang selalu membesarkan hati saya setiap kali saya merasa sedih tentang prestasi sekolah Jalu. I owe you one, Sista! Thanks for our chat and rant in cafes over snacks, and drinks, and meals and on the phone for hours 🙂 Secara kebetulan juga harus saya katakan bahwa Bu Thanti dulu adalah mantan mahasiswa saya. Dan banyak guru bahasa Inggris (yang muridnya menang) hari ini adalah mantan mahasiswa saya (dadah dadah ke Ari Pujianto, Rah Seto Sumirat, Lila Seffreani, Wiwik Widyastuti, and countless others). Ini membuktikan bahwa kami, para dosennya, tidak salah dalam mendidik mereka menjadi guru, terutama guru yang selalu menganggap murid-muridnya punya talenta, sesulit apa pun murid-murid itu.

Dan harga diri saya sebagai orang tuanya membuat saya membatin (well, karena sekarang ditulis jadi bukan membatin lagi dong), hei, orang-orang yang menganggap Jalu bodoh, nggak fokus, malas, dll, makan tuh komentar! 2 bulan lagi dia akan pergi dari sekolahmu dan dia akan meninggalkan piala emas besar itu untuk membuktikan diri bahwa dia tidak seperti yang kamu pikir. Tidak ada anak yang bodoh! Yang ada adalah guru yang tak mau berusaha menggali potensi murid-muridnya dan guru yang memberi label-label negatif pada anak-anak yang ‘luar biasa’ (dan biasanya oleh guru-guru macam ini dicap sebagai anak yang malas, bodoh, atau tidak punya kemauan belajar).

Saya masih bahagia 🙂 Jalu, you made my day!

Advertisements

6 comments

  1. kalo melihat kisah jalu, seperti melihat diri saya sendiri. beruntunglah jalu mempunyai orang tua pengertian seperti anda sejak dini.

    Like

    1. pengertian tapi deg-degan apa yang akan terjadi di masa depan, Put. BTW, where the hell are you, man? haven’t seen you for ages!

      Like

  2. namanya juga SMPN 1 Sala3, klo anak pejabat daerah yg jd siswa siswi, pasti diangkat2, diorbit2in dan di bina dg penuh pengabdian ( meskipun, maaf: tetep pd bego) hehhehehehehe sori pengalaman pribadi yg gue rasa waktu sekolah di sana sbg anak orang kalangan menengah kebawah….

    Like

    1. Wah nggak tahu deh masih ada praktek begituan apa enggak. Tapi sepupu yang dulu sekolah di situ pernah bilang, mereka akhirnya nggak berani terima anak pindahan walaupun anak pejabat sekali pun karena takut si anak nggak bisa ngikut standar kualitas yang berakibat tidak 100% lulusnya *absurd*

      Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s