Prestasi Akademik: Penting atau Tidak?

Sebenarnya penting tidak sih berprestasi belajar selama SD, SMP, SMA? Apakah pencapaian akademis semasa SD, SMP, dan SMA itu berpengaruh di masa depan nanti?

Pertanyaan ini muncul dalam diskusi saya dan suami beberapa bulan silam ketika kami mendapati bahwa Jalu, anak kami, mendapatkan peringkat lumayan buncit dibandingkan teman-teman sekelasnya karena nilai-nilai jauh di bawah batas ketuntasan.

Stress? Tentu saja. Sedih? Memang iya. Merasa bersalah? Itu juga. Tapi yang lebih kami rasakan adalah rasa tidak percaya, karena menurut kami, Jalu itu tidak bodoh. Ya mungkin saja Anda bilang, lha iya, wong yang menganalisa orang tuanya. Tentu saja ada faktor subyektif di dalamnya. Kata orang Jawa, anak itu kencono wingko. Kencono artinya emas, wingko artinya pecahan genteng. Jadi meskipun anak jeleknya seperti pecahan genteng, di mata orang tua dia tetap terlihat seperti emas 24 karat. Jadi di kasus anak saya ini, mungkin kami bersikap subyektif bahwa yang bermasalah bukan anak kami, tapi pihak lain seperti gurunya, sekolahnya, dsb.

Tapi ternyata yang kaget dan tidak percaya bukan cuma kami. Teman-teman kantor, tetangga dan sanak keluarga yang mengenal anak saya pun heran mengapa dia hampir tidak naik kelas. Jalu anak saya adalah anak yang suka mengajukan pertanyaan yang cerdas (Ibu, manusia bisa hidup di Antarktika nggak?), suka memberitahu saya potongan-potongan informasi sains yang aneh-aneh (Ibu, tahu nggak? Kalau ikan paus tidur, matanya melek satu lho!), suka membaca, dan secara sosial sangat ramah pada orang-orang di sekitarnya. Makanya waktu kami membaca rapornya, rasanya kok seperti membaca rapor anak yang tidak kami kenal.

Usut punya usut, ada tiga hal yang membuat anak kami tidak berprestasi di sekolahnya.

Satu, dia mempunyai gaya belajar (learning style) yang visual, yang berarti dia belajar dengan cara melihat. Nah, tahu sendiri kalau sistem pengajaran di sekolah Indonesia rata-rata ditujukan untuk anak-anak bergaya belajar auditory (mendengar) dan kinestetik (menggunakan tangan). Guru mengajar, murid mendengar dan mencatat. Jalu sangat tidak suka mendengar dan cepat lupa kalau diberitahu secara verbal, tapi kalau disuruh membaca dan menonton informasi dia akan mengingat selamanya. Tidak heran kalau saya pernah mendapati kertas lembar jawaban ulangan dia yang sama sekali kosong! Tapi ketika dites gurunya dengan metode tanya jawab, dia menjawab dengan lancar.

Kedua, tampaknya gaya belajar dia ini tidak cocok dengan guru-gurunya dari kelas satu sampai kelas tiga, sehingga dia dicap ‘bermasalah’ oleh guru kelas satunya. Celakanya, guru kelas satu ini ‘mewariskan’ cap itu ke guru kelas dua dan tiga. Alih-alih mencari cara untuk mengajarinya, guru kelas dua dan kelas tiga menganggap Jalu tidak bisa diajar sehingga ya lenggang kangkung saja membiarkan dia bergulat dengan masalahnya itu. Tidak heran saya mendapat laporan bahwa Jalu suka dibiarkan berkeliaran di halaman sekolah selama jam pelajaran karena gurunya sudah malas mengurusi dia. Walhasil, nilai rapor dia jeblok karena nilai-nilainya kosong semua. Bagaimana tidak kosong, ketika dites dia tidak ada di kelas, atau karena dia tidak tahu jawabannya karena ketika diajari dia berjalan-jalan di luar kelas. Tapi nilai kosong kan tidak sama dengan nilai nol. Sama halnya dengan murid yang tidak masuk ketika tes karena si murid sedang sakit atau berhalangan, itu tidak berarti si murid ini tidak mampu kan?

Ketiga, akibat dari kelas satu sampai kelas tiga dia mengalami politik pembiaran oleh guru-gurunya, dia menjadi ketinggalan di semua mata pelajaran. Memang saya dan suami sudah berusaha mengajari dia di rumah tapi itu tidak bisa menutup ketertinggalannya selama tiga tahun. Walhasil, dia merasa semakin ketinggalan dan semakin tidak termotivasi untuk mengikuti pelajaran di kelas empat dan kelas lima. Nah, ini dosa turun-temurun jadinya!

Nah, kembali ke masalah penting tidaknya prestasi akademis selama SD-SMA, akhirnya kami pasrah saja dan berusaha menyenangkan hati kami dengan melihat pengalaman kami. Ayahnya bilang, prestasi akademisnya ketika SD sungguh buruk, tetapi ketika SMP-SMA dia malah jadi juara kelas. Guru Jalu di kelas empat dan lima bercerita juga bahwa ada salah satu muridnya yang ketika di SD selalu hampir tidak naik tapi ketika di SMP malah sangat berprestasi. Kami juga melihat bahwa prestasi akademis selama SD-SMA itu tidak banyak membantu dalam dunia kerja. Banyak mahasiswa saya yang ketika SMA mengambil jurusan ilmu pasti, waktu kuliah malah mengambil jurusan bahasa, dan kemudian bekerja di dunia perbankan!

Akhirnya kami berkesimpulan, ilmu untuk masa depan yang paling terpakai mungkin adalah yang dipelajari semasa kuliah. Selebihnya, ketrampilan-ketrampilan non-akademis lebih berguna di dunia pekerjaan, seperti kepemimpinan, komunikasi, manajemen, disiplin kerja, dsb. Justru yang sulit adalah mempelajari ketrampilan macam ini. Selama mengajar mata kuliah Business English yang mengajari mahasiswa bagaimana menulis daftar riwayat hidup dan menyiasati wawancara pekerjaan, saya mengamati bahwa biasanya mahasiswa yang IP-nya bagus tapi tidak aktif berkegiatan ekstrakurikuler, daftar riwayat hidupnya terasa sangat ‘kering’ dan ketika wawancara jawabannya sungguh membosankan.

Sementara Jalu beranjak besar, kami berharap ada perubahan dalam prestasi akademisnya. Kalau pun tidak, semoga pada saat kuliah nanti dia sudah bisa menentukan dia mau jadi apa sehingga bisa memilih jurusan kuliah yang ada hubungannya dengan cita-citanya. Di samping itu, kami berharap bisa membekalinya dengan ketrampilan-ketrampilan praktis hidup yang mungkin lebih terpakai dalam hidupnya kelak. Sejauh ini sih, cita-citanya belum berubah, yaitu menjadi supir bis pariwisata! (tapi dia bilang, dia harus punya minimal 10 bis heheheh). Apa pun pilihan pekerjaannya, kami tentu saja akan mendukung sepenuhnya.

Bagaimana pendapat Anda?

Advertisements

4 comments

  1. Spot on!
    Ada juga yang terbalik, bu.
    SD bintang kelas, SMP & SMA ‘binatang’ kelas karena berbagai macam alasan dari pergaulan, guru, support orang tua, dan sebagainya.

    In the end all the numbers and the rankings would stay in the drawer. Jangan sampai terjebak di dimensi angka.

    >>>>> betul, ada juga teman atau mahasiswa saya yang begitu. Saya sih nggak mau terjebak di angka2, tapi perasaan orangtua saya kadang2 nggak bisa diajak logis.

    Like

  2. I believe Jalu will be okay.
    Guru2nya bikin saya gereget jadinya. hihhh.. (I’m sorry Mam, a bit emotional jadinya)

    >>>>> kamu aja yang jadi gurunya, Nias! dijamin OK 🙂
    gurunya kelas 4 dan 5 sih OK banget *secara lulusan FBS kita gitu lohhh* tapi dampak guru kelas 1-3 sungguh terasa 😦

    Like

  3. Sepertinya guru2nya Jalu harus ikut kelas Critical Pedagogy.nya pak Jos biar tidak stuck dengan traditional system of teaching bu..hehe
    Saya sendiri termasuk orang yang apatis dengan nilai akademik (setelah jadi mahasiswa FBS)…ada 1 orang teman -kakak kelas- SMP dan SMA saya, dia selalu mendapat ranking 1 bahkan saat kuliah, IPnya luar biasa tinggi (mungkin dia termasuk golongan +2 dalam normality curve,hehe)..tapi setelah lulus, dia mendapat pekerjaan yang *maaf* ecek-ecek, dikarenakan dia tidak bisa bergaul dengan banyak orang…
    jadi menurut hemat saya, nilai akademik di SD-SMA, tidak menjadi jaminan untuk keberhasilan di masa depan..justru skill2 yang ibu sudah tuliskan d atas itulah yang lebih penting.

    >>>>> betul, Deb, jadi gemes nih ama guru2nya Jalu. Sudah saya diskusikan dgn mereka, kasih saran2 juga, tapi kayaknya masuk telinga kiri keluar telinga kanan 😦

    Like

  4. ikutin aja perkembangan anak,kita ndak iso nge push anak sama kayak keinginan kita , tapi kita yang seharusnya menyesuaikan keinginan anak dan mengarahkannya

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s