Disikat?

Suatu malam di rumah keluarga Priyanto:

Ibu (=saya) : Jalu, gara-gara kamu masukin disket, komputernya jadi kena virus!
Jalu : Apa? Masukin disikat?
Ayah : Dasar kuping!!!!

Dan saya pun terbahak-bahak 😀

Ya bukan salah Jalu kalau dia tidak tahu disket, wong di jaman dia sekarang ini yang namanya “disket” alias “floppy diskette” sudah hampir-hampir tidak dipakai saking kalah popular dengan usb disk. Jelas saja, wong yang namanya disket itu bentuknya besar dan kapasitas penyimpanannya cuma 1.4 Mb. Bandingkan dengan floppy disk yang bentuknya lebih imut dan kapasitasnya bisa sampai 2 Gb.

disket tipis vs. disket

Gambar dari sini

Generasi saya, sebagai generasi pertama pengguna PC alias Personal Computer di Indonesia, tentu masih ingat ‘kakaknya’ floppy diskette. Floppy diskette juga namanya, tapi bentuknya tipis dan lebih lebar (sekitar 15×15 cm). Gampang sekali tertekuk dan tentu saja lebih rentan. Kapasitas penyimpanannya jelas lebih kecil. Kalau tidak salah, bisa menyimpan sampai 360 kb, pokoknya jauh di bawah ‘adiknya’.

Saya masih ingat pertama kali belajar komputer di SMA tahun 1991 (segalanya masih pakai DOS, sodara-sodara) dan membawa-bawa disket tipis itu di dalam wadah disket dari plastik tebal supaya tidak mudah patah. Entah berapa banyak disket tipis yang saya punya, yang jelas saya cuma punya 10-an disket tipis. Pasalnya, saya tidak punya komputer pribadi karena komputer masih barang mewah jaman itu. Saya cuma memakai komputer di sekolah pas SMA (karena ada pelajaran komputer) dan sampai ketika saya kuliah tahun-tahun pertama. Selebihnya, saya masih memakai mesin ketik manual ‘tak-tik-tuk’ untuk tugas-tugas kuliah saya. Itu pun sudah hebat, karena orang tua saya mampu membelikan mesin ketik manual bekas seharga 150 ribu yang notabene 1/5 dari gaji bulanan ayah saya.

Baru ketika saya mulai menulis skripsi (1997) dan ikut program S2 Studi Pembangunan di tahun 1998 (yang tidak tuntas saya ikuti), saya mulai memakai adiknya disket tipis alias ‘disikat’ yang tadi dibilang Jalu 😀 Jadi dalam masa 6 tahun, baru muncul generasi baru media penyimpanan. Jumlah yang saya punya sekitar 20-an. Tapi paper yang saya tulis jauh lebih banyak dan semua diketik sebagai file, jadi 20-an adalah jumlah yang sudah cukup memadai.

Di Amerika tahun 2003, waktu pertama ikut kelas CALL, saya mengenal jenis media penyimpanan yang lain: zip disk. Kapasitas penyimpanannya 100 Mb dan bentuknya hampir mirip dengan floppy disk, cuma lebih tebal dan sekitar 1-2 cm lebih lebar.

ini yg namanya zip disk

gambar dari sini

Waktu itu di Amerika pun, barang ini masih langka. Saya masih ingat bahwa tiap kali mengerjakan tugas, saya harus ke komputer lab di kampus karena laptop saya tidak punya zip drive. Floppy disk? Masih popular juga, cuma karena dosen saya mengharuskan kami mahasiswanya untuk mempunyai zip disk, ya saya cuma punya satu saja. Selebihnya, saya mengandalkan email server dan hardisk laptop saya untuk menyimpan file. Jadi, butuh waktu sekitar 6 tahun buat saya mengenal media penyimpanan baru dari floppy disk ke zip disk.

Tahun kedua saya di Amerika, yang namanya usb disk mulai terkenal. Waktu itu kapasitas penyimpanannya masih 256 Mb atau 512 Mb. Dan harganya cukup fantastis: USD 40-60! Tapi karena besarnya kapasitas penyimpanan dan kepraktisannya, saya pun membeli dua biji. Sangat cukup untuk data-data saya yang memang mulai berjibun. Jadi cuma butuh 1 tahun buat saya memakai media penyimpanan baru.

Kalau saya cerita pada Jalu bahwa di suatu masa, sekitar 18 tahun yang lalu, ada ‘disikat’ yang bentuknya tipis sekali pasti dia tidak bisa membayangkan. Bahkan disket yang dia masukkan ke komputernya itu adalah disket-disket saya semasa S2 Studi Pembangunan. Dia pasti penuh rasa ingin tahu, mencoba-coba hipotesa bahwa ini adalah media penyimpanan dan mencoba membuka disket itu di komputernya. Dari mana dia tahu bahwa yang dia masukkan adalah sebuah media penyimpanan, saya punya teori. Sepupunya, yang sekarang SMA kelas 10, masih memakai disket karena komputer dia masih Pentium II, dan beberapa kali meminta tolong kami untuk memindah file dari usb disk atau cd ke floppy disk. Berarti media penyimpanan jenis ini masih ada yang memakai meski tak banyak, karena di Indonesia ini masih banyak beredar komputer jenis lama yang biasanya masih dilengkapi dengan floppy disk drive.

Moral cerita saya ini adalah begitu cepatnya tehnologi bergerak. Lompatan disket tipis ke floppy disk butuh sekitar 6 tahun. Lompatan floppy disk ke zip disk sekitar 6 tahun juga. Sementara lompatan dari zip disk ke usb disk cuma butuh 1 tahun! Satu tahun, sodara-sodara. Sekarang tampaknya yang namanya usb disk sudah jadi barang biasa, bahkan dengan kapasitas sampai 2 Gb. Dan harganya? Saya punya satu usb disk kapasitas 1 Gb yang saya beli dengan harga cukup 60 ribu saja. Bandingkan ketika saya membeli usb disk pertama saya berkapasitas 256 Mb seharga USD 50 (hampir 500 ribu)

Makanya jangan salahkan Jalu dan generasinya kalau tidak mengenal “disikat” tipis. Dan jangan salahkan kalau mereka terheran-heran mendengar kapasitas disket tipis yang luar biasa kecil, cuman 360 kb. Mana cukup untuk menyimpan MP3 yang sekarang jadi file lazim di kalangan anak muda.

Hmmm, ternyata saya sudah tua juga ya. Tapi kan kayak kelapa: makin tua, makin bersantan. Alias, saya tetap mengikuti perkembangan tehnologi dan nggak mau kalah untuk tahu banyak hal soal tehnologi. Siapa bilang orang tua tidak gaul, heheheheheh…

Advertisements

3 comments

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s