Kriteria sukses?

Yah, yah, saya akui memang hidup saya secara karir lagi asyik-asyiknya. Ada banyak proyek, banyak perjalanan seminar di sana sini, banyak apresiasi. Ada salah satu teman yang bilang, ‘Enak ya jadi dosen, jalan-jalan terus dan dibayari pula!’. Saya beruntung punya mahasiswa yang manis-manis, yang mau kerja keras walaupun dosennya ini suka ngasih tugas yang nggak kira-kira.

Soal keluarga, saya bahagia punya suami yang sungguh mendukung (meski saya tahu, dia sering jengkel karena kesibukan saya, kemalasan saya, dan betapa proscrastinator-nya saya) dan anak yang lebih seleb dari ibunya saking lucu dan menggemaskannya dia 😀

Dan sebuah perjalanan ke masa lalu (gimana ya, menerjemahkan ‘memory lane’?) membuat saya semakin mensyukuri banyaknya rejeki di atas. Gini ceritanya:


Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan nomor telpon seorang sahabat satu gang masa SMA dari seorang teman yang lain. Sudah lama saya dan sahabat satu gang (termasuk ibu ini) mencari-cari kabar berita tentang si jeng(sebut saja begitu). Di antara lima sahabat dalam gang kami, dia satu-satunya yang selulus SMA pergi dari kota kecil kami Salatiga dan kuliah di kota lain. Dan setelah lama kemudian, kami dengar dia berpindah-pindah kuliah dan akhirnya kembali ke Salatiga, lalu mengajar di kursus-kursus komputer. Lalu kabarnya hilang, entah kemana. Agak aneh sebenarnya, karena saya dan dia dan dua sahabat yang lain sama-sama tinggal di Salatiga. Logikanya, di kota Salatiga yang sebegitu kecil, harusnya kami tak kehilangan jejak si jeng.

Dia tampaknya sengaja menghilang…

Ya, dia memang sengaja menghilang. Begitu hasil pembicaraan saya dengan dia ketika saya akhirnya mendapatkan nomor telponnya beberapa hari yang lalu. Menurutnya, dia merasa rendah diri dengan sahabat-sahabat satu gang, karena dia tidak meneruskan kuliahnya dan tidak ‘sesukses’ sahabat yang lain.

Haduh! Rendah diri!

Memang dulu di kalangan gang kami dia yang paling menonjol, karena dia yang paling populer, mapan secara finansial, dan pintar pula. Tapi kini, menurutnya, dia yang paling tidak ‘sukses’.

Saya jadi ingat, ibu ini (yang teman segang saya yang sukses jadi manajer HRD di Bali), pernah menulis tentang saya yang rendah diri menghadapi bekas teman SMA karena dulu si teman ini ‘the jock of the school’ dan saya dulunya pas SMA cuma kacang-kacang. Jadi saya bisa mengerti apa yang dirasakan si sahabat ini.

Tapi apa sih, kriteria sukses itu?

Punya kemapanan finansial? Populer di kalangan sosial? Punya kedudukan tinggi di kantor?

Saya malah kagum dengan si jeng karena, dari hasil omong-omong, dia punya idealisme tinggi untuk memajukan perpustakaan tempat dia bekerja sekarang. Saya kagum dengan ibu ini, karena dia sangat ‘down to earth’ dan punya pemikiran kritis, walaupun kedudukannya di kantor sangat ‘wow’ menurut saya. Saya juga mengagumi sahabat segang yang lain yang berani mendirikan usaha dengan suami meskipun keduanya berpendidikan S2 dan pasti gampang diterima kerja di mana-mana. Belum lagi sahabat segang yang satu lagi yang memilih kembali ke Salatiga dan bekerja untuk memajukan sebuah supermarket kecil ketimbang tetap bekerja di jaringan supermarket besar.

Saya kagum pada orang-orang yang punya pemikiran dan idealisme untuk bekerja di suatu tempat karena menyadari bahwa situasi dan kondisi tempat itu masih kurang dan perlu ditingkatkan. Orang-orang yang mau menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk memperbaiki keadaan. Alih-alih mencari segala pembenaran untuk melarikan diri, orang-orang ini berpikir dan bertindak untuk meningkatkan yang kurang menjadi lebih baik.

Dan untuk itu, saya salut setinggi-tingginya kepada sahabat-sahabat saya segang. You guys are awesome!

PS: Jadi inget pertanyaan suami saya, ‘Kamu udah bikin apa dengan kemampuan kamu?’ Touche! 😦 Berarti saya belum sukses…

Advertisements

6 comments

  1. Nana: heheheh, dari jaman kuliah sampe sekarang, yg namanya dewi keributan tak pernah tidak bikin ribut! Tapi menurut Yudi, keributan tidak masuk hitungan sebagai sukses!

    Nita: salam kenal juga mbak Nita! Sesama Iowans nih kita 😛

    Like

  2. 11 Cara Merawat Kesehatan Jiwa
    Oleh : Dede Farhan Aulawi

    Sahabat…
    …mungkin saya tak sempat berbagi makanan denganmu
    tapi izinkan ku berbagi pengetahuan untuk kita
    Pada kesempatan ini saya hanya ingin menyampaikan 11 Cara Hidup Sehat,
    berdasarkan pengalaman, yaitu :

    1. Makanan dan minuman yang paling sehat, bukanlah makanan dan minuman
    yang mahal dan enak, tetapi makanan yang bisa berbagi dengan mereka yang
    tak punya, yang terdiam dalam lapar, dan dahaga dalam haus.

    2. Make up terbaik bukanlah make up mahal dari salon ternama, tapi make up
    yang bisa membuat kita tersenyum tulus pada sesama

    3. Tugas terberat bukanlah tugas lembur sampai pagi dan mempertaruhkan
    nyawa, tapi belajar dan belajar untuk mengendalikan nafsu yang dimiliki,
    terlebih manakala kita dimarahi dan di-dzolimi tanpa sebab yang jelas

    4. Pakaian yang menarik bukanlah pakaian yang bermerk terkenal, tapi
    pakaian yang bisa kita berikan pada mereka yang menggigil kedinginan, dan
    penuh keterbatasan

    5. Sepatu terbaik bukanlah sepatu dari negara maju, tapi sepatu yg bisa
    menjadi alas kaki bagi kaum papa tak berdaya, bagi anak – anak miskin yang
    ingin sekolah, bagi mereka yang kepanasan karena aspal jalanan

    6. Rumah terbagus bukanlah rumah mewah dan megah, tapi rumah yang
    senantiasa dihiasi oleh kalimah – kalimah thoyibah, serta menjadi
    pelindung bagi kaum miskin dan yatim yang sangat membutuhkan tempat tuk
    berteduh

    7. Kendaraan terbaik bukan kendaraan keluaran terbaru, tapi kendaraan yang
    senantiasa mendekatkan kita tuk berbuat kebaikan, kendaraan yang bisa
    mengantarkan kita ke tempat – tempat ibadah menuju ridlo-Nya

    8. Kepandaian yang terbaik bukanlah pengetahuan luas tanpa batas, tapi
    pengetahuan yang bisa dibagi untuk mereka yang memerlukannya, dan bisa
    memberi secercah harapan dalam meraih masa depan yang mereka impikan

    9. Wajah yang tercantik/ tampan bukanlah wajah putih mulus tanpa jerawat,
    tetapi wajah yang senantiasa berhiaskan air mata tobat manakala berbuat
    salah, dan wajah – wajah ikhlas dalam menerima segala ketentuan-Nya

    10. Bibir terindah bukanlah bibir merah bak buah delima yang merekah, tapi
    bibir yang senantiasa basah menyebut asma-Nya, meng-agungkan
    kebesaran-Nya, dan bibir yang senantiasa menghindarkan diri dari dusta dan
    menyakitkan orang lain

    11. Mata yang paling menarik bukanlah mata hitam, hijau atau biru, tetapi
    mata yang senantiasa tersentuh ketika melihat penderitaan dan kesulitan
    orang lain, dan segera berbuat sesuai kemampuan yang dimiliki.

    Sahabat…
    Itulah sedikit kilasan ilmu kejiwaan yang bisa saya sampaikan
    Semoga bisa memberi manfaat yang bisa direnungkan
    Sekaligus menjadi renungan yang bermanfaat. Amin
    Tak lupa saya sampaikan maaf…bila ada tulisan yang tak berkenan

    Bandung, 25 Februari 2008
    Kang De / 0813-2020-9550

    Like

  3. @Adhi
    huhehehe, dia emang kritikus terbesarku tapi ya dia yg paling ngerti istrinya sampe luar dalem hehehe…

    @Kang De
    Makasih ilmunya…semoga kita semua bisa mengamalkannya…amin…

    Like

Share your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s