Duit itu penting…

Setuju?

Semestinya banyak orang yang akan setuju dengan judul saya di atas. Duit itu penting. Secara kita semua masih butuh duit untuk hidup. Nggak peduli Anda lajang, menikah, muda, tua, pintar, sedikit tidak pintar, pasti semua orang butuh uang untuk hidup.


Cara mencari uang bisa macam-macam. Yang halal, dan yang tidak halal. Saya rasa semua orang sudah diberi talenta dan kemampuan untuk mendapatkan uang. Plus sedikit bantuan dari yang Di Atas dalam bentuk ‘jatah’ alias rejeki masing-masing. Saya termasuk orang yang percaya adanya pembagian yang adil, tepat guna dan tepat waktu dari Tuhan. Kalau belum rejeki, biar dikejar sampai mati nggak akan dapat. Dan dalam beberapa pengalaman hidup, saya mendapati bahwa ‘Gusti Allah kuwi ora sare’ (Jawa: Tuhan itu tidak tidur). Setiap kali kepepet lagi butuh dana untuk berbagai kebutuhan, eh, ndilalah kok saya mendapat rejeki lewat beberapa pekerjaan sampingan yang bermuara didapatnya segepok imbalan.

Nah, imbalan ini saya yang mau bahas, secara beberapa hari yang lalu saya sedikit ‘kecewa’ dengan imbalan yang saya dapat dari ‘jual omongan’ di suatu tempat. Alih-alih dapat rejeki lebih untuk ‘menyambung hidup’ (taela…), saya cuma dapat pengganti uang transpor dan makan. Ada sih sedikit lebihannya, tapi sangat minim dan sudah habis untuk membeli oleh-oleh buat orang rumah dan beli ini itu di sepanjang jalan. Mestinya sih, menurut pengalaman saya lagi, yang namanya uang jalan (atau kadang disebut ‘per diem‘ dari kata Latin yang terjemahan Inggris bebasnya adalah ‘per day’ alias uang kebutuhan harian) itu beda dari imbalan untuk jasa yang kita berikan. Jadi yang namanya biaya transpor, makan, tempat menginap, mestinya dibedakan posnya dengan uang jasa pekerjaan yang saya bikin.

Tapi mungkin pengalaman saya masih cekak, atau pendapat saya cuma sekedar teori. Buktinya, ya itu tadi, uang ‘imbalan’ habis untuk transpor dan makan, dan saya pulang gigit jari. Sebel? Agak-agak, soalnya saya sudah bermimpi untuk bisa membayar ini itu dengan duit itu.

Sebel tinggallah sebel. Saya ternyata masih ‘Jawa’ dan merasa sungkan untuk menagih ke pihak pengundang. Rasanya ‘saru’ kalau minta terang-terangan. Orang Jawa itu sangat sensitif masalah duit. Dikasih alhamdulilah, nggak dikasih ya apa boleh buat. Belum lagi saya memang pernah dibayari lembaga ini untuk kepergian saya ke sebuah seminar internasional, dan jumlahnya tidak main-main! Plus ada klausul kontrak bahwa saya boleh mendapatkan dana perjalanan seminar itu kalau saya setuju membantu beberapa proyek mereka. Jadi bukan salah mereka dong kalau saya cuma dapat imbalan ala kadarnya.

Jadi ternyata, saya jelas peduli dengan duit. Lha wong duit itu penting je. Belum lagi saya merasa, yang saya kerjakan itu butuh tingkat kepakaran tertentu dan saya mendapatkan dan membangun kepakaran itu tidak dengan cuma-cuma. Butuh belajar beberapa tahun, butuh presentasi internasional beberapa kali, butuh menulis artikel di jurnal ilmiah beberapa biji. Wajar dong, kalau saya menginginkan imbalan yang pantas untuk jasa saya.

Tapi, apa yang namanya imbalan itu selalu dalam bentuk uang? Apa tidak mungkin dalam bentuk lain?

Pikir punya pikir, alternatif imbalan apa yang saya dapat kemarin itu? Inilah mungkin daftar imbalan ‘pengayem-ayem ati‘ 🙂

Secara narsis: menambah popularitas akademis dan gengsi pribadi (secara ngomong di hadapan para akademisi dengan meyakinkan gitu lohhhh)

Secara jejaring kerja (network): menambah rekan sejawat baru (dan siapa tahu membuka kesempatan kerjasama riset atau lainnya)

Secara karir: ada deh…(sori, bukannya sok seleb menjaga rahasia, tapi nggak etis juga dong dibuka di forum publikasi macam ini)

Secara pekerjaan sampingan: menambah kemungkinan ‘jualan omong’ lagi di forum yang lain melalui para pendengar saya di forum yang lalu itu (ujung-ujungnya, insya Allah, kalau rejeki, pasti dapat segepok dua gepok duit)

Lah, jadi UUD lagi dong alias Ujung-Ujungnya Duit? Iyalah. Walaupun saya agak-agak puas dengan imbalan dalam bentuk lain di atas (menurut saya itu rejeki dari Yang Di Atas dan Beliau Maha Tahu dengan apa yang saya butuhkan saat ini), saya tetaplah manusia biasa yang menganggap…..

Duit itu penting!

Advertisements

5 comments

  1. Setahu saya sih orang yang mau menerima uang ‘alakadarnya’ di hari ini tapi mau usaha, akan sukses besar di kemudian hari. Semoga mbak Neny kayak gitu 😀

    Soalnya saya klo uda denger imbalan dari kerjaan yg saya lakuin itu kecil, uda males deh. Itu tanda2 orang yg gak bakal sukses besar di masa depan tuh mbak 🙂

    Kesimpulannya : Lebih baik dikit daripada gak ada sama sekali 😛

    Like

  2. @gagahput3ra
    yah, mudah-mudahan saya terus dapet walopun dikit kan…klo gak dpt kan berabe juga hehehe…mudah-mudahan Anda juga jadi sukses dengan duit yg banyak hehehehe…

    @vendy
    sayangnya saya gak punya credit card..jadi gimana dong? 😛

    Like

  3. Waduh, terima kasih Mba Neny,atas info&komennya..
    kl saya pribadi sih berharap mendingan jangan sampe deh ada definisi baru lagi mengenai kata “secara”ini he2 cukup yg mnrt KBBI yg sekarang aja.

    kl masalah perkembangan B.Indonesia, setju banget opininya Bhs kita emang blm mapan&sejajar dengan bahasa lainnya di dunia,msh bnyk yg hrs disempurnakan lagi serta akan terus berkmbng smp dirasa mantap,tp kynya msh perlu banyak waktu entah sampai kapan n_n

    Oh,ya kl blog saya yg di Blogspot sbnrnya udh ga aktif lage,semuanya itu “cross postingan” dr blog utama saya di tempat yang lain. Anyway,blognya banyak juga mba he2..
    mohon maaf sebelumnya apabila ada yang kurang berkenan & slm kenal yah,
    Tfs n_n
    -Dudee-

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s