Pilkada dan keuntungan

Coba tebak, siapa yang paling diuntungkan dengan proses pemilihan ketua pemerintah daerah, baik itu pemilihan gubernur, walikota, bupati, atau kepala desa?

Jawab saya sederhana saja: tukang bikin spanduk, baliho dan tetek bengek promosi lainnya.

Lha iya kan? Coba Anda tengok di sepanjang jalan, sudut kota, perempatan, pohon-pohon, pokoknya di tempat-tempat yang strategis untuk memajang materi promosi para calon ketua pemerintah daerah itu. Pasti yang Anda temui adalah tampang-tampang para calon gubernur, walikota, bupati, atau kepala desa. Ditambah dengan segala rayuan, bujukan, slogan untuk memilih mereka. Belum lagi spanduk, baliho, umbul-umbul dari partai-partai pendukung calon tertentu.

Coba saja Anda hitung, berapa dana yang dihabiskan untuk membuat materi promosi itu. Kalau untuk membuat sebuah spanduk adalah x rupiah, kalikan dengan jumlah calon. Kalikan berapa banyak kelokan, perempatan, pohon yang harus ditempeli atau dipasangi materi promosi itu. Kali berapa partai yang mendukung calon itu. Huaduh, bisa-bisa nilai dana yang dikeluarkan bisa xxxxxxxxxxxxxxx. Mungkin cukup untuk membayar uang sekolah siswa TK, SD, SMP, SMU se-Salatiga selama sebulan! Atau untuk membeli rumah mewah lengkap dengan perabotnya.

Saya jadi berpikir, kalau misalnya seorang calon tidak terpilih, bagaimana ya, mempertanggungjawabkan dana pembuatan spanduk itu kepada para ‘sponsor’? Kalau pakai itung-itungan dagang, dana promosi itu kan sama sekali tidak mendatangkan keuntungan balik alias ‘No Return of Interests’. Tapi mungkin ya para sponsor itu kaya sekaya-kayanya, sehingga dana promosi itu cuman seupil dari kekayaan yang dimilikinya.

Mending dana itu buat saya aja deh, kayaknya saya butuh membangun sistem Internet di Indonesia, supaya bisa murah meriah dan terjangkau semua kalangan, kayak di negara-negara tetangga itu lho…

Advertisements

7 comments

  1. Pilkada itu memang merupakan lumbung padi bagi para pedagang.
    Tapi tak hanya pedagang yang kebagian untung, rakyat kecil yang tinggal di desa juga kebagian lho.
    Bu Neny tau kan kalo para calon tuch sok promosi kebaikan di desa2. Ya kaya’ kasi sumbangan sembako ato apalah itu namanya.

    Saya ini juga heran, kenapa para calon suka menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang sia-sia?
    Mending kampanye seadanya aja, gak usah ngoyo2 banget.
    Yg penting kan rakyat tau siapa mereka sebenernya dan tau visi misi mereka.

    Mungkin itu salah satu penyebab knp mereka kl udah duduk di kursi pemerintahan pade demen korupsi. Ya namanya juga buth dana supaya balik modal.
    Andaikan saja mereka gak kampanye gede2an dgn budget bombastis, pasti mereka kelak gak berfikir gmn cara gue balik modal.

    Ya mungkin itu yang namanya istilah “Semua kejadian pasti ada hikmahnya”.
    Jadi dlm proses/ mejelang pilkada, pasti ada pihak yang merasa dirugikan dan mendapat keuntungan.

    Like

  2. o…..jadi selama ini wajah2 berukuran besar di pinggir jalan itu wajah para calon gurbernur, bupati, walikota dan sejenis nya to…..pantesan selama perjalanan “nglaju” saya dari semarang-salatiga-semarang, saya selalu penasaran…..”bintang sinetron siapa ya bapak berkumis ini?Sinetron nya kok g pernah tayang…..”

    hehehhe…..just kidding 😛

    Like

  3. Satu pasangan cal-gub yang populer tu BIBIT-RUSTI.
    Katanya, waktu temen saya lewat en baca tu baner merah-merah, dengan tulisan BIBIT-RUSTI besar-besar, spontang langsung tanya, “Bibit taneman jenis apa lagi itu? Emang Anthurium dan sebangsanya sudah diganti Bibit Rusti ya sekarang?’

    BTW, setahu saya, karena sudah pengalaman cetak banner, spanduk dll untuk keperluan promosi di gereja (ikut panitia), harga banner yang kualitas paling bagus Rp. 45,000 per m2, sementara yang normal itu Rp. 30,000 per m2. Kalau yang biasa (bukan outdoor printing) yang dari bahan kain juga paling cuma Rp. 10,000 – 15,000 per m2. So, coba hitung sepanjang jalan Semarang-Salatiga ada berapa spanduk, en kalikan cost-nya itu. Saya dukung bu’ kalau mau improve internet quality di Indonesia, daripada buat majang foto cal-gub yang pamer senyum palsu…

    Like

  4. @ Daniel — Wah, nilai matematika saya jaman dahulu kala agak2 ‘ajaib’. Udah, mentahnya aja berapa, Dan? *ketauan males ngitungnya*

    @ AAH_H 112 NI — kasih sumbangan aja ke saya, klo sembako kayaknya saya masih butuh 😛 Bener banget dirimu, nak, itulah endonesaaaaa….

    @Fanny — ‘sinetron’nya tayang tanggal 22 Juni, Fan, ikutan yukkkkk. Saya sih bakal di SoE jadi golput sazalah 😀

    Like

  5. Non.. eh Nen..
    tahukah bahwa ada calon wagub yang minta ‘uang gaib’ dari sebuah makam, untuk membiayai kampanyenya….
    ini cerita nyata, tapi pembuktiannya sulit…makamnya ada, jurukuncinya ada, saksi mata ada…,
    tapi mana ada yang percaya “cerita seru” seperti itu…

    waktu dengar cerita itu dari ‘saksi mata’ saya cuma pikir… oh.. gitu tho… makanya milyaran rupiah dikucurkan untuk kampanye, lha modalnya cuma kembang dan kemenyan serta mantra-mantra di makam keramat….

    (besok kalau saya sudah sempat, aku ambil foto makamnya…, kapan-kapan saya akan buktikan bahwa makam itu memang benar-benar ada lihat saja di blog.ku pwijayanto.net besok ya kapan-kapan , tidak sekarang…)

    Sudah dengar, setelah pilgub jateng, di salatiga ada ‘pemilihan’ Wakil Walikota?
    saya dengar sayup-sayup, itu juga pakai “uang pelicin” biar lolos jadi Wawali — tapi ini isu saja lho.., jangan dimasukin ati…

    Like

  6. @pwijayanto
    Nah, itu yang namanya ‘perkawinan’ antara klenik dan politik. Serius tuh? Posting ya di blogmu. Klo Salatiga mau memilih wawali, nyalon saja, Mas, siapa tau terpilih, tapi promosi dan kampanyenya lewat blog saja, biar gak usah ngabisin duit buat spanduk 😛

    Like

  7. wawali? hah.. mimpi kali…
    nih mau jadi caleg dulu.. dari Partai Pemuda Indonesia, ayo Nen…. carikan teman-teman untuk ndukung aku, khususnya di Kecamatan Sidorejo,
    aku mau kampanye via blog saja, di http://ppi.salatiga.biz
    spanduknya menyusul, nih lagi cari sponsor buat bikin spanduk… tapi nanti kalau susunan calegnya sudah lengkap saja…
    atau kamu mau jadi caleg juga, atau punya teman yang mau nyaleg? kami masih butuh beberapa orang….

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s