Endonesa

Kenapa sih orang Indonesia itu suka selalu menciptakan urusan-urusan tambahan yang membuat kinerja menjadi tidak efisien karena waktu pengerjaan menjadi molor dan jumlah sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk mengurusi urusan yang utama jadi bertambah?

Bingung?Misalnya begini: kalau di bagian penerimaan mahasiswa baru sudah ada kamera digital dan mesin printer untuk membuat kartu mahasiswa, ngapain mahasiswa diminta mengumpulkan foto lagi untuk kartu mahasiswa? Kan berarti harus foto di studio di luar kampus, cetak fotonya, dibawa ke bagian penerimaan mahasiswa, mengisi formulir pembuatan kartu mahasiswa, foto tercetak discan oleh pegawai bagian penerimaan mahasiswa, formulir data diri disalin oleh pegawai bagian penerimaan mahasiswa, dimasukkan file fotonya ke software, dicetak di printer. Kebayang nggak ribetnya dan berapa banyak energi, waktu, biaya untuk sebuah proses yang sebenarnya bisa mudah sekali: suruh mahasiswa berfoto di depan kamera digital di bagian penerimaan, lalu langsung diprint di tempat. Data mahasiswa bisa diambil dari database mahasiswa baru di server. Paling cuma 5 menit, atau 10 menit kalau si mahasiswa barunya ganjen mau dandan-dandan dulu sebelum difoto 😀

Atau misalnya ini: Kenapa Kartu Tanda Penduduk dan kartu Surat Ijin Mengemudi tidak bisa dijadikan satu baik pengurusan maupun bentuk fisiknya? Kan ribet buat penyuka dompet tipis macam saya. Dan sebelnya lagi, kenapa sih setiap kali membuat kartu baru kita harus mengisi segala macam formulir lagi? Plus mengumpulkan segala foto lagi *baca lagi bagian sebelumnya soal ribetnya soal foto ini*. Apakah tidak indah dan gampang kalau di negara ini yang paling suka bikin sensus penduduk dan paling suka menanyakan segala data pribadi bahkan yang nggak penting sekalipun (tinggi badan?) sekalian bikin satu database kependudukan yang luar biasa besar buat dua ratus lima puluh sekian juta rakyat Indonesia, yang bisa diakses oleh pegawai pemerintah dari RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, Kepolisian, Imigrasi dan para birokrat itu, sehingga kalau saya butuh KTP plus SIM plus Paspor plus Akta Kelahiran plus Surat Keterangan Tidak Pernah Terlibat Kebodohan Massal (aha!), saya cuma butuh menyebutkan nama saya plus Nomor Induk Kependudukan dan, voila! Jadilah satu kartu sakti untuk KTP, SIM dan Paspor yang bernama Kartu Tanda Penduduk Indonesia Yang Mampu Mengemudi atau disingkat KTPIYMM. Kalau saya mau, kartu sakti ini bisa dikoneksikan dengan kartu ATM berbagai bank. Sehingga kartu ini dinamakan Kartu Tanda Penduduk Indonesia Yang Mampu Mengemudi Dan Punya Rekening Bank atau disingkat KTPIYMMDPRB. Kalau misalnya saya lupa Nomor Induk Kependudukan atau kalau si petugas curiga bahwa saya bukanlah saya (bingung kan?), bisa juga ditambahkan retina scan atau fingerprint scan yang bisa dicocokkan dengan catatan retina atau sidik jari saya di database. Enak kan? Bayangkan berapa banyak penghematan kartu, penghematan kertas untuk formulir, penghematan sumber daya manusia, penghematan waktu, yang bisa kita dapat?

Tapi itulah en-do-ne-sa (pakai nada lagu dari Sabang sampai Merauke). Yup, betul, En-do-ne-SA. Karena Indonesia itu hanyalah sekedar gambaran ideal sebuah negara. Yang saya alami sekarang adalah Endonesa. *siap-siap panjang sabar untuk mengurus KTP baru, SIM baru, KK baru. Baru ngisi formulirnya aja udah eneg*

Advertisements

One comment

  1. bener banget bu neny, usulanya bgs heheheh…
    q juga jengkel banget tu waktu ngantre2 perpanjangan sim dl, ngisi formulir ini formulir itu ..mana polisinya gitu2 bgt…hiii..paling males berurusan ma polisi….

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s