Privacy vs. ‘Privacy’

Sejujurnya saya bingung mau menulis apa dalam blog ini. Agak malu rasanya mengakui bahwa saya paling jarang memperbaharui blog saya ini. Tapi saya merasa sibuk. Yah, sebenarnya tidak sibuk juga menurut suami saya. Paling tidak kalau saya masih sempat bermain game komputer berarti saya harusnya punya waktu. Tapi dasar saya seorang penunda, jadi saya selalu menunda-nunda semua urusan yang saya tidak suka. Akhirnya pada detik-detik terakhir, ketika mendekati tenggat, terpaksalah saya ‘heboh’ dan mengesampingkan semua urusan lain untuk menyelesaikan urusan yang satu ini.

Nah, kenapa saya sekarang mau menulis di blog ini karena tadi malam saya menonton House, MD dan ceritanya adalah tentang seorang pasien yang begitu terobsesi dengan blognya hingga ia menuliskan semua hal yang terjadi dalam hidupnya sampai sedetil-detilnya, bahkan hal-hal yang menurut suaminya adalah hal-hal yang sebaiknya disimpan untuk mereka berdua saja. Ini tentu saja menimbulkan pertengkaran di antara suami istri tersebut. Kalau dipikir-pikir, saya dan suami saya juga beberapa kali mempunyai masalah dengan hal ini. Mungkin bukan hanya blog, tapi kecenderungan saya untuk menulis status di Facebook yang menurut suami saya ‘mengumbar urusan pribadi’. Atau misalnya, bercerita kepada beberapa teman dekat tentang masalah kami. Menurut suami saya, ini agak tidak etis. Kalau ini adalah urusan ‘dalam negeri’ kami, sebaiknya tidak usah diceritakan ke ‘luar negeri’.

Sebenarnya masalah perbedaan cara pandang begini bukan hanya terjadi antara saya dan suami saya. Saya amati banyak teman-teman perempuan yang bisa bercerita soal masalah mereka dengan pasangan mereka masing-masing ke lingkaran pergaulan teman perempuan yang dekat. Tapi di kalangan teman-teman lelaki saya, jarang yang berbicara dari hati ke hati soal urusan ‘dalam negeri’ begini. Kalau pun ada yang bercerita, paling masalah-masalah yang dianggap sudah tuntas dan itu pun jarang sekali terjadi.

Apakah perbedaan cara pandang soal ‘privacy’ ini adalah masalah yang menyangkut perbedaan jender atau cuma sekedar pilihan pribadi masing-masing? Bagaimana pendapat Anda?

Advertisements

One comment

  1. Yang pasti bukan masalah gender. Pengalaman sharing dari hati ke hati sesama cowok sudah sering saya saksikan sendiri. Cuman ya itu, harus di “inner circle” mereka sendiri.

    >>>>> oh ya? hmmm, mungkin karena cowok nggak mau keliatan lemah kali ya? jadinya cuman di inner circle mereka sendiri.

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s