Sistem pertolongan pertama pada situasi darurat

Membaca judul saya di atas mungkin yang terbayang di benak Anda adalah situasi darurat tingkat berat macam gempa bumi, banjir bandang, dan sejenisnya. Tapi yang membuat saya berpikir tentang sistem pertolongan pertama pada situasi darurat adalah kejadian yang saya alami hari ini: seorang mahasiswa tiba-tiba jatuh lemas di kelas saya ketika saya mengajar di lab komputer di lantai empat gedung perpustakaan. Entah dia pusing luar biasa, atau belum sarapan pagi, atau tingkat gula darahnya naik, saya tidak tahu, tapi mahasiswa saya ini langsung jatuh begitu saja (untung ruang lab berkarpet) dan tidak bisa bangun karena dia merasa sangat lemas dan pusing luar biasa.

Panik? Mahasiswa saya yang lain cukup panik, karena mereka adalah mahasiswa kelas khusus dari SoE, NTT, dan baru tinggal di Salatiga selama kira-kira 2-3 bulan, dan mereka tidak cukup tahu apa yang dilakukan, siapa yang harus dihubungi, dan kemana harus membawa teman mereka yang sakit ini. Saya? Sedikit panik, tapi saya kebetulan tahu bahwa poliklinik kampus kami (yang letaknya tidak di dalam kampus, tapi sekitar 0,5 km dari kampus) mempunyai ambulan. Jadi yang terpikir oleh saya adalah, saya akan meminta laboran lab atau petugas perpustakaan untuk menelpon poliklinik, supaya mereka mengirimkan ambulans ke gedung perpustakaan di mana lab komputer berada.

Jadi itulah yang saya lakukan: meminta petugas perpustakaan untuk menelpon poliklinik. Dengan hati agak tenang saya kembali menemani mahasiswa saya, sambil menyuruh beberapa mahasiswa yang lain untuk pergi ke kafe (yang cuma berada di seberang perpustakaan) dan membelikan teh hangat untuk si sakit.

Tunggu punya tunggu, kok lama ya ambulans tidak datang-datang? Sudah 15 menit dan si sakit masih terkulai begitu. Ternyata setelah menanyai si petugas perpustakaan, ternyata dia tidak bisa langsung menelpon poliklinik. Sistem telepon di kampus kami menggunakan operator, dan jam 12 siang dua operator kampus istirahat siang! Jadi tak mungkin meminta mereka untuk menghubungkan telpon ke poliklinik karena dua operator tersebut keluar makan dan tak ada yang menjaga switchboard telepon! Astaga! Bagaimana kalau mahasiswa saya ternyata terkena serangan jantung dan membutuhkan pertolongan medis segera?

Untungnya (saya masih orang Jawa, jadi semua kejadian yang terburuk sekali pun masih ada sisi ‘untungnya’), si petugas perpustakaan ini punya insting inisiatif yang tinggi. Dia menelpon Direktur Perpustakaan langsung, menyampaikan situasinya, dan Ibu Direktur Perpustakaan langsung memerintahkan anak buahnya yang lain untuk menghubungi orang lain lagi (entah siapa) yang mempunyai mobil dan bisa menyopiri ke poliklinik.

Lima menit kemudian mobil datang, seorang mahasiswa yang berbadan perkasa membopong si sakit ke lantai satu (dari lantai empat memang ada lift ke lantai dua, tapi dari lantai dua harus pakai tangga ke lantai satu. Duh!), memasukkan si sakit ke mobil, dan saya meminta 2 mahasiswa untuk menemani si sakit ke poliklinik.

Happy Ending J

Untung, saya tahu poliklinik dan tahu siapa petugas perpustakaan yang bisa dipercaya menelpon poliklinik.

Untung petugas perpustakaan itu punya inisiatif menelpon Direktur perpustakaan ketika operator telpon tidak ada untuk menghubungkan telponnya ke poliklinik.

Untung Direktur Perpustakaan punya jaringan (dan kekuasaan) untuk mendapatkan mobil beserta sopirnya dalam waktu cepat.

Untung mahasiswa tadi sakitnya tidak parah, antara hidup dan mati, sehingga menunggu 15-20 menit dia masih hidup!

Untung! Untung! Untung! Untung!

Cara pandang yang sangat Jawa sekali (seperti saya bilang tadi): di setiap situasi yang terburuk sekali pun, selalu ada sisi positif yang bisa disyukuri. Suatu cara pandang yang menurut saya bagus (karena membuat manusia menjadi selalu positif dan bisa menerima dengan tabah segala jenis kemalangan yang terjadi), tapi cara pandang macam ini membuat orang jadi tidak mau berusaha, pasrah saja, tanpa melakukan apa-apa. Pokoknya semua diserahkan kehendak Tuhan. Tuhan itu selalu baik dan menyediakan situasi-situasi penyelamat.

Itu kalau Tuhan lagi nggak sibuk ngurusi bermilyar-milyar penduduk dunia, kalau sedang sibuk, gimana?

Omong punya omong dengan Direktur Perpustakaan sesudahnya, ternyata kejadian macam yang saya alami cukup sering terjadi di perpustakaan. Coba kalau Tuhan sedang sibuk dan seseorang tidak tahu siapa yang harus dimintai tolong, tidak punya jaringan dan kekuasaan untuk mencari bantuan, terus bagaimana coba?

Saya menyampaikan pada Ibu Direktur Perpustakaan dan pernah juga di hadapan rapat staf di Fakultas saya, bahwa kita memerlukan suatu prosedur pertolongan pertama pada situasi darurat: siapa yang harus dihubungi, apa yang harus dilakukan, kemana harus mencari pertolongan, dan sebagainya. Di Amerika Serikat misalnya, sudah menjadi standar bahwa anak-anak sekolah diberitahu mengenai nomor bantuan darurat 911 dan pada waktu-waktu tertentu dilatih untuk menghadapi keadaan darurat misalnya kebakaran, gempa. Ketika bekerja di sebuah hotel yang merupakan bagian dari franchise hotel internasional di Papua dulu, di minggu pertama saya bekerja, saya dan beberapa rekan kerja yang baru masuk diwajibkan mengikuti pelatihan prosedur situasi darurat yang meliputi pelatihan prosedur CPR ( cardiopulmonary resuscitation), memadamkan api, dan apa yang harus dilakukan, kemana harus menyelamatkan diri, dan bagaimana cara menyelamatkan diri di situasi darurat.

Ibu Direktur mengamini apa yang saya sampaikan: suatu prosedur pertolongan pertama pada situasi darurat memang harus dibuat dan dipahami dan dilatihkan pada semua pegawai, dosen dan mahasiswa. Moga-moga Beliau memikirkan hal tersebut dan menerapkannya di perpustakaan. Jangan seperti bos saya dulu di Fakultas saya yang dengan santainya menanggapi usulan saya ‘kita serahkan semuanya di tangan Tuhan..’

Sibuk betul jadi Tuhan J

*Moga-moga ada salah satu pimpinan universitas saya yang membaca keluhan saya ini, dan kemudian membuat sistem pertolongan pertama pada situasi darurat….*

Advertisements

One comment

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s